Denpasar, PancarPOS | Jalanan Denpasar kini punya tren baru yang kian mencolok mata, seperti motor melaju tanpa plat nomor polisi kendaraan (nopol). Dari motor matic yang masih berbau dealer hingga motor besar yang berderu gagah, semua seakan kompak menanggalkan identitasnya.
Alih-alih merasa risih, sebagian pengendara justru tampak bangga menunggangi kendaraan “polos” itu, seakan plat nomor hanyalah aksesori yang tidak penting. Fenomena ini seperti sindiran terbuka, antara aturan lalu lintas bisa dipelintir jadi gaya hidup, dan melanggar hukum bisa tampil keren di jalanan.

Lucunya, motor tanpa plat kerap lewat santai di jalan utama, bahkan di lampu merah yang ramai hingga berjejer membeli BBM. Tak ada rasa takut, tak ada rasa salah. Seolah-olah jalan raya Denpasar kini menjadi catwalk, dan motor tanpa identitas menjadi tren mode terbaru.
Bagi sebagian warga, pemandangan ini menimbulkan tanya, apakah Denpasar sedang berubah jadi kota eksperimen, tempat aturan lalu lintas dipakai ala kadarnya? Atau justru sedang lahir komunitas baru: “geng motor tanpa plat” yang menjadikan pelanggaran sebagai simbol kebebasan?

Fenomena ini jelas menyisakan ironi. Di satu sisi, pemerintah gencar mengampanyekan tertib berlalu lintas, di sisi lain jalan raya terus dipenuhi motor tanpa identitas yang melaju bebas bak hantu. Denpasar pun kini diuji, apakah akan membiarkan tren “pamer pelanggaran” ini terus jadi tontonan, atau segera mengembalikan jalanan ke marwahnya sebagai ruang publik yang tertib dan berbudaya. ama/ksm






