Denpasar, PancarPOS | Perayaan Hari Ulang Tahun ke-11 JFC atau Raja Fried Chicken Asli Bali pada Minggu (25/1/2026), menjadi momentum penting tidak hanya bagi manajemen dan keluarga besar JFC, tetapi juga bagi pemerintah dan masyarakat sekitar. Anggota Komisi I DPRD Kota Denpasar, Ketut Ngurah Aryawan, SH, yang juga politisi Partai Gerindra, tampil sebagai figur sentral dalam perayaan tersebut dengan menegaskan pentingnya semangat bersinergi, berinovasi, dan melayani sepenuh hati sebagai fondasi utama keberlanjutan usaha lokal di Bali.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Ngurah Aryawan menyampaikan bahwa tema yang diusung JFC pada usia ke-11 bukan sekadar slogan seremonial, melainkan refleksi dari kebutuhan nyata dunia usaha saat ini. Ia menekankan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan kompetisi industri makanan cepat saji, hanya pelaku usaha yang mampu beradaptasi, berkolaborasi, dan menjaga kualitas pelayanan yang akan mampu bertahan dan berkembang.
“Tema yang kita usung bersama, bersinergi, berinovasi, dan melayani sepenuh hati, mudah-mudahan membawa JFC semakin jaya. Ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk perjalanan JFC ke depan,” tegas Ngurah Aryawan di hadapan para undangan, mitra usaha, karyawan, dan masyarakat penerima bantuan.

Ia juga mengajak seluruh hadirin untuk membangun optimisme bersama dengan meneriakkan yel-yel JFC maju dan JFC jaya. Menurutnya, semangat kolektif seperti ini penting untuk menjaga energi positif dalam organisasi dan usaha, terlebih memasuki tahun 2026 yang penuh tantangan sekaligus peluang besar.
Sebagai wakil rakyat, Ngurah Aryawan menilai JFC telah menunjukkan peran strategis sebagai usaha lokal yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang nyata. Hal ini terlihat dari konsistensi JFC dalam melibatkan masyarakat sekitar, memberikan bantuan sosial, serta membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan tempat usaha beroperasi.
Sebagai laporan ketua panitia, ia menegaskan bahwa perayaan HUT ke-11 JFC tidak hanya dirancang sebagai ajang hiburan, tetapi juga sebagai momentum refleksi dan konsolidasi internal dengan menyalurkan 50 paket sembako kepada masyarakat di sekitarnya. Setelah melewati perjalanan panjang dengan berbagai tantangan, JFC kini memasuki fase penguatan internal, pengembangan sumber daya manusia, serta akselerasi inovasi digital.
Ngurah Aryawan dalam kapasitasnya sebagai tokoh publik dan bagian dari keluarga besar JFC menyoroti pentingnya transformasi digital sebagai keniscayaan. Ia mengingatkan bahwa dunia usaha tidak bisa lagi bertumpu pada pola lama, termasuk dalam hal promosi dan komunikasi dengan konsumen.

Menurutnya, setiap outlet JFC harus mulai aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana branding, komunikasi, dan pelayanan. Namun, ia menekankan bahwa digitalisasi harus dibarengi dengan kualitas pelayanan yang baik. Tanpa pelayanan yang tulus dan profesional, media sosial justru bisa menjadi bumerang bagi citra usaha.
“Digitalisasi bisa berdampak positif atau negatif. Semua tergantung bagaimana kita melayani masyarakat. Kalau pelayanannya buruk, masyarakat akan langsung tahu. Tapi kalau kita bangun pelayanan yang baik dan jujur, saya yakin JFC akan semakin besar,” ujarnya.
Ngurah Aryawan juga menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi dunia usaha di Bali, termasuk persaingan ketat dan perubahan perilaku konsumen, seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman semata, melainkan peluang untuk bangkit dan tumbuh lebih kuat. Ia mengajak seluruh owner dan karyawan JFC untuk menjadikan tantangan sebagai pemicu inovasi dan peningkatan kualitas.
Selain aspek bisnis dan digitalisasi, perhatian besar juga diberikan pada nilai kemanusiaan yang menjadi napas JFC sejak awal berdiri. Dalam laporan panitia disebutkan bahwa JFC secara konsisten menjalankan kegiatan sosial, mulai dari bantuan sembako, dukungan bagi warga kurang mampu, hingga fasilitas ambulans dan pengawalan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks ini, Ngurah Aryawan menilai JFC memiliki keunggulan dalam hal social branding. Menurutnya, kepedulian sosial yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi nilai pembeda yang tidak dimiliki semua pelaku usaha. Ia mendorong agar fasilitas sosial yang dimiliki JFC dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan masyarakat luas. “Ini adalah identitas sosial JFC. Jangan ragu untuk terus berbagi dan hadir di tengah masyarakat. Inilah yang membuat JFC berbeda,” katanya.

Perayaan HUT ke-11 JFC juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Ubung. Lurah Ubung, Dwi Karyna Paramita, S.STP, M.A.P., dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas undangan dan kepedulian JFC terhadap masyarakat di wilayahnya.
Menurut Dwi Karyna Paramita, JFC bukanlah nama asing bagi masyarakat Ubung. Produk yang ditawarkan telah menjadi bagian dari keseharian warga, khususnya anak-anak. Ia bahkan menyampaikan secara personal bahwa anaknya sendiri merupakan penggemar menu ayam JFC, yang menunjukkan kuatnya kedekatan merek ini dengan masyarakat.
Ia menilai kegiatan sosial yang digelar dalam rangka HUT ke-11 JFC memiliki makna yang sangat penting. Sebanyak 50 warga dari empat banjar di Kelurahan Ubung dihadirkan sebagai penerima bantuan. Mereka merupakan warga yang telah dipilih secara selektif, terdiri dari kelompok kurang mampu, lansia, penyandang disabilitas, dan warga terlantar. “Kami berharap bantuan ini benar-benar dirasakan manfaatnya dan menjadi doa bagi JFC agar semakin besar dan berkembang,” ujar Dwi Karyna Paramita.
Ia juga menyoroti peran Ngurah Aryawan yang sejak lama dikenal memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap warga Ubung, bahkan sebelum menjabat sebagai anggota DPRD. Menurutnya, keterlibatan wakil rakyat dalam kegiatan sosial seperti ini memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Sementara itu, pemilik JFC, I Made Agus Putra Jaya, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan JFC hingga memasuki usia ke-11. Ia menyebut bahwa perjalanan JFC penuh dengan tantangan, kerja keras, dan dinamika, namun semua itu dilalui dengan semangat kebersamaan.
Ia menegaskan bahwa tema bersinergi, berinovasi, dan melayani sepenuh hati menjadi komitmen utama JFC dalam menghadapi masa depan. Menurutnya, keberhasilan JFC tidak lepas dari peran mitra, karyawan, dan dukungan masyarakat. “Kami tidak bisa berdiri sendiri. JFC tumbuh karena kepercayaan masyarakat dan kerja keras seluruh tim,” kata bos JFC ini.
Ia berharap JFC ke depan terus menjadi pilihan utama masyarakat Bali dan Indonesia, khususnya bagi pecinta ayam goreng crispy, sekaligus tetap menjaga identitasnya sebagai usaha lokal asli Bali yang berjiwa sosial.
Melalui dukungan tokoh legislatif seperti Ngurah Aryawan, sinergi pemerintah kelurahan, serta komitmen manajemen dan karyawan, perayaan HUT ke-11 JFC menjadi simbol kuat bahwa usaha lokal Bali mampu tumbuh berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri. Momentum ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi JFC untuk melangkah lebih jauh, lebih inovatif, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. ama/ksm






