Astra Bukukan Laba Rp24,5 Triliun, Buktikan Daya Tahan di Tengah Krisis Global

Jakarta, PancarPOS | Kinerja PT Astra International Tbk (“Astra”) selama sembilan bulan pertama tahun 2025 menunjukkan daya tahan kuat di tengah tekanan ekonomi global dan penurunan harga komoditas batu bara. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III tahun 2025 yang dirilis pada 31 Oktober 2025, laba bersih Astra tercatat sebesar Rp24,5 triliun, turun 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara pendapatan bersih konsolidasi mencapai Rp243,6 triliun, sedikit lebih rendah 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menjelaskan bahwa kinerja perusahaan masih solid meskipun dipengaruhi oleh harga batu bara yang lebih rendah dan permintaan kendaraan yang melambat di segmen entry-level. “Kami tetap fokus menjaga disiplin keuangan dan keunggulan operasional serta memanfaatkan kekuatan neraca keuangan untuk menangkap peluang pertumbuhan dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya.
Divisi Otomotif & Mobilitas menjadi salah satu penopang utama dengan laba bersih meningkat 1 persen menjadi Rp8,8 triliun. Kontribusi utama datang dari bisnis sepeda motor dan komponen, meskipun penjualan mobil nasional turun 11 persen menjadi 562 ribu unit. Penurunan ini terutama disebabkan oleh daya beli masyarakat yang melemah di segmen mobil murah. Pangsa pasar Astra di segmen mobil turun dari 56 persen menjadi 53 persen, terutama karena penurunan penjualan Daihatsu, sementara pangsa pasar Toyota tetap stabil.

Untuk sepeda motor, Astra Honda Motor mencatat penjualan stabil dengan total 4,8 juta unit atau hanya turun kurang dari 1 persen, dengan pangsa pasar nasional tetap kuat di 77 persen. Dari sisi komponen, PT Astra Otoparts Tbk membukukan peningkatan laba bersih 15 persen menjadi Rp1,3 triliun berkat kontribusi kuat dari seluruh lini bisnis.
Di sektor jasa keuangan, laba bersih meningkat 8 persen menjadi Rp6,7 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan pembiayaan konsumen yang mencapai Rp85,6 triliun, dengan fokus pada pembiayaan multiguna dan sepeda motor. PT Federal International Finance (FIF) mencatat kenaikan laba bersih 5 persen menjadi Rp3,5 triliun, sementara PT Astra Sedaya Finance naik 14 persen menjadi Rp1,2 triliun.
Dari sektor asuransi, PT Asuransi Astra Buana mencatat kenaikan laba 7 persen menjadi Rp1,2 triliun, terutama dari pendapatan underwriting dan hasil investasi. Namun, PT Asuransi Jiwa Astra mengalami penurunan premi bruto sebesar 26 persen menjadi Rp3,3 triliun.
Sementara itu, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi melalui PT United Tractors Tbk (UT) mengalami penurunan laba signifikan sebesar 26 persen menjadi Rp7 triliun. Hal ini disebabkan turunnya kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan penjualan batu bara, seiring harga batu bara global yang melemah dan curah hujan yang lebih tinggi. Meski demikian, penjualan alat berat Komatsu meningkat 10 persen menjadi 3.700 unit, menunjukkan permintaan yang masih kuat dari sektor konstruksi dan pertambangan emas.

Bisnis tambang emas melalui PT Agincourt Resources melaporkan peningkatan penjualan emas sebesar 8 persen menjadi 178 ribu ons. Harga emas dunia yang naik 37 persen ikut menopang kinerja positif dari segmen ini. Selain itu, UT juga tengah memperkuat posisi di bisnis nikel dengan kepemilikan mayoritas saham di PT Stargate Pacific Resources dan Nickel Industries Limited (NIC).
Sektor agribisnis juga memberikan kontribusi positif. PT Astra Agro Lestari Tbk mencatat kenaikan laba bersih 34 persen menjadi Rp853 miliar, ditopang oleh kenaikan harga minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 14 persen menjadi Rp14.277 per kilogram serta peningkatan volume penjualan CPO dan produk turunannya sebesar 14 persen menjadi 1,4 juta ton.
Divisi Infrastruktur mencatat kinerja gemilang dengan peningkatan laba bersih 28 persen menjadi Rp935 miliar. Peningkatan ini didorong oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan volume lalu lintas yang meningkat 7 persen di sepanjang jaringan tol Trans-Jawa dan lingkar luar Jakarta.
Pada segmen teknologi informasi, PT Astra Graphia Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih 20 persen menjadi Rp139 miliar, didukung peningkatan pendapatan dari solusi digital dan layanan dokumen. Sementara pada sektor properti, Astra memperluas ekspansi strategis dengan menyelesaikan akuisisi 83,7 persen saham PT Mega Manunggal Property Tbk (MMP), perusahaan pengembang properti industri dan logistik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Selain itu, Astra juga mengumumkan program share buyback dengan nilai maksimum Rp2 triliun, yang akan berlangsung mulai 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026. Program serupa juga dilakukan oleh United Tractors dengan nilai yang sama. Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas berkelanjutan.
Dalam proyeksi bisnisnya, Astra memperkirakan kinerja hingga akhir 2025 masih akan stabil dengan kontribusi kuat dari sektor non-komoditas seperti otomotif, jasa keuangan, agribisnis, dan infrastruktur. “Kami percaya resiliensi dan sinergi antar lini bisnis Grup Astra akan terus menjadi fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global,” tambah Djony.
Astra merupakan salah satu perusahaan publik terbesar di Indonesia, dengan 302 anak perusahaan dan lebih dari 190.000 karyawan. Perusahaan ini beroperasi di tujuh lini bisnis utama, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, Alat Berat dan Energi, Agribisnis, Infrastruktur, Teknologi Informasi, dan Properti. Astra memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan melalui Astra 2030 Sustainability Aspirations yang menargetkan transisi menuju perusahaan yang lebih hijau, inovatif, dan inklusif. uni/ama









