World Bank Ingatkan 5 Ancaman Serius Bali, Gubernur Koster Tegaskan Haluan Bali 100 Tahun Jadi Tameng Masa Depan

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali menerima masukan strategis dari World Bank terkait tantangan besar yang dihadapi Pulau Dewata agar tetap menjadi destinasi unggulan dunia sekaligus daerah yang berkelanjutan di masa depan. Lima persoalan utama itu disampaikan langsung World Bank Country Director untuk Indonesia, Carolyn Turk saat bertemu Gubernur Bali, Wayan Koster di Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (22/5/2026).
Dalam pertemuan penting tersebut, Carolyn Turk mengungkapkan bahwa Bali saat ini masih menjadi primadona dunia. Namun di balik pesona pariwisata dan pertumbuhan ekonominya, Bali menghadapi lima tantangan besar yang harus segera ditangani serius agar tidak menjadi ancaman di masa depan.
Lima isu utama yang menjadi sorotan World Bank meliputi pengelolaan dan daur ulang air bekas pakai, penanganan sampah, mobilitas transportasi, penyediaan air bersih, serta ketersediaan energi listrik di sejumlah wilayah Bali.
Menurut Carolyn, jika berbagai persoalan mendasar itu tidak diantisipasi sejak sekarang, maka Bali berpotensi menghadapi krisis lingkungan dan tekanan kualitas hidup masyarakat di masa mendatang.
“Kami tidak hanya melihat kondisi Bali saat ini, tetapi juga periode-periode mendatang. Bali saat ini masih menjadi primadona dunia. Tantangannya adalah bagaimana Bali tetap menjadi daerah unggulan hingga tahun-tahun ke depan,” ujar Carolyn Turk.
World Bank pun meminta Pemerintah Provinsi Bali membentuk tim teknis khusus untuk berkolaborasi dengan tim analis World Bank guna membahas langkah-langkah strategis dan solusi konkret menghadapi tantangan tersebut.
“Hasil pembahasan bersama tim teknis nantinya akan kembali disampaikan kepada Gubernur Bali dalam agenda pertemuan berikutnya,” jelas Carolyn.
Ia menegaskan bahwa tim analis World Bank tidak hanya memotret kondisi Bali hari ini, tetapi juga menghitung potensi tekanan pembangunan dan kebutuhan masyarakat Bali dalam jangka panjang.
“Bali harus tetap menjadi daerah unggulan dan tetap prima hingga tahun-tahun mendatang,” tegasnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan apresiasi sekaligus menegaskan bahwa sebagian besar isu yang disampaikan World Bank sebenarnya telah masuk dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun atau Bali Era Baru 2025–2125.
Menurut Koster, pembangunan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan memang menjadi tantangan besar karena membutuhkan pendanaan sangat besar dan perencanaan jangka panjang yang matang.
“Kami mengucapkan terima kasih atas berbagai masukan yang disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Bali. Infrastruktur memang menjadi salah satu perhatian utama kami di Bali karena membutuhkan pendanaan yang sangat besar,” ujar Koster.
Koster menegaskan bahwa Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun tidak hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga seluruh unsur kehidupan yang menopang keseimbangan Pulau Bali.
“Haluan ini tidak hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga seluruh unsur kehidupan yang diciptakan Tuhan di bumi,” katanya.
Dalam aspek lingkungan, Pemerintah Provinsi Bali terus memperkuat kebijakan pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, hingga program menjaga kualitas lingkungan hidup agar Bali tetap bersih dan sehat.
Menurut Koster, alam Bali harus tetap dijaga demi menopang kehidupan generasi mendatang dan menjaga daya tarik Bali sebagai destinasi dunia.
Sementara pada aspek kebutuhan dasar manusia, Koster menegaskan bahwa masyarakat Bali membutuhkan udara bersih, air sehat, pangan yang cukup, sandang dan papan yang layak.
“Udara Bali harus bagus. Air bersih dan sehat harus disiapkan. Bali juga harus berdaulat pangan,” tegasnya.
Di sektor energi, Pemprov Bali terus mendorong kemandirian energi bersih dan menolak pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di Bali. Pemerintah daerah kini lebih mengutamakan pengembangan energi ramah lingkungan dan kendaraan listrik berbasis baterai.
Selain itu, Pemprov Bali juga tengah menyiapkan program pengolahan sampah menjadi energi listrik bekerja sama dengan Danantara sebagai bagian dari transformasi pengelolaan lingkungan dan energi berkelanjutan.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memperluas gerakan penanaman pohon, mangrove, dan tanaman endemik Bali untuk memperkuat tutupan hutan dan menjaga keseimbangan ekologis Pulau Dewata.
Menurut Koster, seluruh kebijakan tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan Bali, memperkuat budaya Bali, sekaligus menyiapkan ekosistem kehidupan yang sehat bagi masyarakat Bali dalam jangka panjang.
“Budaya Bali harus dijaga dan dibangun dengan baik. Ekosistem penunjang kehidupan juga harus disiapkan secara baik dan berkelanjutan,” tambah Koster.
Sebagai simbol persahabatan dan komitmen kolaborasi, Gubernur Bali menyerahkan souvenir berupa kain endek Bali, arak Bali, serta Buku Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125 kepada Carolyn Turk.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya Jessica Ludwig selaku Senior Development Specialist World Bank Group, Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital Bappenas, Wahyu Wijayanto, Kepala Bappeda Provinsi Bali, I Wayan Wiasthana Ika Putra, serta Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Ida Bagus Surja Manuaba. mas/ama/*









