Politik dan Sosial Budaya

Dukung Kolaborasi Subak Gaga dan Desa Adat Bindu, Made Urip Jadi Panutan dan Idola Petani Nusantara


Badung, PancarPOS | Usai membuka Bimtek Petani dan Penyuluh Angkatan V di Kabupaten Badung, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., juga sempat bertatap muka menyerap aspirasi krama Subak Gaga, Desa Mekar Bhuwana, Abiansemal, Badung, Senin (29/3/2021). Kehadiran M-U sapaan akrab Wakil Rakyat Sejuta Traktor itu, bersama Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung I Putu Alit Yandinata, SS., dan Kadis Pertanian Badung I Wayan Wijana, S.Sos., M.Si., disambut hangat oleh para petani dan krama subak beserta Bendesa Adat Bindu, I Gusti Nyoman Suastawa, SE., SH., Ak.CA., BKP., serta Pekaseh Subak Gaga, Drs. I Gusti Nyoman Sudira. Made Urip sengaja diundang khusus untuk membantu mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis pertanian. “Kita meminta dukungan dan arahan dari Pak Made Urip yang menjadi tokoh di sektor pertanian. Apalagi di Desa Adat Bindu sangat cocok mengembangkan varietas beras merah, seperti di Jatiluwuh, Tabanan, sehingga ingin diperkenalkan beras merahnya Badung dari Desa Bindu,” papar Pekaseh Subak Gaga, Gusti Nyoman Sudira.

1bl#ik-11/3/2021

Karena itu ia berharap bisa menjadikan areal pertanian subak Gaga sebagai pendukung yang handal di sektor pariwisata, sehingga subak harus dibangun untuk pelestarian alam dan lingkungan dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern yang harus dipadukan tanpa meninggalkan kearifan lokal. Selain itu, diharapkan Ketua DPP PDI Perjuangan tiga periode yang membidangi Pertanian dan Lingkungan Hidup ini, bisa memberi bantuan infrastuktur, baik berupa jalan usahan tani sepanjang 3 Km sebagai akses pendukung lancaran produksi pertanian, karena sangat berdekatan dengan daerah pariwisata Ubud. “Akses jalan ini akan mempermudah usaha pertanian mengangkut hasil produksi pertanian. Apalagi Subak Gaga juga akan mendukung program Desa Mekar Bhuwana dan Desa Adat Hindu. Untuk itu, kami sangat menginginkan uluran bantuan dari Pak Made Urip dan kita ucapkan terimakasih kepada Pak Made Urip sebagai panutan dan idola petani nusantara,” tegasnya.

1lb#ik-11/3/2021

Hal senada disampaikan Bendesa Adat Bindu Gusti Nyoman Suastawa sangat bersyukur bisa menghadirkan langsung sosok Anggota DPR RI yang terpilih lima periode dengan suara terbanyak ketujuh secara nasional. Apalagi Made urip kebetulan hadir ke Desa Adat Bindu, sehingga menyempatkan waktunya bertemu krama subak Gaga yang menjadi salah satu lumbung padinya masyarakat di Desa Adat Bindu. Terbukti dari kolaborasi desa adat dengan subak sejak dulu sehingga tidak butuh lagi kebutuhan pangan dari luar desa. “Selama ini kita sudah cukup dengan pangan organik hasil subak di Desa Adat Bindu, karena semuanya menggunakan pupuk organik untuk subak sekitar 40 hektar,” terangnya, seraya mengakui penguatan pangan di Desa Adat Bindu bertujuan agar masyarakat bisa mandiri di sektor pangan yang selalu disupport dari hasil produksi Subak Gaga, sehingga tidak akan membutuhkan pangan dari luar. Termasuk sampah juga sudah dikelola menjadi pupuk organik, sehingga lahan makin subur dan menjadi resapan air yang layak untuk pertanian,” imbuhnya.

1bl#bn-12/3/2021

Disamping itu, sektor agro wisata di Desa Adat Bindu dirancang sebagai resort mini yang akses jalannya tidak tembus atau buntu sebagai kawasan khusus green tourisms. Bahkan sudah dilengkapi jaringan wifi gratis untuk kebutuhan desa wisata dan kepentingan masyarakat setempat. Subak kawasan kecil ini juga menjadi inspirasi daerah lain, karena mampu menerapkan konsep kerjasama antara subak dengan desa adat. “Karena itulah kita tidak perlu lagi membeli pangan dari luar, karena semua kebutuhan pangan baik beras hingga sayuran sudah dipenuhi dari subak,” tandasnya. Di sisi lain, Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung, Wayan Alit Yandinata menegaskan desa wisata adat ini perlu diangkat karena bisa bekerjasama dengan krama subak. Konsep ini dibuat dari sampah dikelola jadi pupuk organik dibarengi dengan pariwisata yang berkontribusi dengan masyarakat dan krama subak. “Karena itu, yang tidak bisa dijangkau di luar itu, akan dibantu oleh Pak Made Urip sesuai dengan bidang tugasnya di tingkat pusat,” tambahnya.

1bl#ik-11/3/2021

Apalagi disebutkan, hanya sektor pariwisata yang berkembang di Badung sehingga konsep pariwisata agro harus dikembangkan untuk menyambung benang merah dengan sektor pertanian. “Jika konsepnya di Desa Bintu seperti itu, meskipun tidak bekerja di hotel namun pendapatan masyarakatnya akan menjadi sekelas hotel dan tidak perlu menjual carik atau lahan sawahnya lagi. Apalagi ada Pak Made Urip saya yakin seyakin-yakinnya, konsep pertanian ini bisa terus berkembang, karena program dan bantuan di sektor pertanian akan dialokasikan,” tutupnya. Sementara itu, Made Urip mengaku sangat bangga dengan konsep pertanian untuk memenuhi ketahanan pangan secara mandiri bekerjasama antara desa adat dengan subak. Apalagi potensinya sangat luar biasa dan ideal sebagai agro tourism dengan konsep pariwisata yang berbasis pertanian sesuai potensi subak. “Karena itu apa pun nantinya bisa diperjuangkan ke depan untuk membantu pengembangan subak. Meskipun akibat pandemi Covid-19 anggaran di sektor pertanian tidak bisa maksimal, sehingga aspirasi dan program pertanian bisa diusulkan tahun 2022 mendatang,” beber Made Urip.

1bl#ik-12/3/2021

Politisi senior asal Desa Tua, Marga, Tabanan itu, juga siap mendorong subak mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangannya dengan mengusulkan bantuan RMU atau pabrik penyosohan beras modern yang bisa dikelola oleh petani dan krama subak sebagai brand berasnya Desa Adat Bindu. Selain itu ada bantuan irigasi tersier bisa juga diperjuangkan, termasuk KWT bisa mendapat program Pekarangan Pangan Lestari atau P2L ataupun Bank Pesona yang hasilnya bisa menjadi pendapatan masyarakat desa. “Nanti saya akan ikut bantu dan dorong bantuan tersebut. Mudah-mudah komunikasi dan kerjasama ini dapat kita tingkatkan karena anggarannya sangat terbatas untuk penanganan Covid-19. Apalagi sektor pertanian mengalami keterpurukan, namun untungnya di desa masih bisa bertahan dan bernafas lega. Coba bayangankan kalau masyarakat yang hidup di kota. Buat beli beras saja sangat susah, apalagi harus bayar hutang dan lainnya, karena sudah tidak bisa bekerja,” sebut Made Urip. ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close