Ekonomi dan Bisnis

Suskes Dapat Warisan Sudah Biasa, Sukses Jualan Telur Ayam Karena KUR BRI Baru Luar Biasa


Buleleng, PancarPOS | Pasar Anyar terletak di jantung Kota Singaraja, atau tepatnya berlokasi di Jalan Durian, Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Pasar yang ditempuh sejauh 80 km dari Kota Denpasar ini, juga selalu ramai dikunjungi dari berbagai lapisan masyarakat. Akibat saking ramainya kadang kala membuat macet lalu lintas jalanan di seputaran Jalan Diponegoro, Jalan Sawo dan Jalan Durian. Hal itulah, sebagai potensi besar yang menjadi harapan perputaran ekonomi bagi para pedagang pasar, salah satunya ibu muda yang nampak sangat sibuk melayani pelanggannya. Apalagi selama ini, pasar tradisional terbesar di Kota Singaraja itu, bahkan belakangan sering dikunjungi wisatawan mancanegara (Wisman). Kemungkinan para pengusaha wisata atau biro perjalanan wisatawan memasukan Pasar Anyar ke dalam paket tour dengan berkunjung ke pasar tradisional. Apalagi Pasar Anyar saat ini, juga selalu tampak bersih dengan lapak penjual yang tertata rapi. Papan nama pasar berlatar merah bertuliskan Pasar Anyar juga sudah dipasang di pintu masuk di Jalan Sawo. Bau sampah di kontener pembuangan sampah yang biasanya diletakkan di Jalan Durian juga sudah tidak bau lagi. Jika diibaratkan, Pasar Anyar sebagai orang yang baru selesai mandi sehabis selesai bekerja, maka badan yang tadinya berbau dan kotor, kini sudah bersih dan rapi.

Tumpah ruah masyarakat tampak sibuk bertransaksi di Pasar Anyar. Ada yang melanjutkan transaksi jual beli, maupun ada yang pergi meninggalkan Pasar Anyar. Terlihat Ni Kade Wismayanti yang rutinitasnya membuka lapak di kiosnya yang berukuran 3×4 meter itu, sejak pagi buta atau sekitar pukul 03.00 hingga 15.00 WITA. Dari rentang waktu tersebut, geliat ekonomi para pedagang Pasar Anyar sudah mulai bangkit. Ketekunan, pantang menyerah, dan kejujuran, merupakan hal yang dijadikan prinsip bagi perempuan tangguh yang akrab dengan panggilan De Wisma yang kini harus menggeluti usaha warisan mertuanya, sebagai distributor dan pedagang telur ayam. Kisah sukses dengan mewarisi sebuah bisnis, hal itu sudah biasa karena usahanya siap dijalankan. Namun berbeda dengan nasib De Wisma, bersama suaminya, Kadek Sujana malah harus banting tulang mempertahankan warisan usaha ini, agar tetap berjalan dan makin berkembang untuk menghidupan seluruh keluarganya. Usaha dagang yang dimulai dari tahun 1990 oleh mertuanya itu, sudah dilanjutkan olehnya sejak 5 tahun yang lalu. Saat itu, dia masih harus memikirkan langkah selanjutnya untuk membangun kesuksesan bisnis jual beli telur ayam tersebut. Apalagi baru saja setahun menjalankan usaha ini, juga dihantam oleh dampak pandemi Covid-19 yang telah menyebabkan banyak pedagang gulung tikar, akibat kehabisan modal.

Ni Kade Wismayanti alias De Wisma saat rutinitasnya melayani pelanggannya membeli telur ayam dan minyak curah, saat ditemui di Pasar Anyar, Singaraja, pada Selasa (26/3/2024). (foto: ama)

Pada saat itulah, De Wisma harus memutar otak dengan keras, agar usaha warisan keluarganya di generasi kedua tetap bisa bertahan. Ia bersama suaminya waktu itu, akhirnya sangat bersyukur karena tiba-tiba mendapat tawaran kuncuran bantuan modal berupa kredit usaha kecil (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, atau BRI. Awalnya, sekitar tahun 2020 hanya mendapat “suntikan” KUR sebesar Rp35 juta untuk menambah modal usaha jual beli telur yang kini juga ditambah dengan berjualan minyak curah dan kemasan. “Tyang (saya, red) meneruskan usaha mertua bersama suami. Awalnya mencari KUR sekitar 4 tahun lalu, untuk menambah modal biar dapat dagangan lebih. Astungkara (syukur, red), penyaluran dana KUR dari BRI benar-benar berdampak sangat signifikan. Bahkan, sekarang perekonomian pedagang yang ada di Pasar Anyar mulai bangkit. Awalnya yang sudah tutup kini sudah buka kembali. Yang awalnya barangnya sedikit, sekarang sudah mulai banyak,” ujarnya, saat ditemui, pada Selasa (26/3/2024). Ibu dengan tiga anak perempuan itu, mengucapkan terima kasih kepada BRI KCP Unit Pasar Anyar di bawah BRI Cabang Singaraja yang telah memfasilitasi pencairan KUR bagi pedagang yang ada di Pasar Anyar. Sebab dampak dari KUR ini sangat luar biasa sekali, terhadap keberlangsungan pedagang dalam memenuhi modal usahanya.

Bahkan saat ini, para pedagang sudah mulai melakukan pengajuan KUR untuk tahap kedua. Pedagang sudah mulai mengumpulkan persyaratan yang diperlukan. Bahkan penabung sudah mulai bertambah, karena adanya prioritas dari BRI. “Awalnya kan pinjem Rp35 juta untuk modal telur sama minyak cor, tapi berjalannya waktu tyang nyari lagi Rp50 juta dan baru bayar 1 tahun untuk menambah usaha, seperti minyak kemasan dari sales. Sampai sekarang usaha tyang lancar, mau beli barang bisa langsung bayar,” kenangnya, seraya mengakui pengajuan dana KUR ini tidak hanya diperuntukkan bagi pedagang yang memiliki lapak, seperti dirinya yang berjualan di Jalan Durian, Pasar Anyar, atau tepatnya di depan teras BRI Cabang Singaraja. Namun para pedagang di pelataran, ternyata juga bisa melakukan pengajuan KUR, karena nantinya rekomendasi akan diberikan oleh Perumda Pasar Argha Nayottama. “Harapan tyang dengan dana KUR ini, usaha pedagang yang ada di Pasar Anyar bisa semakin meningkat untuk membangkitkan kembali perekonomian yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19,” tegasnya. Di samping itu, ke depan semua layanan yang ada di pasar ini, nantinya akan dilakukan melalui perbankan. Hal ini seiring dengan program pasar dan digitalisasi pedagang pasar. Oleh karena itu sebenarnya sudah tidak ada uang tunai lagi, tetapi semua transaksi dilakukan dengan non tunai. “Dimudahkan sekali dengan adanya KUR BRI ini. Apalagi juga banyak kegiatan dari Bank BRI, seperti saya ikut pasar.id, dan BRILink yang langsung dikelola suami saya,” bebernya.

Kadek Sujana, suami dari Ni Kade Wismayanti, juga ikut membantu berjualan telur ayam dan minyak curah. (foto: ama)

Dengan adanya tambahan modal usaha melalui program KUR ini, pihaknya sangat mengharapkan pedagang pasar bisa lebih semangat lagi. Selain itu, mampu menjaga kepercayaan BRI maupun pembeli. “Jaga kepercayaan BRI dan pembeli dengan sebaik-baiknya. Intinya itu adalah kejujuran dan kepercayaan. Saat ini pedagang tidak perlu repot-repot lagi untuk menabung maupun melakukan pembayaran. Tinggal menunggu di tempat jualan, karena semuanya sudah dilayani oleh BRI,” ungkap De Wisma. Seiring berjalannya waktu, berkat KUR dari BRI mendorong perkembangan usahanya bisa berjalan sukses dalam proses mencapai puncaknya dengan menggambarkan sebuah perjalanan inspiratif dari usaha turun temurun, hingga menjadi salah satu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Pasar Anyar. Kehadiran KUR BRI tidak hanya sekadar sebuah modal usaha, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan bagaimana kegiatan bisnis yang mampu menjadi wadah nyata untuk pengembangan dan pertumbuhan usaha di tengah-tengah tantangan pasar modern. Apalagi juga mengemban peran penting dalam merevitalisasi tradisi usaha keluarga yang telah diwariskan secara turun temurun. Usaha ini, sebenarnya memiliki akar yang kuat, karena memiliki potensi yang selama ini tersembunyi dari ketenaran dan dedikasi sang pendiri menghadapi persaingan bisnis.

Karena itulah, usaha De Wisma yang dijalankan dengan jualan secara bergilir dengan suaminya itu, kini memiliki daya tarik yang begitu kuat dengan para pelanggannya. Salah satu faktornya adalah transformasi digital yang diadopsi dengan cermat. Adapun platform digital yang saat ini mempengaruhi pemasarannya, dalam era di mana media sosial memiliki pengaruh besar, sehingga memanfaatkan platform ini sebagai jembatan untuk berkomunikasi dengan pelanggan potensial. Dengan strategi pemasaran berbasis digital yang inovatif, ia berhasil merangkul pasar yang lebih luas, mempertahankan loyalitas pelanggan, dan memperoleh tempat di hati setiap konsumennya. Karena itulah, selain memiliki toko secara offline di Pasar Anyar, juga mengandalkan platform digital yang dapat memudahkan pelanggan untuk berkomunikasi dengan penjual, karena hanya memiliki jam operasional yang dimulai dari pukul 03.00 hingga 15.00 WITA dengan buka lapak setiap hari. Dalam rangka memastikan kualitas dan kehalalan produknya, ia telah merampungkan berbagai perizinan yang dibutuhkan. Dimulai dengan penerbitan NIB (Nomor Induk Berusaha), sebagai langkah yang membuktikan komitmennya untuk mengikuti aturan bisnis yang berlaku. “Orang sukses itu kan sebagian besarnya adalah pengusaha. Jadi kita harus bisa ikuti semua aturan yang ada,” tegasnya.

1bl#ik-016.1/3/.2024

De Wisma yang kini tinggal di Lingkungan Kebon Sari, Gang V No.38, Kelurahan Kampung Baru, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng ini, mengisahkan suka dukanya menjadi penjual telur ayam dan minyak goreng tentu saja ada. Namun, ia mengaku menjalani usaha warisan keluarganya ini dengan harus bekerja ekstra, jika ingin memperoleh keuntungan lebih. “Sukanya jual telur itu banyak yang butuh setiap hari. Lancar walaupun untungnya sedikit. Dukanya itu, kalau pas telor mahal jadi modal harus nambah, tapi keuntungannya malah berkurang. Minyak juga sama seperti itu. Kadang-kadang kalau sepi pembeli ya sepi sekali, kalau lagi ramai ya ramai,” tuturnya, seraya mengakui kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini, disebabkan beberapa faktor seperti pakan yang tidak lagi menggunakan Antibiotik Growth Promoter (AGP), sehingga ayam petelur rentan terhadap penyakit, ataupun akibat cuaca esktrem di beberapa wilayah, dan bulan puasa jelang Lebaran yang cukup panjang membuat persediaan telur ayam tidak dapat mengimbangi permintaan masyarakat yang tinggi. Kondisi itu, membuat masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang makanan dengan telur salah satu komponen yang dijual, juga terpaksa menaikkan harganya. Namun harga jual telur ayam yang naik tidak terlalu signifikan tersebut, tidak berdampak besar pada omset, maupun jumlah pengunjung yang membeli. Karena itu, jika ditambah dengan berjualan minyak curah bisa mendapatkan omzet lebih dari Rp30 juta per bulan.

Di sisi lain, sebelumnya untuk menumbuhkan dan mengembangkan ekosistem pasar digital di Kabupaten Buleleng, BRI Cabang Singaraja melakukan sosialisasi berbelanja melalui website pasar.id. Dengan berbelanja melalui pasar.id dan melakukan pembayaran melalui aplikasi BRImo, masyarakat bisa menikmati diskon langsung sebesar 10 persen. Pemimpin Cabang BRI Singaraja, Panji Kurniawan menegaskan masyarakat juga tidak perlu datang berbelanja langsung ke pasar. Melainkan cukup menunggu barang di rumah, seperti telur dan minyak goreng yang dijual oleh De Wisma bisa dipesan melalui pasar.id dan barangnya akan dikirim langsung melalui jasa kurir atau ojek online. “Masyarakat tidak perlu ragu berbelanja lewat pasar.id, selain mudah dan cepat, juga ada diskon langsung. Sekarang sudah ada 127 unit merchant di Pasar Anyar yang bergabung dalam ekosistem pasar.id,” ungkapnya. Selain mengenalkan pasar.id, juga sebagai wujud nyata BRI Singaraja membantu pemerintah dalam mengendalikan inflasi dan menekan stunting. Sebab masyarakat bisa membeli bahan pangan yang sehat dan berkualitas, dengan harga yang murah di Pasar Anyar.

Pasar Anyar mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan. (foto: ama)

Perlu diketahui, penataan Pasar Anyar yang dikerjakan oleh Pemkab Buleleng bersama seluruh pihak termasuk Yanti sebagai pedagang pasar bisa berbuah manis. Sebab pasca penataan mulai ramai pembeli, bahkan banyak rombongan Wisman mulai terlihat berkunjung. Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana menerangkan kunjungan para wisatawan ke Pasar Anyar tidak lain, adalah buah kerja keras dari seluruh pihak termasuk para pedagang atas penataan pasar yang sudah dilakukan sejak sebelum Presiden Jokowi berkunjung ke Singaraja. Tentu sekarang bisa terwujud Pasar Anyar yang rapi, bersih dan nyaman. Penataan juga dibarengi dengan solusi bagi para pedagang, sehingga bisa tetap berjualan. Menurut Lihadnyana, hasil kerja keras itu juga sebagai bukti bahwa upaya-upaya penataan Pasar Anyar dan juga penataan wajah Kota Singaraja secara umum berjalan sesuai dengan jalurnya. Kota Singaraja dan Pasar Anyar pada khususnya sudah mulai bersih serta tertata dengan baik. Hal ini yang mengundang minat Wisman untuk berkunjung. “Kita sudah melakukan upaya-upaya sesuai dengan jalur yang ada. Kebijakan penataan juga tidak merugikan salah satu pihak, baik pemerintah maupun pedagang. Hingga saat ini, penataan-penataan terus dilakukan khususnya di Pasar Anyar,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan Perumda Pasar Argha Nayottama, Putu Suardhana mengatakan penataan pasar yang bisa mengundang kedatangan para Wisman ini, merupakan sebuah keuntungan tersendiri khususnya bagi Pasar Anyar, termasuk para pedagang seperti De Wisma. Terlihat pula para Wisman sangat antusias berkunjung dan berbelanja di Pasar Anyar. Dengan antusias tersebut, kesan pasar tradisional yang biasanya kumuh sudah menghilang. Akses jalan sudah jauh lebih baik dari yang terdahulu. “Para pemandu juga menjelaskan dengan sangat baik kepada Wisman, ketika berkeliling Pasar Anyar. Saya ucapkan terima kasih,” ungkapnya. Kemudian untuk kelanjutan penataan Pasar Anyar, dirinya menambahkan upaya tersebut terus dilakukan. Termasuk penataan pedagang di Pasar Durian. Pemasangan atap atau kanopi untuk pedagang buah di Jalan Durian sebelah selatan sudah rampung. Untuk di Jalan Durian sebelah utara, masih menunggu penataan trotoar yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Buleleng. “Untuk pengerjaan trotoar masih 60 persen. Pemasangan atap di Jalan Durian sebelah utara juga menunggu pengerjaan trotoar ini selesai,” tutup Suardhana. ama/ksm

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan


Back to top button