Jumat, April 17, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalBupati Adi Arnawa Pimpin Aksi Bersih Pantai Kuta dan Serukan Perang Total...

Bupati Adi Arnawa Pimpin Aksi Bersih Pantai Kuta dan Serukan Perang Total Lawan Sampah

Badung, PancarPOS | Komitmen perang terhadap sampah ditegaskan secara terbuka oleh Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, saat memimpin langsung apel dan aksi korve bersih sampah laut di Shelter Kebencanaan Baruna, Pantai Kuta, Minggu (22/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang mengusung tema “Kolaborasi untuk Indonesia ASRI”.

Apel tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, serta unsur Forkopimda, anggota DPRD, pimpinan perangkat daerah, instansi vertikal, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, LSM, hingga masyarakat. Hadir pula anggota DPRD Badung I Nyoman Graha Wicaksana dan I Wayan Puspa Negara.

Peringatan HPSN bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini lahir dari tragedi longsor TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 di Cimahi yang menelan korban jiwa dan menjadi titik balik reformasi kebijakan persampahan nasional. Sejak saat itu, paradigma pengelolaan sampah bergeser dari pola linear kumpul–angkut–buang menuju pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan ekonomi sirkular berbasis regulasi nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Adi Arnawa membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq. Ia menegaskan bahwa pemerintah kini bergerak di bawah satu visi besar: Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).

Gerakan ini secara resmi dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 sebagai strategi akseleratif menghadapi krisis persampahan yang dinilai telah memasuki tahap darurat sistemik. Presiden menekankan bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai. Diperlukan langkah luar biasa, masif, terstruktur, dan berkelanjutan.

“Gerakan ini menempatkan perubahan perilaku sebagai fondasi utama. Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumber, baik rumah tangga, satuan pendidikan, kawasan usaha, maupun institusi pemerintahan melalui pemilahan, pengurangan timbulan, dan optimalisasi fasilitas pengolahan seperti MRF, TPS 3R, dan TPST,” tegas Adi Arnawa saat membacakan sambutan menteri.

Usai apel, aksi korve bersih sampah langsung digelar di pesisir Pantai Kuta. Namun kegiatan tidak berhenti di sana. Secara serentak, aksi serupa juga dilaksanakan di sejumlah titik strategis di Kabupaten Badung, antara lain Pantai Kudeta Seminyak, Pantai Legian, Pantai Jerman, Pantai Kelan, Pantai Kedonganan, Lingkungan Pura Batu Ngaus Cemagi, serta Lingkungan GOR Putra Persada Banjar Angkeb Canging.

Bupati Adi Arnawa menegaskan, persoalan sampah tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan konvensional. HPSN harus dimaknai sebagai titik akselerasi perubahan.

“Kita tidak bisa lagi bertumpu pada pola kumpul–angkut–buang. Penanganan sampah harus dimulai dari hulu melalui pemilahan yang disiplin dan konsisten,” tegasnya.

Ia juga meluruskan persepsi publik terkait kondisi pantai di Badung. Menurutnya, kegiatan bersih pantai sebenarnya telah menjadi agenda rutin setiap hari Jumat dengan melibatkan satuan pendidikan, pelaku pariwisata, masyarakat, serta ASN sebagai bentuk partisipasi kolektif.

“Pantai pada dasarnya sudah dibersihkan. Kendala lebih pada distribusi dan antrean di TPA. Kami telah menginstruksikan koordinasi intensif agar pengangkutan dilakukan bertahap sehingga tidak menimbulkan persepsi bahwa pantai tidak terkelola,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Badung, lanjutnya, juga mengoptimalkan fasilitas pengolahan sementara seperti TPST Mengwi dan TPST Padang Seni guna menekan residu sampah yang masuk ke TPA hingga maksimal 20 persen sesuai ketentuan regulasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi hulu–hilir yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Tak berhenti pada aksi simbolik, Pemkab Badung juga akan menyelenggarakan lomba penanganan sampah mulai 1 Maret 2026. Program ini mencakup 62 lokasi dari 46 desa dan 16 kelurahan sebagai instrumen evaluasi berbasis kinerja sekaligus edukasi publik.

“Kalau kolaborasi ini berhasil, beban penanganan sampah akan lebih ringan. Beban pembiayaan negara serta biaya pemulihan lingkungan akibat pencemaran dapat ditekan. Mari kita jadikan HPSN 2026 sebagai titik balik transformasi lingkungan. Indonesia yang ASRI bukan sekadar cita-cita, melainkan realitas yang kita wariskan untuk generasi mendatang,” serunya.

Peringatan HPSN 2026 di Badung tidak hanya menjadi refleksi tragedi masa lalu, tetapi juga penegasan bahwa krisis sampah adalah persoalan struktural yang menuntut perubahan perilaku kolektif. Dari Pantai Kuta, pesan itu digaungkan: perang terhadap sampah dimulai dari diri sendiri, dari rumah, dari sumbernya. mas/ama/*

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img