Minggu, April 5, 2026
BerandaNasionalNyepi 2026 Bertemu Idul Fitri, Gubernur Koster Tegaskan Bali Episentrum Toleransi Dunia...

Nyepi 2026 Bertemu Idul Fitri, Gubernur Koster Tegaskan Bali Episentrum Toleransi Dunia yang Tak Tertandingi

Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali menegaskan posisi Bali sebagai ruang hidup yang tidak hanya kaya budaya, tetapi juga kokoh dalam nilai toleransi. Momentum pertemuan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada Maret 2026 disebut Gubernur Koster sebagai peristiwa langka yang memperlihatkan wajah asli Bali di mata dunia.

Dalam pernyataannya, Kamis, Wraspati Paing, Dukut (26/3/2026), Gubernur Koster menyampaikan apresiasi mendalam atas pelaksanaan dua hari besar keagamaan yang berlangsung beriringan namun tetap berjalan tertib, khidmat, dan penuh keharmonisan tanpa gesekan sosial.

Gubernur Koster terlebih dahulu mengucapkan Selamat Hari Suci Nyepi kepada seluruh krama Bali yang telah menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh, mulai 19 Maret 2026 pukul 06.00 Wita hingga 20 Maret 2026 pukul 06.00 Wita (Ngembak Geni).

Menurut Gubernur Koster, pelaksanaan Nyepi tahun ini berlangsung dalam suasana yang sangat hening, sunyi, dan disiplin tinggi. Tidak ditemukan pelanggaran berarti, yang menunjukkan kesadaran kolektif masyarakat Bali semakin kuat dalam menjaga kesucian tradisi warisan leluhur.

“Sebagai Gubernur Bali, titiang menyampaikan terima kasih kepada seluruh krama Bali yang telah menjaga kekhusyukan Nyepi dengan penuh disiplin dan khidmat,” ujar Gubernur Koster.

Lebih jauh, Gubernur Koster menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar ritual tahunan, melainkan filosofi hidup masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Dalam Nyepi, manusia diberikan ruang untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, melakukan introspeksi diri, serta mengharmoniskan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Gubernur Koster juga menekankan bahwa keberlanjutan tradisi Nyepi merupakan bukti kuat bahwa Bali mampu menjaga jati dirinya di tengah derasnya arus globalisasi.

Di sisi lain, Gubernur Koster turut menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Muslim di Bali yang telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Gubernur Koster memberikan apresiasi tinggi kepada umat Muslim yang merayakan Idul Fitri dengan tetap menjaga ketertiban, keharmonisan, serta menghormati nilai-nilai lokal Bali.

Namun, yang paling disorot oleh Gubernur Koster adalah sikap umat Muslim saat malam takbiran yang bertepatan langsung dengan Hari Suci Nyepi pada 19 Maret 2026.

Dalam situasi yang berpotensi memunculkan dilema sosial, umat Muslim di Bali memilih melaksanakan takbiran di rumah masing-masing. Keputusan ini dinilai Gubernur Koster sebagai bentuk toleransi yang sangat luhur dan menjadi contoh nyata kehidupan harmonis di tengah perbedaan.

“Secara khusus, titiang menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada umat Muslim yang telah melaksanakan takbiran di rumah masing-masing saat bertepatan dengan Hari Suci Nyepi. Ini merupakan bentuk nyata toleransi yang sangat indah dalam menghormati Hari Suci Nyepi,” tegas Gubernur Koster.

Menurut Gubernur Koster, peristiwa ini adalah cerminan konkret dari nilai menyama-braya yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali. Sebuah nilai yang menempatkan persaudaraan di atas segala perbedaan.

Gubernur Koster menilai, Bali telah berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan agama dan budaya bukanlah sumber konflik, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

“Ini adalah wajah Bali yang sesungguhnya. Kita hidup berdampingan dengan saling menghormati dan saling menjaga,” ujar Gubernur Koster.

Lebih lanjut, Gubernur Koster mengajak seluruh masyarakat Bali untuk terus merawat semangat kebersamaan ini. Ia menegaskan bahwa harmoni sosial harus dijaga secara konsisten, tidak hanya dalam momentum tertentu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.

Gubernur Koster juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan akan semakin kompleks, sehingga diperlukan kekompakan dan persatuan yang kuat di seluruh lapisan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan, Gubernur Koster menegaskan bahwa kerukunan sosial merupakan fondasi utama dalam mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Visi tersebut, menurut Gubernur Koster, menempatkan keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya sebagai inti pembangunan Bali, dengan tujuan akhir menciptakan masyarakat yang sejahtera dan bahagia secara sekala dan niskala.

“Dengan semangat menyama-braya, mari kita jaga Bali agar tetap aman, nyaman, damai, dan kondusif dalam menyelenggarakan pembangunan,” tegas Gubernur Koster.

Gubernur Koster juga menyebut bahwa keberhasilan menjaga keharmonisan selama Nyepi dan Idul Fitri menjadi bukti kuat bahwa Bali memiliki modal sosial yang sangat besar.

Modal sosial ini, menurut Gubernur Koster, harus terus diperkuat sebagai benteng menghadapi berbagai tantangan global, termasuk dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah.

Di akhir pernyataannya, Gubernur Koster kembali mengajak seluruh masyarakat Bali untuk tetap bersatu, guyub, dan saling menghormati dalam keberagaman.

“Mari terus rawat kerukunan ini dengan kompak dan penuh kesadaran. Rahayu sareng sami,” tutup Gubernur Koster.

Momentum pertemuan Nyepi dan Idul Fitri 2026 pun menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Ia menjelma menjadi simbol kuat bahwa Bali adalah episentrum toleransi dunia—tempat di mana perbedaan tidak hanya diterima, tetapi dirayakan dalam harmoni yang nyata. mas/ama/*

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments