Ekonomi dan Bisnis

BUPDA Tanjung Benoa Ambil Peran Strategis, Tri Hita Trans Disiapkan Jadi Mesin Ekonomi Baru Desa Adat


Badung, PancarPOS | Transformasi transportasi berbasis desa adat di Tanjung Benoa memasuki babak lanjutan. Setelah sosialisasi Tri Hita Trans yang digelar PT Sentrik Persada Nusantara bersama unsur desa adat, pada Rabu (25/2/2026), kini peran strategis Badan Usaha Milik Desa Adat (BUPDA) Tanjung Benoa semakin dimantapkan sebagai operator utama di lapangan.

Ketua BUPDA Desa Adat Tanjung Benoa, Ni Wayan Sukadi, menegaskan bahwa skema kerja sama dalam konsep ini dibangun secara terstruktur antara tiga pihak: BUPDA sebagai operator, PT Sentrik Persada Nusantara sebagai penyedia kendaraan listrik, dan Tri Hita Trans sebagai aplikator penyedia sistem digital.

“Kalau konsep ini nanti kerja sama dengan Sentrik dan Tri Hita. Kita di BUPDA sebagai pihak pertama sebagai operatornya. Sentrik itu penyedia mobil listriknya. Tri Hita sebagai aplikator, penyedia aplikasinya,” jelas Sukadi.

Menurutnya, pembagian peran ini penting agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan. BUPDA tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi penggerak utama di tingkat desa. Tugas BUPDA, lanjutnya, bukan hanya menjalankan operasional, tetapi juga ikut aktif mempromosikan aplikasi kepada para driver lokal di Tanjung Benoa. “Di sini tugas kita ikut membantu mempromosikan aplikasi ini untuk driver-driver yang ada di Tanjung. Di Tanjung itu ada driver Grab, ada yang konvensional,” ujarnya.

Sosialisasi Tri Hita Trans oleh PT Sentrik Persada Nusantara di Wantilan Desa Adat Tanjung Benoa, Rabu (25/2/2026), dihadiri Bendesa Adat I Made Wijaya, jajaran BUPDA, mitra driver angkutan sewa khusus, Tanjung Benoa Transport, serta pelaku transportasi lokal. (foto: ama)

Sebelum sosialisasi besar digelar di wantilan desa adat, BUPDA telah lebih dulu melakukan pertemuan awal bersama tim Tri Hita dan Sentrik dengan jajaran prajuru desa. Setelah itu, diskusi internal digelar kembali di Kantor BUPDA dengan menghadirkan perwakilan driver Grab dan konvensional.

“Habis pertemuan pertama dengan tim Tri Hita dan Sentrik bersama perjuru, kita di BUPDA secara intern diskusi lagi dengan perwakilan Grab dan konvensional. Jadinya kita sepakat mengadakan sosialisasi hari ini supaya lebih jelas, apa yang mereka tanyakan bisa langsung dijawab tim Tri Hita dan Sentrik,” paparnya.

Ia mengakui, dirinya memiliki keterbatasan dalam menjelaskan secara teknis sistem aplikasi. Karena itu, penting bagi driver mendengar langsung dari tim pengembang agar semua pertanyaan, termasuk hambatan yang selama ini mereka alami, bisa dibahas secara terbuka. “Kalau tiang kan terbatas penjelasannya. Mereka pasti bertanya sesuai pengalaman mereka selama ini menjadi driver, apa hambatannya. Tadi perwakilan Grab juga sudah bertanya,” katanya.

Harapan besar Ni Wayan Sukadi sederhana namun visioner, agar perlahan-lahan seluruh driver di Tanjung Benoa dapat beralih menggunakan aplikasi berbasis desa adat tersebut. Namun ia sadar, perubahan tidak bisa dipaksakan dalam waktu singkat. “Harapan tiang supaya pelan-pelan semua driver yang ada di Tanjung bisa beralih aplikasinya memakai aplikasi ini. Karena ini berbasis usaha,” tegasnya..

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sistem ini bukan semata-mata proyek teknologi, tetapi instrumen ekonomi desa adat. Jika berjalan baik, keuntungan yang diperoleh BUPDA akan kembali kepada masyarakat melalui berbagai program sosial dan adat. “Kalau ini jalan, otomatis akan berimbas ke masyarakat sendiri. Karena BUPDA fungsinya laba itu akan kembali ke masyarakat. Seperti pemberian santunan, bantuan daging babi saat upacara, itu semua bersumber dari usaha,” jelasnya.

Selama ini, BUPDA mendapatkan pendapatan dari berbagai sumber seperti jasa dan aktivitas pedagang. Namun sektor transportasi dinilai memiliki potensi besar jika dikelola secara terintegrasi. “Kalau ada tambahan seperti transportasi ini, kalau bisa berkembang ya lebih baik. Lebih bagus sekali ada tambahan lagi,” katanya optimistis.

Komunitas sopir di Canggu menyatakan sikap bergabung dalam ekosistem Tri Hita Trans. (foto: tra)

Meski demikian, ia juga realistis bahwa pada tahap awal belum bisa dipastikan bagaimana dampak finansialnya. Semuanya membutuhkan proses dan konsistensi sosialisasi. “Pastinya kita belum tahu. Ini harus banyak sosialisasi ke driver juga,” ujarnya. Strategi komunikasi pun telah disiapkan. Informasi terkait rencana kerja sama disebarkan melalui empat banjar di Tanjung Benoa melalui para klian. Respons mulai terlihat. Beberapa sopir bahkan datang langsung ke kantor BUPDA untuk menanyakan detail program.

“Seperti kemarin rencana kerja sama ini, kita share ke empat banjar melalui klian. Ada beberapa sopir yang menanyakan langsung ke kantor. Sudah mulai ada ketertarikan,” ungkapnya. Namun ia tidak menutup mata terhadap keraguan yang masih ada di kalangan driver. Dalam diskusi internal sebelumnya, muncul rasa waswas apakah sistem ini benar-benar akan berjalan atau tidak.

“Memang kalau memulai dari awal tidak bisa langsung. Pasti perlahan-lahan. Waktu diskusi intern di kantor ada sedikit keraguan, kira-kira ini jalan atau tidak nanti,” tuturnya jujur. Keraguan itu wajar, mengingat sebagian besar driver sudah terikat dengan platform besar, seperti Grab atau masih bertahan di sistem konvensional. Mereka khawatir jika melepas yang lama, sementara sistem baru belum tentu stabil.

“Mereka takutnya ngelepas di sana, tahu-tahu ini tidak jalan. Ada keraguan, ada ketakutan. Jaminan untuk berjalan ini belum ada, jadi mereka pasti mikir-mikir dulu,” katanya. Inilah tantangan terbesar dalam setiap transformasi, yaitu membangun kepercayaan. BUPDA memahami bahwa driver hidup dari penghasilan harian. Mereka tidak bisa mengambil risiko tanpa kepastian.

Namun Ni Wayan Sukadi tetap optimistis. Ia percaya perubahan sering kali dimulai dari segelintir pionir yang berani mencoba. “Mudah-mudahan ada satu, dua, tiga dulu yang mengawali. Biasanya kalau sudah lancar baru berlomba-lomba. Kalau di awal memang susah,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan strategi bertahap yang realistis. Tidak ada target memaksa seluruh driver langsung beralih. Yang dibangun adalah ekosistem, bukan sekadar aplikasi.

Seluruh driver Tri Hita Trans yang terlibat wajib mengikuti aturan dan standar yang telah disepakati desa adat. (foto: ist)

Konsep Tri Hita Trans di Tanjung Benoa pada akhirnya bukan hanya tentang digitalisasi, tetapi tentang reposisi desa adat dalam peta ekonomi pariwisata Bali. Selama ini, desa adat sering berada di posisi defensif menghadapi ekspansi platform transportasi berbasis aplikasi nasional maupun global. Kini, melalui kolaborasi BUPDA, Centric sebagai penyedia kendaraan listrik, dan Tri Hita sebagai aplikator, desa adat mencoba membangun sistemnya sendiri dengan berbasis IT, tetapi tetap berakar pada kearifan lokal dan struktur adat.

Jika berhasil, model ini bukan hanya mengubah cara wisatawan bergerak dari bandara ke desa tujuan, tetapi juga mengubah cara keuntungan didistribusikan. “Tidak lagi semata mengalir ke korporasi besar, tetapi kembali ke krama desa melalui mekanisme BUPDA,” tegasnya. ama/ksm


Back to top button