Turba di Badung, Made Urip Buka Bimtek Kapasitas Petani dan Penyuluh Peternakan Modern

Badung, PancarPOS | Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., kembali turun ke bawah atau Turba untuk membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Sistem Peternakan Modern di Kabupaten Badung. Bimtek untuk peningkatan kapasitas sekitar 100 peserta dari petani dan penyuluh itu, dipusatkan di Hotel Made Bali, Sempidi, Badung, Jumat (20/5/2022). Ketua DPP PDI Perjuangan yang membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu, sekaligus menemui para kelompok tani dan krama subak, setelah sebelumnya membuka Bimtek kapasitas petani dan penyuluh di Gianyar yang berlangsung di Green Kubu Cafe, Tegallalang, Gianyar, Rabu (18/5/2022). Wakil Rakyat Sejuta Traktor yang akrab disapa M-U tersebut, kali ini bersama Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang berupaya memberikan wawasan dan pengetahuan teknis untuk pengembangkan peternakan secara modern.

Kehadiran Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI itu, disambut Kabag Umum Polbangtan Malang, Novi Nuraini, S.Si., MP., bersama Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, beserta narasumber dari Kepala BPTP Bali Dr.drh. I Made Rai Yasa, MP., beserta ahli dan pakar Temaja., dan Drh. Iman Adi Wijoyo, M.Vet. Bimtek yang terus menyasar kaum Marhaen ini, memang sangat dirasakan sangat menyentuh kepentingan petani. Seperti dikatakan Ketua Subak Blahkiuh, I Made Karta yang menyambut gembira Bimtek yang terus digencarkan Made Urip di Kabupaten Badung. Ia sangat berharap ke depan petani dan penyuluh bersama stake holder bisa meningkatkan kapasitasnya. Apalagi sudah banyak bantuan yang diberikan oleh Made Urip selama ini, baik berupa infrastruktur maupun Alsintan, sehingga sektor pertanian lebih maju, mandiri dan modern. “Selain itu, kami hadapkan bantuan dan Bimtek dari Pak Made Urip bisa terus berlanjut,” paparnya.
Sementara itu, Kadis Pertanian dan Pangan Badung, Wayan Wijaya mengakui berkat perjuangan Made Urip kembali bisa menggelar Bimtek bersama Polbangtan Malang. Karena itu, mengucapkan terima kasih kepada Made Urip yang perhatiannya sangat luar biasa terhadap sektor pertanian di Bali termasuk di Badung. “Pak Urip sangat cocok di Komisi IV DPR RI, karena namanya Urip, artinya sebagai sumber kehidupan manusia. Jadi tidak heran sudah 5 kali menjadi anggota DPR RI dan kita berdoa, agar beliau kembali bisa terpilih dan berjuang untuk para petani,” katanya. Seperti Bimtek kali ini untuk penguatan kapasitas petani dan penyuluh yang perlu mendapat perhatian yang besar. Apalagi petani dan penyuluh, juga perlu mengikuti perkembangan teknologi di sektor pertanian secara modern, karena akan terus berkembang. Untuk itu, petani dan penyuluh diminta tidak boleh ketinggalan agar tidak kalah dari sisi kualitas dan kuantitas. Apalagi mau tidak mau, petani dan penyuluh harus bisa memanfaat teknologi pertanian, seperti di Badung untuk meningkatkan produksi, kualitas maupun kontinyunitas, meskipun belum bisa maksimal.

“Kita bersyukur masih bisa berjuang lewat Pak Urip, karena lewat APBD mengalami keterbatasan anggaran. Karena itu, peserta harus mengikuti Bimtek ini dengan baik, terutama penyuluh yang perannya sangat penting,” tutupnya. Di sisi lain, Kabag Umum Polbangtan Malang, Novi Nuraini mengakui para peserta sangat bersemangat untuk meningkatkan produktifitas pertanian, sekaligus meningkatkan kapasitas baik petani dan penyuluh yang terus berinovasi. Ada hal-hal baru yang menjadi harapan yang bisa diterapkan di lapangan dan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan bersinergi dengan penyuluh untuk menerapkan inovasi baru, meskipun ada kendala, namun dengan pelatihan selama Bimtek yang tidak sekedar memberikan teori. Peserta diharapkan agar menyimak dan fokus mengikuti pelatihan dan materi Bimtek ini. “Tetap semangat, karena usia petani bisa menyentuh generasi muda, karena sektor pertanian ini sangat menjanjikan yang terbukti selama pandemi Covid-19. Terus fokus dan tetap semangat membawa sektor pertanian agar maju, mandiri dan modern,” harapnya.
Sementara itu, Made Urip menyampaikan Bimtek sebagai program kerjasama dengan Kementerian Pertanian sebagai mitra kerja Komisi IV DPR RI yang menyangkut urusan perut rakyat untuk mendapatkan akses pangan yang mudah, murah dan terjangkau. Apalagi di masa pandemi, satu-satunya yang bisa tumbuh hanya sektor pertanian. Apalagi di Bali sebelumnya hanya bergantung di sektor pariwosata sehingga pertumbuhan ekonomi hampir minus 12 persen. Hal itu menjadi pelajaran, sehingga sektor pertanian yang menjadi kultur dan budaya dengan subak abian dan subak basah, kini menjadi sektor unggulan sebagai penyangga pangannya Bali. “Selain itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan APBD saja, sehingga harus mengakses dana dari ABPN, karena sumbernya banyak. Terutama di sub sektor perkebunan tumbuh dengan bagus, seperti kelapa sawit, termasuk sektor tambang tumbuh signifikan,” tegas Anggota DPR RI lima periode dengan 255.130 suara terbanyak Dapil Bali dan ranking ketujuh nasional itu.

Disadari mencermati sektor pertanian mengalami tantangan yang serius yang perlu dilindungi dengan kebijakan pemerintah daerah agar lahan produktif tidak beralih fungsi. Apalagi lahan pertanian kelas satu di Badung hampir terkikis habis dan pelan-pelan menghilang. “Bagaimana Pemkab Badung memproteksi, agar hamparan sawah bisa dilindungi?,” sentil M-U. Selain itu, juga sangat khawatir dengan jumlah penyuluh yang sekarang ini, terutama ASN sudah mulai pensiun. Padahal memegang peranan yang strategis untuk menyampaikan informasi tentang sektor pertanian ini. Tantangan lainnya, akibat regenerasi petani yang sebagian besar sudah tua. Untungnya selama Covid-19 generasi muda sudah mulai menekuni sektor pertanian yang sebenarnya sangat menjanjikan. Apalagi Badan Pangan Dunia atau FAO sudah menyebutkan beberapa negara akan terjadi krisis pangan akibat perubahan iklim, termasuk di Indonesia jika tidak diantisipasi dengan baik. Karena kebutuhan pangan akan terus bertambah, sehingga perlu ada kajian lebih lanjut terutama dari BPTP. “Jadi kita dorong terus agar sektor pertanian bisa tumbuh dan tangguh untuk menyiapkan ketahanan pangan kepada masyarakat,” tutupnya.
Di samping itu, juga disadari saat ini ada wabah penyakit mulut dan kuku atau PMK yang menjadi penyakit yang berbahaya, karena dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bebas PMK dan biayanya sangat banyak. Apalagi Bali juga memiliki Sapi Bali yang harus dijaga dan dilindungi kemurniannya. “Kita sudah mewanti-wanti agar importasi daging harus ketat hanya dari negara yang bebas dari PMK. Tapi ada kebijakan yang melonggarkan importasi daging, sehingga masuk daging dari India dan Brasil yang belum semua daerahnya bebas PMK,” jelasnya, seraya meminta agar peserta bisa mengikuti Bimtek ini dengan baik dan serius untuk menjaga ketahanan pangan, sekaligus mencegah PMK masuk ke Bali. ama/ksm









