Jumat, April 17, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaInternasionalSetelah 66 Tahun, Bandung - Belgrade - Havana in Global History and...

Setelah 66 Tahun, Bandung – Belgrade – Havana in Global History and Perspective Fokuskan Aktualisasi Warisan Konferensi di Bali

Denpasar, PancarPOS | Selama 66 tahun setelah Konferensi Asia Afrika di Bandung, selanjutnya Surabaya dan kini, Bandung – Belgrade – Havana in Global History and Perspective berlangsung di Bali, akhirnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang impian, maupun tangangan yang dihadapi termasuk proyek yang perlu dirumuskan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Konferensi internasional yang berlangsung di Four Star Hotel, Renon, Denpasar, dari 7 hingga ditutup pada 14 November 2022, sebagai side event Internasional Summit G20 pada 15-16 November 2022 di Apurva Kempinski, Nusa Dua, Badung – Bali. Pertemuan kali ini, juga difokuskan pada warisan dan aktualisasi warisan Konferensi di Bandung. Dalam semangat ini, konferensi ini juga dipersembahkan bagi peringatan 60 tahun Konferensi Nonblok Beograd dan 55 tahun Konferensi Tiga Benua Havana yang merupakan tindak lanjut Konferensi Bandung yang paling menonjol.

Pada kesempatan itu, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Drs. Iman Gunarto, M.Hum., mengakui dari kacamatanya konferensi ini sangat penting sampai di Bali, karena sebagai informasi yang lalu harus kembali dihidupkan untuk masa depan lebih baik. “Kepemimpinan Indonesia di G20 tidak bisa lepas dari jejak kepemimpinan masa lalu untuk menatap masa depan yang lebih baik,” tandasnya. Di sisi lain, akademisi yang juga penulis buku pertahanan RI, Dr. Connie Rahakundini Bakrie mengakui pertemuan ini sesuatu yang sangat penting, sehingga bisa mengambil peran dari Indonesia untuk membentuk peradapan dunia sangat terintergrasi dengan isu G20 agar tidak sebatas tagline, namum harus bisa membentuk peradapan yang lebih maju dan adil di masa depan. “Pemikiran besar Soekarno sangat berhubungan dengan kekinian saat ini, apalagi ada perang dunia antara Rusia dan Ukraina,” tegasnya.

Engineering-Architect, Historian, and Associate Professor at the University of Le Havre, Khudori Darwis menyampaikan pentingnya peran akademisi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Badung, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Universitas (Unud) Bali yang memiliki bahan dan analisa otentik untuk mengambil kebijakan. Selain itu, juga punya komitmen untuk membangun dunia global yang makmur dan adil yang diikuti 33 negara dengan sarana dan biaya sendiri. “Ini karena mereka komit dengan inisiatif pihak indonesia yang memberikan sambutan yang sangat luar biasa,” tandasnya. Dikatakan, bangkitnya Asia sebagai kekuatan ekonomi dan pemain geopolitik global yang merupakan peluang bagi kebangkitan kekuatan Asia (China, India, Indonesia) untuk memimpin dunia menuju perdamaian, keadilan, dan kemakmuran abadi. Konferensi ini berlangsung berturut-turut di empat tempat yang memiliki arti khusus dalam gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan hubungan khusus dengan Sukarno, di Jakarta (07/11/2022), Bandung (08-09/11/2022), Blitar (09/11/2022), Surabaya ( 10-12/11/2022) dan Bali (13-14/11/2022). Konferensi ini melibatkan sekitar 140 sarjana dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi dari berbagai bidang profesional serta aktivis gerakan sosial dan solidaritas, yang berbasis di wilayah geografis yang beragam di Afrika, Amerika, Asia, Australia dan Eropa.

“Indonesia merupakan tempat yang tepat untuk memperingati tiga konferensi tersebut, karena menjadi saksi atas peran kunci Indonesia dan Presiden RI, Soekarno, selain para pemimpin Bandung lainnya, dalam sejarah perjuangan internasional untuk perdamaian, keadilan, dan kemakmuran global,” imbuhnya. Kebetulan Indonesia adalah ketua G20 dari 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022, dan KTT G20 ke-17 akan berlangsung di Bali pada 15-16 November 2022. Karena itu, Pernyataan/ Deklarasi Akhir konferensi disiapkan untuk diserahkan kepada pemerintah Indonesia sebagai negara anggota GNB dan G20. Dari keempat kota, dihasilkan rekomendasi berikut ini, yakni dari Jakarta:
1) Pentingnya literasi arsip nasional sebagai rujukan sejarah dan pijakan masa depan. Usulan ANRI dalam mengajukan arsip NAM dan Pidato Bung Karno To Build the World Anew di PBB tahun 1960 sebagai MOW UNESCO perlu mendapat dukungan dari kalangan akademisi internasional.
2) Perlunya mengenal pemimpin-pemimpin dunia yang berperan besar dalam perubahan tata-dunia dari yang bersifat hegemoni dan dominasi menjadi yang bersifat damai, adil dan makmur bagi semua. Tujuh tokoh dunia yang paling perlu dikenal adalah Jawaharlal Nehru, Zhou Enlai, Sukarno, Gamal Abdel Nasser, Josip Broz Tito, Kwame Nkrumah dan Fidel Castro.

Bandung:
1) Pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 layak menjadi rujukan dan titik tolak pembangunan tata-dunia baru berdasarkan perdamaian abadi, keadilan dan kemakmuran bagi semua.
2) Dalam menghadapi hegemoni dan dominasi Barat yang berkelanjutan sejak zaman kolonial sampai hari ini, negara-negara anggota BRICS dan NAM perlu melakukan sinergi untuk mengimbangi kekuatan Barat dan mengubah tata-dunia sebagaimana dicita-citakan oleh Bung Karno.
3) Di bidang tata-ekonomi dunia, diperlukan tiga pilar untuk mewujudkan tata-dunia tersebut:
a) Sejenis sistem perbankan baru yang relevant dengan kebutuhan pembangunan;
b) Sejenis mata-uang baru berdasarkan sumberdaya alam dan manusia, bukan berdasarkan spekulasi dan ekploitasi.
c) Sebuah alternatif tandingan bagi IMF yang mampu memberikan likuiditas dan stabilitas berdasarkan mata-uang lokal, regional dan sumber daya alam.

Surabaya:
1) Pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 bisa dijadikan paradigma bagi pembangunan tata-dunia baru yang multidimensional, baik dari segi politik, ekonomi, kebudayaan maupun militer.
2) Perlunya dibangun perangkat perekonomian dunia sebagai alternatif dari perangkat kapitalisme Barat seperti IMF, Bank Dunia dan Bretton Wood. Perekonomian alternatif ini bisa disebut Green Bandung Wood.
3) Di bidang gender, perlu dilakukan langkah-langkah bersama untuk mengakhiri system patriarki dan kekerasan terhadap perempuan.
4) Di bidang sosial-media, terjadi kesemrawutan digital (digital disorder) yang berdampak pada kesehatan mental dan ekonomi masyarakat, baik yang bersifat positif maupun negatif. Perlu dibangun system perundang-undangan yang mengatur transformasi digital agar dampak negatifnya bisa dihilangkan atau diminimalisir.
5) Di bidang tata-dunia, perlu digali dan dikembangkan imaginasi dan pemikiran berdasarkan Bandung Spirit.
6) Di bidang ekologi, perlunya dilakukan mitigasi terhadap kerusakan lingkungan dan ditetapkan prinsip-prinsip perancangan lingkungan dan perkotaan yang berdasarkan atas kebutuhan setempat, dan bukan atas buku-buku panduan dari negara asing. Pembangunan habitat yang berkelanjutan perlu menata ulang hubungan desa-kota dan memberikan prioritas bagi pembangunan perdesaan.

Bali:
1) Kolonialisme, neo-kolonialisme dan imperialisme Barat masih bercokol di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Gerakan-gerakan sosial dan politik di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin perlu bersatu untuk menggalang kekuatan dan solidaritas guna mengakhiri kolonialisme, neokolonialisme dan imperialisme serta memebangun alternatif tata-dunia baru berdasarkan perdamaian, keadilan dan kemakmuran abadi.
2) Perang masih terjadi di berbagai bagian dunia, baik di Afrika, Asia, Amerika maupun Eropa. Peperangan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara virtual, digital, melalui sosial-media dan secara ekonomi melalui sanksi-sanksi negara-negara Barat terhadap negara-negara yang tidak sesuai dengan kepentingan Barat. Perang yang terjadi di Ukraina saat ini bisa dipahami sebagai perlawanan Rusia terhadap agresi Barat yang sudah berlangsung secara bertahun-tahun melalui sanksi-sanksi ekonomi dan media. Perang di Ukraina adalah perang antara AS-NATO melawan Rusia. Perang ini sudah memakan korban jiwa tapi juga berdampak pada krisis global di bidang pangan, energi dan keuangan. Kampanye untuk menghentikan perang perlu terus dikumandangkan, termasuk seruan untuk menghentikan pasokan senjata dari Barat kepada Ukraina.
3) Dalam krisis global ini, NAM dituntut untuk berperan lebih aktif memprakarsai langkah-langkah damai dengan membangun sinergi dengan BRICS guna mengimbangi kekuatan ekonomi dan militer dari AS, NATO dan sekutu-sekutunya. ama/ksm/yar

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img