Pemprov Bali Soroti Anomali Pariwisata, PHRI Catat Okupansi Hotel Turun Meski Kunjungan Tinggi

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali menyoroti adanya anomali dalam kinerja sektor pariwisata Bali, menyusul catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali terkait penurunan tingkat okupansi hotel di tengah tingginya angka kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025.
Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace mengungkapkan, berdasarkan data PHRI, tingkat okupansi hotel di Bali mengalami penurunan sekitar 8 persen jika dibandingkan antara tahun 2024 dan 2025.
“Secara kunjungan wisatawan meningkat, tetapi okupansi hotel justru turun. Ini menjadi kondisi yang tidak normal dalam struktur pariwisata Bali,” ungkap Cok Ace dalam kegiatan Rakerda PHRI Bali yang dihadiri jajaran Pemprov Bali.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kinerja industri perhotelan dan berpotensi memengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ketika PAD tidak tumbuh signifikan, maka kemampuan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga menjadi terbatas.
“Kunjungan wisatawan naik, tetapi okupansi menurun dan PAD tidak bergerak signifikan. Kalau PAD tidak meningkat, tentu kesejahteraan masyarakat ikut terpengaruh,” ujarnya.
Cok Ace menambahkan, penurunan okupansi pada bulan Januari merupakan pola musiman yang hampir terjadi setiap tahun dan tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan faktor cuaca ekstrem. Menurutnya, cuaca buruk merupakan fenomena global yang juga dialami destinasi wisata lain, bukan hanya Bali.
Selain faktor musiman, PHRI Bali menyoroti maraknya akomodasi yang tidak terdaftar secara resmi. Keberadaan akomodasi ilegal tersebut dinilai memecah distribusi wisatawan dan menggerus pangsa pasar hotel resmi yang selama ini menjadi penyumbang pajak daerah.
Menanggapi hal tersebut, Pemprov Bali memandang penting penguatan basis data pariwisata yang valid, terintegrasi, dan lintas sektor. Data yang akurat dinilai menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan, pengendalian pertumbuhan akomodasi, serta proyeksi kebutuhan kamar di masa depan.
“Tanpa data yang kuat, sulit menentukan apakah Bali masih membutuhkan tambahan kamar atau justru sudah mengalami kelebihan pasokan,” kata Cok Ace.
Pemprov Bali menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pelaku industri, termasuk PHRI, dalam menata ekosistem pariwisata Bali agar pertumbuhannya tidak semu, tetapi benar-benar berdampak pada industri, PAD, dan kesejahteraan masyarakat secara luas. mas/ama/*









