Politik dan Sosial Budaya

Gong Sakral Menggema di Desa Tua, Made Urip Gelontor Bantuan Gubernur Dikawal Made Usmantari

Bangun Spirit Nangun Sat Kerti Loka Bali


Tabanan, PancarPOS | Komitmen menjaga denyut seni dan budaya Bali kembali dibuktikan secara konkret. Rabu malam (11/2/2026), suasana Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, dipenuhi getaran sakral ketika seperangkat Gong Semar Pegulingan resmi digelontorkan sebagai bantuan Gubernur Bali, Wayan Koster kepada Sanggar Jatayu Sabda Sundaram. Bantuan tersebut dikawal dan diperjuangkan oleh Ni Made Usmantari, Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Tabanan.

Penyerahan dilakukan langsung oleh Made Urip, tokoh senior PDI Perjuangan yang dipercaya Gubernur Bali sebagai anggota Tim Percepatan Pembangunan Provinsi Bali bidang pertanian. Momentum ini bukan sekadar seremoni penyerahan alat kesenian, melainkan simbol keberpihakan nyata pemerintah terhadap pelestarian budaya di tingkat desa.

Hadir dalam kesempatan tersebut Perbekel Desa Tua, Babin, Bendesa Adat, jajaran PKK, Sekaa Gong Wanita, STT, serta berbagai unsur masyarakat lainnya. Kehadiran lintas elemen desa menunjukkan bahwa gong bukan hanya milik satu kelompok, tetapi menjadi aset bersama krama Desa Tua.

Seperangkat Gong Semar Pegulingan yang digelontorkan memiliki nilai historis dan estetika tinggi dalam tradisi Bali. Instrumen ini identik dengan nuansa klasik dan sakral, lazim digunakan dalam upacara keagamaan maupun pertunjukan seni bernilai adiluhung. Di tengah derasnya arus globalisasi, keberadaan gong menjadi benteng identitas sekaligus ruang pendidikan karakter bagi generasi muda.

Pada kesempatan itu, Ketua Sanggar Jatayu Sabda Sundaram, Dek Alwin, menyampaikan bahwa bantuan Gubernur Bali yang dikawal oleh Ni Made Usmantari sangat bermanfaat untuk melestarikan nilai-nilai seni dan budaya, sekaligus membina generasi muda agar aktif dalam kegiatan positif di masyarakat. Ia menegaskan bahwa anggota sanggar terdiri dari lintas banjar se-Desa Tua, sehingga keberadaan gong ini akan memperkuat solidaritas dan kebersamaan.

Made Urip gelontor bantuan seperangkat Gong Semar Pegulingan dari Gubernur Bali yang dikawal Ni Made Usmantari, kepada Sanggar Jatayu Sabda Sundaram di Desa Tua, Marga, Tabanan, Rabu malam (11/2/2026), disaksikan Perbekel Desa Tua, Bendesa Adat, Babin, PKK, Sekaa Gong Wanita, STT, dan krama desa. (foto: ist)

Menurutnya, seni bukan hanya soal pentas, tetapi tentang pembentukan mental dan karakter. Anak-anak muda yang terlibat dalam latihan tabuh belajar disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Dengan adanya perangkat baru ini, semangat mereka semakin terangkat.

Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Provinsi Bali dan Made Urip beserta Ni Made Usmantari sebagai wakil rakyat terhadap kebutuhan desa. Ia berharap gong tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal dan bisa terus dirawat bersama agar memberi manfaat jangka panjang.

Ni Made Usmantari sangat dikenal sebagai wakil rakyat dari Dapil Tabanan yang dinilai konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk kebutuhan sarana kesenian. Bantuan gong ini menjadi bukti bahwa fungsi politik tidak berhenti pada legislasi dan pengawasan, tetapi juga menyentuh langsung kebutuhan kultural masyarakat.

Di sisi lain, Made Urip dalam sambutannya menegaskan bahwa bantuan Gubernur Bali yang diperjuangkan oleh Ni Made Usmantari merupakan dorongan nyata agar generasi muda tetap aktif dan kreatif dalam melestarikan seni budaya. Ia mengingatkan bahwa Bali sebagai destinasi wisata dunia bertumpu pada pariwisata berbasis budaya.

“Kalau kita ingin pariwisata Bali tetap kuat, maka budayanya harus kita jaga. Jangan sampai kita hanya menikmati hasilnya, tetapi lupa merawat sumbernya,” tegasnya.

Made Urip yang juga pernah menjabat anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dikenal luas sebagai “bapak sejuta traktor” oleh kalangan petani dan krama subak. Ia juga sempat dipercaya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan selama tiga periode. Di kalangan petani Bali, ia dikenal sebagai bapak pertanian Bali karena konsistensinya memperjuangkan sektor agraria.

Baginya, pertanian dan kebudayaan adalah dua fondasi utama Bali. Subak merupakan sistem budaya yang menyatu dengan kehidupan masyarakat, sama halnya dengan gong sebagai simbol peradaban desa. Karena itu, pembangunan Bali harus dilakukan secara holistik dan terpadu.

Konsep Nangun Sat Kerti Loka Bali kembali ditegaskan dalam acara tersebut sebagai arah pembangunan Bali. Pembangunan tidak boleh semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi harus menjaga kesucian alam, manusia, dan kebudayaan. Pelestarian seni menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia Bali.

Sekaa Gong Wanita dan STT pun menyambut gembira bantuan tersebut. Mereka melihatnya sebagai peluang memperluas ruang ekspresi seni dan memperkuat regenerasi seniman muda di Desa Tua. Gong ini diharapkan menjadi pusat aktivitas budaya yang hidup dan produktif.

Bantuan ini bukan sekadar pengadaan alat, tetapi investasi kebudayaan jangka panjang. Anak-anak yang hari ini belajar menabuh gong adalah generasi yang kelak menjaga pura, memimpin upacara, serta menyambut wisatawan dengan seni yang otentik dan bermartabat.

Malam itu, setelah prosesi penyerahan selesai, denting pertama Gong Semar Pegulingan pun menggema di Desa Tua. Suaranya lembut namun tegas, seolah menegaskan bahwa Bali tetap berdiri di atas budayanya.

Gelontoran bantuan Gubernur Bali yang dikawal Ni Made Usmantari dan diserahkan oleh Made Urip bukan hanya memperkuat satu sanggar. Ia memperkuat komitmen bersama bahwa pembangunan Bali harus tetap berpijak pada akar tradisi, sejalan dengan semangat Nangun Sat Kerti Loka Bali. ama/ksm/kel



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button