Pariwisata dan Hiburan

Ujian Kenaikan Tingkat Sanggar Tari Semara Duta Satukan 162 Anak, Gung Is: Saya Bangga Jadi Generasi Penjaga Tari Bali


Badung, PancarPOS | Semangat pelestarian budaya Bali kembali menyala lewat Ujian Kenaikan Tingkat Sanggar Tari Semara Duta yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, di Pura Desa lan Puseh Padang Luwih. Sebanyak 162 anak dari dua wilayah, Denpasar dan Badung, menyatu dalam satu panggung pembuktian kemampuan, disiplin, dan kecintaan mereka terhadap seni tari Bali.

Kegiatan ini menjadi momen penting bagi Sanggar Tari Semara Duta dalam menegaskan eksistensinya sebagai ruang tumbuh generasi muda Bali yang mencintai akar budayanya. Ujian kenaikan tingkat ini bukan sekadar seremoni, melainkan proses evaluasi terstruktur yang telah dilaksanakan sekitar 12 kali sejak sanggar ini berdiri dan berkembang.

Pelatih sekaligus pendiri sanggar, I Gede Mahendra Semara, S.Sn., menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk komitmen berkelanjutan dalam membina anak-anak agar tidak tercerabut dari identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi yang kian deras.

“Untuk kenaikan tingkat kali ini jumlah peserta 162 anak. Ini gabungan dari dua sanggar, yang di Denpasar dan di Badung. Di Denpasar ada 62 anak, dan di Badung 100 anak. Kita satukan dalam satu momentum,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, sistem kenaikan tingkat dilakukan secara berkala untuk mengukur perkembangan teknik, ekspresi, penguasaan pakem, hingga sikap disiplin para peserta. Proses ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran karakter, bukan hanya kemampuan teknis menari.

Sanggar Tari Semara Duta memiliki dua basis utama pembinaan, yakni di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Meski berbeda wilayah administratif, semangat dan kurikulum pembinaan yang diterapkan tetap seragam.

Di Denpasar, sanggar ini telah memiliki izin resmi dari pemerintah kota. Hal ini menjadi kekuatan legalitas sekaligus pengakuan terhadap peran sanggar dalam membina generasi muda. Sementara di Badung, sanggar berkembang pesat dengan jumlah peserta yang lebih banyak.

“Perkembangannya lumayan bagus. Di Denpasar kita sering dilibatkan dalam pentas budaya anak-anak, seperti di Lapangan Puputan Badung. Biasanya kalau ada pentas, anak-anak difasilitasi untuk kostum dan rias. Itu sangat membantu agar mereka bisa tampil maksimal,” jelasnya.

Momentum pentas di ruang publik seperti Lapangan Puputan Badung menjadi panggung aktualisasi bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar di ruang latihan, tetapi juga merasakan atmosfer tampil di hadapan masyarakat luas.

Di tengah kekhawatiran sebagian pihak terhadap menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisional, Sanggar Tari Semara Duta justru melihat sinyal positif.

“Untuk saat ini anak-anak sudah mulai tertarik lagi pada budaya seni, khususnya tari. Minatnya ada, tinggal bagaimana kita sebagai pembina konsisten dan sabar membimbing,” ungkap I Gede Mahendra Semara.

Ia mengakui, tantangan globalisasi dan gempuran budaya populer memang nyata. Namun, jika pembinaan dilakukan dengan pendekatan yang tepat, anak-anak tetap memiliki rasa bangga terhadap seni tradisi.

Menurutnya, tari Bali bukan hanya soal gerak, tetapi juga penanaman nilai. Anak-anak diajarkan tentang etika, ketekunan, rasa hormat kepada guru, serta makna spiritual di balik setiap tarian yang dipentaskan.

Pelaksanaan ujian di Pura Desa lan Puseh Padang Luwih pun bukan tanpa makna. Pura sebagai ruang sakral menjadi simbol bahwa seni tari Bali memiliki akar religius dan filosofis yang dalam. Anak-anak tidak hanya diuji kemampuan teknis, tetapi juga diajak memahami konteks budaya dan spiritualnya.

Meski perkembangan peserta cukup menggembirakan, sanggar ini masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu yang paling dirasakan adalah keterbatasan fasilitas, terutama perangkat pendukung seperti sound system dan speaker.

“Kalau untuk pengajaran di rumah atau tempat latihan sebenarnya sudah berjalan. Cuma kendalanya di sound, speaker, fasilitasnya. Kadang kalau alatnya kurang bagus, anak-anak jadi kurang maksimal saat latihan,” katanya.

Fasilitas yang memadai menjadi kebutuhan penting dalam pembinaan seni tari, apalagi jika jumlah peserta mencapai ratusan anak. Kualitas audio yang baik sangat memengaruhi sinkronisasi gerak dan irama.

I Gede Mahendra Semara berharap pemerintah ke depan bisa lebih memperhatikan keberadaan sanggar-sanggar tari yang secara nyata berperan menjaga warisan budaya Bali.

“Harapannya tentu untuk pemerintah, supaya lebih diperhatikan lagi sanggar-sanggarnya. Kita ini membina anak-anak, menjaga budaya Bali. Dukungan fasilitas dan program berkelanjutan sangat dibutuhkan,” tegasnya.

Ujian kenaikan tingkat yang telah dilakukan sekitar 12 kali ini memiliki standar penilaian yang jelas. Anak-anak dinilai dari aspek teknik dasar, ketepatan gerak, ekspresi wajah atau seledet, keluwesan tubuh, hingga penguasaan ruang.

Selain itu, kedisiplinan selama proses latihan juga menjadi pertimbangan penting. Sanggar ingin membentuk generasi yang tidak hanya piawai menari, tetapi juga memiliki karakter kuat.

Setiap tingkat memiliki materi yang berbeda, mulai dari tari dasar untuk pemula hingga tarian yang lebih kompleks bagi tingkat lanjut. Proses ini memastikan pembinaan berlangsung bertahap dan sistematis.

Atmosfer ujian berlangsung khidmat namun penuh semangat. Orang tua tampak hadir memberikan dukungan moral kepada anak-anak mereka. Suasana pura yang sakral berpadu dengan semangat anak-anak yang mengenakan busana latihan.

Salah satu peserta ujian, Anak Agung Istri Chantika Ariaswari, yang akrab disapa Gung Is, mengaku bangga bisa mengikuti kenaikan tingkat bersama ratusan peserta lainnya.

Siswi kelas 4 SDN 4 Pemecutan, Denpasar, ini mengatakan bahwa ia mulai menari sejak usia dini dan merasa semakin mencintai seni tari Bali setelah bergabung di sanggar.

“Saya senang bisa ikut ujian kenaikan tingkat. Latihannya memang capek, tapi kalau sudah bisa menari dengan baik rasanya bangga,” ujarnya polos.

Bagi Gung Is, menari bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga cara untuk mengenal budaya leluhurnya. Ia berharap bisa terus belajar hingga mampu tampil di berbagai panggung besar di Bali.

Gung Is mencerminkan semangat banyak anak lainnya yang hadir hari itu. Di tengah gawai dan hiburan digital, mereka memilih menggerakkan tubuh mengikuti irama gamelan, menjaga denyut budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kegiatan ujian kenaikan tingkat ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan wacana. Ia harus diwujudkan dalam pembinaan konkret, konsisten, dan terstruktur.

Sanggar Tari Semara Duta menunjukkan bahwa dengan komitmen dan dedikasi, ratusan anak dapat diarahkan untuk mencintai seni tradisi. Namun, perjuangan ini tidak bisa berjalan sendiri.

Dukungan pemerintah daerah, baik dalam bentuk fasilitas, program pentas rutin, maupun perhatian kebijakan, menjadi elemen penting agar sanggar-sanggar seperti ini dapat terus berkembang.

Di sisi lain, peran orang tua juga krusial. Tanpa dorongan dan komitmen keluarga, anak-anak sulit untuk disiplin mengikuti latihan yang rutin dan intens.

Ujian kenaikan tingkat pada 15 Februari 2026 ini bukan hanya catatan administratif dalam perjalanan sanggar. Ia adalah penegasan bahwa generasi Bali masih memiliki harapan, masih ada anak-anak yang bersedia belajar, berlatih, dan mencintai seni tari sebagai bagian dari identitasnya. ama/ksm



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button