Ekonomi dan Bisnis

Cinta Rupiah Melalui Layang-layang, Trisno Nugroho Ingatkan “Biasakan Transaksi Non Tunai”


Denpasar, PancarPOS | Dalam rangka memperingati HUT ke-68 BI dan HUT ke-76 RI, Bank Indonesia senantiasa mendorong masyarakat untuk selalu cinta rupiah dengan mengenali dan merawatnya, selalu bangga rupiah, dengan mencantumkan harga barang/jasa hanya dalam rupiah dan tidak bertransaksi menggunakan mata uang asing kecuali yang diatur dalam ketentuan yang berlaku, serta selalu paham rupiah dengan hemat dan bijak dalam menggunakan rupiah.

1bl-bn#7/1/2020

Menurut Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Triso Nugroho, rupiah yang selalu dekat dengan masyarakat, ditampilkan dalam permainan yang sangat digemari oleh masyarakat yaitu layang layang. “Pada hari ini, Minggu, 25 Juli 2021, di halaman gedung kantor Bank Indonesia Provinsi Bali, layang-layang yang berukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter ini berhasil diterbangkan. Kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan standar tali, luas area, jauh dari jaringan kabel dan selalu dalam pengawasan pemain,” ujarnya.

1bl#ik-21/7/2021

Gambar binatang badak, burung garuda dan burung cendrawasih, ungkapnya, menjadi latar belakang layang-layang yang dibuat oleh Bank Indonesia. Menurutnya, pencantuman binatang badak melambangkan tema cinta rupiah, karena badak merupakan salah satu identitas satwa yang dimiliki oleh Indonesia yang perlu kita jaga dan cintai bersama, sebagaimana rupiah menjadi salah satu indentitas persatuan bangsa Indonesia, yang harus kita jaga bersama.

1bl#bn-20/7/2021

“Pencantuman burung garuda melambangkan simbol negara yang harus dibanggakan oleh seluruh masyarakat. Demikian pula, rupiah juga menjadi simbol kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia. Burung cendrawasih dengan mata  yang tajam menunjukkan bahwa rupiah selalu diharapkan untuk selalu mampu menjaga stabilitas nilai rupiah sehingga selain berfungsi sebagai alat tukar juga berfungsi sebai alat investasi atau penyimpan nilai,” katanya.

1bl#bn-13/7/2021

Layang-layang dipilih sebagai sarana edukasi bagi masyarakat karena selain dekat dengan masyarakat, juga merupakan ciri khas budaya lokal serta sangat sesuai dengan masa pandemi covid-19 dan masa PPKM darurat ini yang mewajibkan kita untuk selalu menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Melalui layang-layang ini diharapkan masyarakat selalu cinta, bangga dan paham rupiah.

Ik#1bl-7/7/2021

Pada masa pemberlakukan PPKM Darurat, dari tanggal 3-25 Juli 2021, ujar Trisno, outflow atau kebutuhan uang masyarakat sebanyak Rp561,9 miliar atau rata-rata per hari Rp37,4 miliar.  Rata-rata harian kebutuhan uang masyarakat tersebut menunjukkan penurunan 2%, bila dibandingkan bulan Juni 2021, yaitu dari Rp38,2 miliar menjadi Rp37,4 miliar.  Sedangkan setoran uang tunai Masyarakat ke Bank Indonesia atau inflow di masa PPKM Darurat tercatat sebesar Rp317,7 miliar atau rata-rata per hari sebesar Rp21,2 miliar.  Bila dibandingkan dengan rata-rata harian setoran uang tunai pada bulan Juni 2021 mengalami penurunan 7% yang tercatat sebesar Rp22,8 miliar.

1th-ksm#5/2/2021

Selanjutnya, dalam rangka pencegahan penyebaran covid-19, Bank Indonesia mengimbau kepada masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dan dalam bertransaksi selalu meneliti uang yang diterima dengan 3 D, yaitu dilihat, diraba dan diterawang agar terhindar dari kerugian uang tidak asli, selalu merawat uang rupiah dengan 5 J, yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distaples, jangan dibasahi dan jangan diremas agar uang selalu dalam kondisi baik, serta membiasakan melakukan transaksi secara non tunai berbasis digital atau QRIS untuk mencegah penyebaran Covid- 19.

1bl#ik-5/3/2021

“Pada akhirnya kita berharap, masyarakat dapat bertransaksi secara aman, kesehatan terjaga dan ekonomi Bali bangkit kembali,” ujar Trisno Nugroho. mas/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close