Tabanan, PancarPOS | Ketua DPRD Kabupaten Tabanan, I Nyoman Arnawa, mengungkap fakta memprihatinkan terkait kualitas pendidikan di daerahnya. Dalam keterangannya, Arnawa menyebut dua lulusan SMA asal kampungnya ternyata belum lancar membaca, meskipun telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang menengah atas.
“Saya kenal betul mereka, seorang laki-laki dan satu perempuan. Mereka tamat SMA, tapi saat saya tanya soal bacaan sederhana, mereka kesulitan membaca dengan lancar. Padahal secara fisik dan mental mereka tampak sehat dan normal,” ungkap Arnawa, pada Sabtu (24/5/2025).
Temuan ini, menurut Arnawa, bukan hanya soal dua individu, tetapi menjadi cermin persoalan yang lebih luas dalam sistem pendidikan. Ia mengatakan, berdasarkan pengamatannya, tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak siswa di Tabanan yang mengalami hal serupa—lulus tanpa kemampuan literasi yang memadai.
“Kalau ini terjadi di kampung saya, bisa jadi di tempat lain juga ada. Ini sinyal bahwa kita harus berbenah. Jangan sampai ada siswa naik kelas atau bahkan lulus tanpa menguasai keterampilan dasar seperti membaca,” tegasnya.
Yang membuatnya lebih prihatin, kedua lulusan tersebut diketahui sudah tidak lancar membaca sejak duduk di bangku SMP. Namun, mereka tetap bisa menamatkan pendidikan tanpa ada intervensi yang memadai dari pihak sekolah.
Arnawa juga mempertanyakan mekanisme evaluasi dan kelulusan di sekolah-sekolah. Ia menduga ada tekanan atau kebijakan tertentu yang membuat siswa tidak boleh tinggal kelas, meskipun belum menguasai kompetensi dasar.
“Katanya ada aturan tidak boleh menahan anak murid tidak naik kelas. Tapi kalau akhirnya mereka lulus tanpa bisa membaca, itu jadi masalah serius. Tujuan pendidikan jadi tidak tercapai,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Tabanan, segera mengevaluasi sistem pembelajaran dan pengawasan terhadap kemampuan dasar siswa, khususnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Ia juga meminta agar orang tua tidak cepat marah atau menyalahkan guru ketika anak diberi perlakuan tegas selama proses belajar.
“Kita semua harus punya empati. Kalau tidak dari sekarang diperbaiki, kita akan kehilangan satu generasi yang lemah secara literasi,” tutupnya. mas/ama/*






