Ekonomi dan Bisnis

Dokumentasi Tenun Endek Sidemen Rampung, Ikhtiar Merawat Warisan yang Nyaris Punah


Karangasem, PancarPOS | Di Desa Sidemen, ada suara yang sudah ratusan tahun menemani kehidupan warganya: derit Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), saat benang demi benang disusun menjadi motif Tenun Endek. Belakangan ini, suara itu makin jarang terdengar. Dalam satu dekade terakhir, jumlah pengrajin aktif di sana menyusut dari sekitar 200 orang menjadi kurang dari 80 orang.

Kondisi inilah yang mendorong I Ketut Lanang Subakti, penggerak budaya kelahiran Sidemen, menggagas kegiatan “Dokumentasi Pelestarian Tenun Endek Sidemen sebagai Warisan Budaya Takbenda Bali”. Kegiatan ini berlangsung sejak pertengahan Juni hingga awal Juli 2026 dengan dukungan program Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali.

Lanang tidak sendiri. Ia didampingi I Gusti Agung D.M. yang menangani dokumentasi video dan foto selama kegiatan berlangsung.

Alasan pelaksanaan dokumentasi ini sederhana. Banyak motif Endek Sidemen yang memiliki nilai sejarah tinggi kini hanya tersimpan dalam ingatan para maestro tenun yang telah berusia lanjut. Jika tidak segera direkam, motif-motif tersebut dikhawatirkan akan hilang seiring berpulangnya para penenun senior.

Tim melakukan pendokumentasian di tiga desa yang selama ini menjadi sentra Tenun Endek, yakni Sidemen, Gelgel, dan Seraya. Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama kepala desa, tokoh masyarakat, serta para pengrajin senior, sekaligus menyiapkan kamera, drone, dan peralatan perekam suara.

Selanjutnya dilakukan pengambilan gambar, mulai dari proses pencelupan benang menggunakan pewarna alami maupun sintetis, proses menenun dengan ATBM, hingga penggunaan Tenun Endek dalam upacara adat dan persembahyangan masyarakat Bali. Drone juga diterbangkan untuk merekam kawasan sentra tenun dari udara, termasuk suasana pasar tempat para pengrajin menjual hasil tenunan mereka.

Tiga pengrajin senior menjadi narasumber utama dalam proses wawancara, yakni I Gusti Ngurah Suarba, maestro Tenun Endek Sidemen, Karangasem; I Nyoman Sudira, maestro Tenun Endek asal Gelgel, Klungkung; serta Ni Nengah Suntira, pengrajin pewarna alami dari Seraya. Selain itu, tim juga berbincang dengan sejumlah pengrajin muda mengenai sulitnya mencari regenerasi penenun serta harapan agar motif Endek terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

Seluruh rekaman kemudian melalui proses penyuntingan yang cukup panjang, mulai dari transkrip wawancara, pemilihan gambar terbaik, color grading, hingga penambahan narasi dan subtitle. Hasil akhirnya berupa sebuah film dokumenter yang dilengkapi galeri foto.

Bagi Lanang, dokumentasi ini bukan sekadar arsip yang disimpan lalu dilupakan. Ia berharap hasil kerja timnya dapat menjadi salah satu bukti pendukung ketika Tenun Endek Sidemen diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ia juga berharap dokumentasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai materi muatan lokal di sekolah-sekolah di Karangasem agar generasi muda mengenal warisan tenun leluhurnya sejak dini.

“Tenun Endek Sidemen adalah kebanggaan kami, warisan yang harus kami jaga, dan kekayaan yang wajib kami wariskan,” tulis Lanang dalam laporan pelaksanaan kegiatannya.

Ia menambahkan, hal yang tak kalah penting adalah regenerasi pengrajin. Selama belum ada program pembinaan yang berkelanjutan, jumlah penenun Endek Sidemen dikhawatirkan akan terus berkurang dari tahun ke tahun. tim/ama/ksm


Back to top button