Denpasar, PancarPOS | Hari Suci Nyepi, yang selama ini menjadi simbol hening, refleksi, dan harmoni semesta, kini didorong naik kelas sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia melalui UNESCO. Upaya ini mengemuka dalam rapat penting yang digelar pada Senin 27 April 2026 di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang mempertemukan para pemangku kepentingan lintas lembaga, akademisi, hingga tokoh adat dan keagamaan.
Rapat tersebut bukan sekadar forum diskusi biasa. Ia menjadi titik temu gagasan besar menjadikan Nyepi sebagai warisan global yang tidak hanya dimiliki Bali, tetapi juga relevan bagi masa depan dunia.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, S.Ag., M.Si., membuka rapat dengan penegasan bahwa pengusulan Nyepi ke UNESCO bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk tanggung jawab kolektif dalam menjaga warisan leluhur. Ia menekankan bahwa Nyepi adalah identitas Bali yang sarat nilai, bukan hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi peradaban global yang kini tengah mencari keseimbangan antara manusia dan alam. “Nyepi bukan hanya milik Bali. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah milik dunia,” tegasnya.
Ketua DPD Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali, dr. Sayoga, dalam pemaparannya membawa perspektif yang lebih luas. Ia mengajak seluruh pihak melihat Nyepi sebagai kearifan lokal yang berdampak global. Dalam konteks krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga krisis kemanusiaan, Nyepi hadir sebagai jawaban yang lahir dari tradisi.
“Ini bukan sekadar ritual keagamaan. Ini adalah sistem nilai yang mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbaiki hubungan dengan semesta,” ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Giri Prayoga dari Balai Pelestarian Kebudayaan Bali yang mengingatkan bahwa langkah menuju UNESCO membutuhkan satu hal penting yaitu kesepakatan kolektif. Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat Bali, pengusulan ini akan kehilangan fondasi sosialnya.
“Ini harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya program pemerintah,” katanya.
Sementara itu, Prof. Donder yang hadir sebagai penasihat Prajaniti Bali memberikan dimensi filosofis yang lebih dalam. Ia menyoroti Nyepi sebagai momentum kesadaran kosmis, di mana manusia diajak memahami keterhubungannya dengan alam semesta.
“Nyepi adalah bentuk healing untuk Bumi. Ini adalah saat di mana manusia berhenti mengeksploitasi dan mulai merasakan kembali keberadaan sebagai bagian dari alam,” ungkapnya.
Dari sisi kelembagaan keagamaan, Putu Wirata Dwikora yang mewakili Parisada Hindu Dharma Indonesia memastikan bahwa proses internal akan segera dilakukan. Ia menyampaikan bahwa usulan ini akan dibawa ke tingkat pengurus untuk dibahas melalui pesamuan dan selanjutnya dikaji oleh Sabha Pandita.
Langkah ini dinilai krusial karena legitimasi spiritual dan keagamaan menjadi salah satu pilar utama dalam pengusulan ke UNESCO.
Di sisi lain, Prof. Bandem memberikan arah yang lebih teknis dan strategis. Ia mengungkap bahwa pihak Kementerian Kebudayaan telah memberikan sinyal positif, namun tetap membutuhkan pemenuhan sejumlah indikator penting. Menurutnya, pengusulan Nyepi harus dilihat secara komprehensif, mencakup berbagai aspek mulai dari religius, spiritual, ekologis, hingga ekonomi kreatif.
“Semua aspek ini harus terdokumentasi dengan kuat. UNESCO tidak hanya melihat tradisi, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan manusia,” jelasnya.
Sebagai penutup pemaparan, Prof. Ida Ayu Tary Puspa mengingatkan bahwa secara nasional, Nyepi telah lebih dulu diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2023. Hal ini menjadi modal awal yang sangat penting dalam proses pengajuan ke tingkat internasional.
Namun, ia menegaskan bahwa perjalanan menuju pengakuan UNESCO bukanlah hal mudah. Dibutuhkan konsistensi, dokumentasi, serta narasi kuat yang mampu menjelaskan relevansi Nyepi bagi dunia.
Dalam dokumen resmi yang telah disampaikan oleh DPD Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali kepada Menteri Kebudayaan pada 25 Maret 2026, ditegaskan bahwa Nyepi memiliki makna filosofis yang mendalam yaitu mencapai keseimbangan spiritual dan harmoni kehidupan.
Pada hari Nyepi, umat Hindu menjalankan prinsip Tri Hita Karana yaitu tiga sumber kebahagiaan yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Konsep ini bukan sekadar ajaran normatif, tetapi telah terbukti secara nyata memberikan dampak positif, termasuk dalam menekan emisi, mengurangi polusi, hingga memberikan ruang pemulihan bagi lingkungan.
Fenomena Bali tanpa aktivitas selama Nyepi bahkan kerap menjadi sorotan dunia. Bandara tutup, jalanan sepi, aktivitas ekonomi berhenti, sebuah kondisi yang nyaris mustahil ditemukan di belahan dunia lain. Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Nyepi menjadi bukti bahwa manusia mampu berhenti, mengendalikan diri, dan memberi ruang bagi alam untuk bernapas.
“Nyepi is beyond religion and tradition,” demikian salah satu poin penting dalam dokumen tersebut. Nyepi telah melampaui batas agama dan tradisi, menjelma menjadi nilai universal yang dihormati masyarakat internasional.
Rapat tersebut juga dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Majelis Desa Adat, Majelis Kebudayaan Bali, hingga berbagai tokoh budaya lainnya. Seluruh peserta pada prinsipnya menyatakan dukungan penuh terhadap pengusulan Nyepi sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. ora/ksm






