Tabanan, PancarPOS | Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., kembali melanjutkan kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) tahap keempat di Kabupaten Tabanan. Setelah Kabupaten Gianyar dan Badung, yang diteruskan ke Kecamatan Kediri, Tabanan, kini Wakil Rakyat Sejuta Traktor yang akrab disapa M-U tersebut, turun menyambangi petani dan krama subak di Kecamatan Tabanan dengan membuka Bimtek Pengembangan Budidaya Padi MSP Tahun 2023 untuk Kedaulatan Pangan NKRI di CS Bedha Resort, Desa Sudimara, Tabanan, pada Jumat (28/7/2023). Made Urip yang juga menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan membidangi Pertanian, Lingkungan dan Kehutanan itu, melanjutkan agenda kegiatan Bimtek secara maraton untuk mengajak para petani dan krama subak, termasuk penyuluh di Kecamatan Tabanan menjaga kedaulatan pangan. Kegiatan Bimtek kembali mendatangkan narasumber dari DPP MSP, Aji Saptaji, dan Irsan Surya Imana yang dihadiri Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian yang diwakili Sub Koordinator Intensifikasi Padi THLK, Marwanti, SP., beserta Kadis Pertanian Tabanan, I Made Subagia, S.Pi., MM., dan Ketua Korda MSP Bali, I Nyoman Bagiana.

Seperti sebelumnya, Made Urip juga menyerahkan bantuan bibit padi MSP dan pupuk cair Banyu Mili kepada petani dan krama subak di Tabanan. Salah satu peserta Bimtek, I Made Gunada, sebagai Pekaseh Subak Gubug II mengucapkan terima kasih kepada Made Urip yang telah menyelenggarakan Bimtek budidaya padi MSP. Dikatakan Bimtek ini, sebagai wadah petani dan krama subak menyalurkan keluhan guna meningkatkan produktifitas sektor pertanian di Tabanan. “Bimtek ini sebagai terobosan dan kami selaku perwakilan petani mengucapkan terima kasih kepada bapak Made Urip,” tandasnya. Di sisi lain, Kadis Pertanian Tabanan, I Made Subagia mengakui kegiatan Bimtek yang digelar oleh tokoh idola petani, Made Urip ini, manfaatnya sangat luar biasa bagi petani dan krama subak, khususnya di Tabanan. “Jika kita sebut traktor pasti inget dengan Pak Made Urip ya,” ujarnya, seraya mengatakan sebagai suatu kebanggaan Kabupaten Tabanan masih menyandang predikat Lumbung Pangan Provinsi Bali di tengah permasalahan yang dihadapi yang selalu disupport oleh Made Urip. Disebutkan selama ini sangat banyak bantuan dan program aspirasi pertanian yang diperjuangkan Made Urip dari Pemerintah Pusat.
Hal ini juga sesuai dengan visi dan misi Bupati Tabanan Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Tabanan Era Baru yang Aman Unggul dan Madani (AUM), seperti program Mangun Tani dengan Bupati Tabanan Ngantor di Desa (Bungan Desa). Program ini sebagai komitmen Bupati Tabanan bersama Made Urip sebagai inspirasi untuk menjaga ketahanan pangan, sehingga mendapatkan penghargaan Satya Lencana Wirya Karya tahun 2023 dari Presiden Joko Widodo. Bahkan seperti Bimtek kali ini, secara khusus untuk mengangkat produktifitas padi, jagung dan kedelai (Pajale) sebagai varietas unggul untuk membantu mencegah stunting di Tabanan. Oleh karena itu, ketersediaan pangan harus dijaga, khususnya padi yang sesuai dengan gizi yang dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, pihaknya sangat berterima kasih kepada Made Urip bersama Kementerian Pertanian yang terus memberikan edukasi kepada petani dan krama subak di Tabanan tentang budidaya padi MSP. Apalagi luas Tabanan sekitar 14 persen Pulau Bali telah menetapkan LP2BB (lahan pangan pertanian berkelanjutan) dari 20 hektar lahan pertanian akibat isu alih fungsi lahan yang terupdate hanya 19,6 hektar, sehingga kehilangan lahan sekitar 300 hektar.

“Artinya memang terjadi alih fungsi lahan,” bebernya, sembari menegaskan LP2BB seluas 19,6 hektar ini, harus dipertahankan dan tidak sampai ada bangunan, agar Tabanan tidak sampai kekurangan pangan. Karena itulah, melalui Bimtek budidaya padi MSP ini, diharapkan petani bisa ikut menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan secara mandiri. “Melalui Bimtek ini para petani akan mendapat pencerahan untuk mendukung ketahanan pangan di Tabanan untuk mewujudkan program Gubernur Bali untuk menuju pertanian organik dan ramah lingkungan,” pungkasnya. Pada kesempatan itu, Sub Koordinator Intensifikasi Padi THLK, Marwanti kembali menyampaikan Bimtek budidaya padi, jagung dan kedelai MSP atau Mari Sejahterakan Petani ini, untuk menjaga kedaulatan pangan yang bekerja sama dengan Made Urip selama lima tahap di Bali. Kegiatan Bimtek kali ini, juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani, namun tidak semua daerah dapat mengikuti Bimtek, sehingga berkat inisiasi Made Urip para petani dan penyuluh di Tabanan mendapatkan kegiatan Bimtek tersebut.
Oleh karena itu, ia berharap komoditas utama yang ditangani, seperti padi, jagung dan kedelai bisa terus meningkat produktifitasnya. Apalagi selama ini, produksinya terus menurun dan cenderung melandai, terutama padi yang tidak sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk di Indonesia setiap tahunnya. Untungnya di Tabanan surplus beras, sehingga bisa menyuplai daerah dan kabupaten lainnya. Disadari selama ini, seluruh masyarakat di Indonesia masih mengutamakan mengkomsumsi beras, sehingga tidak sebanding dengan produksi gabah yang semakin menurun akibat alih fungsi lahan setiap tahunnya. Untuk itu harus dilakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai, salah satunya dengan membuka kembali lahan pertanian yang baru, serta meningkatkan produktifitas pertanian dengan menggunakan bibit variesta unggul, seperti benih MSP ini. “MSP ini produksinya di atas rata-rata, sehingga kami berharap bisa mendokrak hasil panen petani secara nasional untuk menjaga stabilitas ketahanan dan kedaulatan pangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Made Urip menegaskan kembali Bimtek yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian ini, bertujuan untuk menambah kapasitas dan menyiapkan SDM yang unggul, sekaligus memberikan wawasan dan keterampilan di tingkat petani. Hal itu, juga untuk menjaga kedaulatan pangan dengan bibit unggul MSP atau bisa disebut bibit Megawati Soekarno Putri, karena telah berinisiatif mendorong Surono Danu menjadi penemu benih MSP, baik komoditas padi, jagung dan kedelai, termasuk umbi-umbian dan lainnya yang sudah tersebar ke seluruh tanah air. Keunggulan bibit MSP ini, juga sudah terbukti tahan terhadap penyakit dan perubahan iklim. M-U menyadari tantangan di sektor pertanian sangat komplek, seperti di Tabanan yang harus bisa mempertahankan predikat dan julukan sebagai Lumbung Berasnya Bali, akibat konversi lahan yang sangat masif. Apalagi lahan produktif kelas satu terus menjadi incaran investor, sehingga sudah banyak yang beralih fungsi. “Kalau sudah ada main mata kan bahaya dan sudah terbukti di Gubug misalnya, Bongan dan Kediri kan sudah terkikis. Suatu saat subak akan tinggal kenangan dan tinggal hanya bale subak saja. Mampu gak Tabanan bertahan dan tetap bisa surplus beras gak nanti?,” sentil Anggota DPR RI terpilih 5 periode dengan 255.130 suara terbanyak Dapil Bali dan peringkat ke-7 di seluruh Indonesia itu.
Tantangan lainnya dari tingkat kepemilikan lahan rata-rata di bawah 0,25 hektar atau hanya petani gurem, selain usia petani yang lebih banyak sudah tua. Bahkan PPL sudah memasuki masa pensiun, padahal idealnya satu desa harus ada minimal satu penyuluh. “Kalau sekarang kan satu penyuluh merangkap tiga desa,” ungkap Made Urip, suami Ni Made Usmantari (M-U) dari kuota perempuan yang digadang-gadang maju sebagai bakal calon Anggota DPRD Provinsi Bali dari PDI Perjuangan di Dapil Tabanan itu, sekaligus sangat menyayangkan infrastruktur pertanian juga belum bisa digarap secara serius, diantaranya irigasi tersier, termasuk jalan usaha tani dan produksi pertanian yang harus diperbaiki ke depan. Di samping itu, penanganan pasca panen yang harus memperhatikan pasar yang masih lemah dari hulu ke hilir. Untuk itulah, melalui Bimtek ini, diharapkan menjadi ajang diskusi untuk mencari solusi dan memecahkan masalah di sektor pertanian. “Saya berharap agar Bimtek bisa diikuti dengan baik dari awal hingga berakhir, karena dianggarkan dari ABPN yang dilaksanakan selama 5 kali. Tabanan saya kasi 3 titik, sisanya Gianyar dan Badung. Ini sebagai wujud cinta saya sebagai orang Tabanan,” tegas Made Urip. ama/ksm






