Ny. Putri Koster Harap.Aksara Bali Jangan Hanya Jadi Warisan
Harus Tetap Hidup dan Digunakan

Denpasar, PancarPOS | Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster mengajak masyarakat Bali untuk tidak hanya bangga memiliki bahasa, aksara dan sastra Bali, tetapi juga terus mempelajari, menggunakan serta mewariskannya kepada generasi mendatang.
Menurut Putri Koster, aksara merupakan salah satu penanda penting peradaban sebuah kelompok masyarakat. Karena itu, keberadaan aksara Bali yang diwariskan para leluhur merupakan kekayaan budaya yang patut dijaga bersama.
Pesan tersebut disampaikan Putri Koster saat menghadiri Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026).
“Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri,” ujar Putri Koster.
Ia menegaskan, keberlangsungan aksara Bali tidak cukup hanya mengandalkan regulasi pemerintah. Aturan memang menjadi landasan penting, tetapi keberadaan aksara Bali pada akhirnya sangat bergantung pada kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, sebuah warisan budaya dapat perlahan menghilang ketika masyarakat pemiliknya sendiri mulai meninggalkan penggunaannya.
Karena itu, pelestarian bahasa, aksara dan sastra Bali harus dimulai dari kesadaran masyarakat Bali sendiri. Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal aksara Bali sebagai peninggalan masa lalu tanpa mampu membaca, menulis atau menggunakannya.
“Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita,” tegasnya.
Putri Koster menjelaskan, Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah memberikan landasan regulasi untuk memperkuat pelestarian bahasa, aksara dan sastra Bali.
Salah satunya melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Namun, menurutnya, regulasi tersebut harus diikuti implementasi nyata. Jangan sampai aturan telah tersedia, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, tetapi penggunaan aksara Bali dalam kehidupan masyarakat justru semakin berkurang.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Bahasa, aksara dan sastra Bali, kata Putri Koster, merupakan kekayaan budaya bernilai luhur yang dapat dipelajari oleh siapa saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk mengenal, memahami dan menggunakannya.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Bahasa, aksara dan sastra Bali ini adalah kekayaan kita. Ini warisan leluhur yang harus kita jaga dan wariskan,” ujarnya.
Putri Koster juga berharap kegiatan seperti Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” tidak berhenti sebagai forum diskusi semata.
Menurutnya, seminar dan sosialisasi harus mampu melahirkan karya nyata yang dapat memperkuat keberadaan bahasa, aksara dan sastra Bali di tengah masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah melalui penerbitan buku dan berbagai karya lain yang dapat dimanfaatkan masyarakat, khususnya generasi muda.
Dengan adanya karya yang terus diproduksi, aksara Bali tidak hanya tersimpan dalam dokumen sejarah atau prasasti, tetapi tetap memiliki ruang untuk digunakan, dipelajari dan dikembangkan.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, Putri Koster juga melihat adanya peluang besar untuk memperluas penggunaan aksara Bali.
Teknologi tidak seharusnya membuat masyarakat semakin meninggalkan aksara tradisional. Sebaliknya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan aksara Bali kepada generasi muda dengan cara yang lebih mudah dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Ketua Panitia Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, Wayan Sila Sayana, mengatakan perkembangan teknologi digital justru membuka peluang baru bagi pelestarian dan pengembangan aksara Kawi dan Bali.
Menurutnya, hingga saat ini telah dikembangkan 46 jenis font aksara Bali oleh para perancang huruf dari Indonesia maupun luar negeri.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aksara Bali memiliki ruang untuk berkembang di era digital. Aksara tradisional tidak harus berhadapan dengan teknologi sebagai ancaman, tetapi dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas penggunaan dan pengenalannya.
Dengan tersedianya berbagai font aksara Bali, masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk menggunakan aksara Bali dalam berbagai media digital.
Hal tersebut sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal aksara Bali melalui perangkat dan platform yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Seminar “Nyastra” sendiri menghadirkan dua narasumber. Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa membawakan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara”.
Sementara I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, membawakan materi “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar”.
Pembahasan mengenai prasasti, perkembangan aksara hingga teknologi font tersebut menunjukkan bahwa pelestarian aksara Bali memiliki dimensi yang luas.
Aksara Bali bukan hanya berkaitan dengan peninggalan masa lalu, tetapi juga menyangkut bagaimana warisan tersebut dapat tetap digunakan dan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masa kini.
Putri Koster berharap gerakan pelestarian bahasa, aksara dan sastra Bali semakin tumbuh sebagai gerakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Pemerintah memiliki peran dalam menyediakan regulasi, fasilitas dan ruang pengembangan. Sementara masyarakat memiliki peran utama dalam menjaga agar aksara tersebut tetap hidup melalui penggunaan sehari-hari.
Terlebih generasi muda yang akan menjadi penerus kebudayaan Bali. Mereka perlu diberikan ruang, pengetahuan dan kesempatan untuk mengenal aksara Bali dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka.
Pelestarian, menurut Putri Koster, bukan berarti membawa masyarakat kembali ke masa lalu. Justru warisan budaya harus mampu berjalan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan memanfaatkan teknologi digital, aksara Bali diharapkan dapat memiliki ruang yang semakin luas, baik dalam pendidikan, kebudayaan, literasi maupun berbagai bentuk komunikasi modern.
Melalui Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, semangat tersebut kembali ditegaskan. Aksara Bali bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan bagian dari identitas dan peradaban Bali yang harus terus hidup.
Karena itu, tugas menjaga aksara Bali bukan hanya berada di tangan pemerintah, akademisi atau pemerhati budaya. Masyarakat Bali sendiri memiliki peran paling penting untuk memastikan warisan leluhur tersebut tidak berhenti sebagai cerita sejarah.
Selama aksara Bali terus dipelajari, digunakan, dikembangkan dan diwariskan, selama itu pula warisan leluhur tersebut akan tetap hidup di tengah perubahan zaman. mas/ama/*









