Minggu, April 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaEkonomi dan BisnisGejolak Global Tekan Logistik, Gung Bayu Joni Bidik Bali Jadi Kekuatan Baru...

Gejolak Global Tekan Logistik, Gung Bayu Joni Bidik Bali Jadi Kekuatan Baru Ekspor Nasional

Denpasar, PancarPOS | Lonjakan ongkos logistik global akibat konflik geopolitik yang tak kunjung mereda kini mulai menekan daya saing ekspor Indonesia. Situasi ini tidak hanya menjadi persoalan nasional, tetapi juga menjadi alarm serius bagi daerah strategis seperti Bali yang tengah didorong menjadi simpul logistik internasional. Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Provinsi Bali, Dr. Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra, S.E., M.M., atau yang akrab disapa Gung Bayu Joni, menegaskan bahwa kondisi ini harus dibaca sebagai peringatan keras sekaligus momentum perubahan.

Menurutnya, dinamika global hari ini kembali menegaskan satu hal fundamental yang selama ini kerap ia suarakan: logistik adalah urat nadi perekonomian. “Sekali lagi kita diingatkan bahwa logistik, seperti yang sering saya sampaikan, merupakan urat nadi perekonomian dari sebuah bangsa dan daerah. Ketika terjadi gejolak geopolitik, lalu muncul hambatan dalam distribusi, maka efeknya langsung terasa. Terjadi kenaikan biaya, harga ikut terdorong naik, bahkan bisa memicu krisis jika tidak diantisipasi dengan baik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu perubahan signifikan dalam jalur pelayaran internasional. Kapal-kapal harus memutar rute yang lebih panjang demi menghindari zona rawan, sehingga waktu tempuh bertambah dan konsumsi bahan bakar meningkat. Dalam industri logistik, kondisi ini langsung berdampak pada lonjakan biaya operasional.

1bl#ik-007.16/3/2026

Gung Bayu Joni menjelaskan bahwa dampak tersebut tidak berhenti di level industri atau pelaku ekspor semata. Efeknya merembet luas hingga ke kehidupan masyarakat sehari-hari. “Politik perang, politik ekonomi global ini tidak hanya berdampak di Timur Tengah. Dampaknya sampai ke dapur rumah tangga. Ibu-ibu yang belanja kebutuhan sehari-hari ikut merasakan. Karena kenaikan ongkos logistik akan berujung pada kenaikan harga bahan pokok, sembilan bahan pokok. Ini yang sering tidak disadari, tapi sangat nyata,” ujarnya dengan nada serius.

Ia menilai bahwa banyak pihak masih melihat logistik sebagai sektor teknis, padahal dampaknya sangat sistemik. Ketika distribusi terganggu, maka stabilitas harga ikut terguncang. Dalam skala besar, hal ini bahkan bisa mengganggu ketahanan ekonomi nasional. “Logistik ini bukan sekadar urusan kirim barang. Ini menyangkut stabilitas ekonomi. Kalau distribusi terganggu, harga naik, daya beli turun, ekonomi bisa melambat. Ini rantai yang tidak bisa diputus,” jelasnya.

Dalam konteks ekspor, ia menegaskan bahwa kenaikan biaya logistik secara langsung menggerus daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Eksportir harus menanggung biaya lebih tinggi, sementara harga jual di pasar global tidak selalu bisa dinaikkan. “Kalau biaya naik tapi harga jual tetap, maka margin tergerus. Ini yang membuat eksportir kita tertekan. Bahkan bisa kalah bersaing dengan negara lain yang sistem logistiknya lebih efisien,” katanya.

1th#ik-001.1/3/2026

Namun di tengah tekanan tersebut, Gung Bayu Joni tetap melihat adanya peluang strategis. Ia menilai bahwa kondisi global saat ini justru menjadi momentum untuk melakukan pembenahan besar-besaran di sektor logistik nasional. Menurutnya, Bali memiliki posisi strategis untuk mengambil peran lebih besar, khususnya sebagai hub logistik internasional untuk wilayah Indonesia Timur. Dengan potensi besar di sektor perikanan dan kelautan, Bali dinilai mampu menjadi pusat distribusi yang menghubungkan pasar domestik dan global.

“Bali ini punya semua prasyarat. Lokasi strategis, konektivitas internasional, dan potensi komoditas unggulan dari Indonesia Timur. Tinggal bagaimana kita membangun sistem logistik yang efisien dan terintegrasi,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti cold storage, pelabuhan ekspor, serta sistem distribusi berbasis teknologi. Tanpa itu, potensi besar yang dimiliki Bali dan Indonesia Timur akan sulit dimaksimalkan.

“Kita tidak boleh hanya bicara potensi. Harus ada eksekusi. Infrastruktur logistik harus diperkuat, digitalisasi harus dipercepat, dan kolaborasi harus diperluas,” tegasnya. Selain itu, ia mendorong pemerintah untuk terus memperluas pasar ekspor ke kawasan yang relatif stabil. Diversifikasi pasar menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terdampak konflik.

Namun, ia kembali mengingatkan bahwa perluasan pasar harus diimbangi dengan kesiapan logistik. “Jangan sampai kita sudah buka pasar baru, tapi logistik kita tidak siap. Ini harus berjalan beriringan,” katanya. Lebih jauh, Gung Bayu Joni menegaskan bahwa situasi global saat ini harus menjadi wake-up call bagi seluruh pemangku kepentingan. Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam mengelola logistik.

1th#ik-039.1/12/2025

“Ke depan, kita harus lebih adaptif, lebih efisien, dan lebih terintegrasi. Logistik harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan ekonomi,” ujarnya. Ia juga mengajak semua pihak untuk melihat persoalan ini secara komprehensif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Konflik geopolitik, menurutnya, selalu membawa dampak luas yang melampaui batas negara.

“Kita berharap konflik ini segera berakhir. Karena dampaknya bukan hanya pada perdagangan, tapi juga pada kehidupan manusia secara luas. Stabilitas global itu penting untuk kesejahteraan bersama,” katanya.

Menutup pernyataannya, Gung Bayu Joni kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong Bali menjadi pemain utama dalam sistem logistik nasional dan internasional. “Bali tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus jadi bagian dari solusi. Dan logistik adalah kunci untuk itu,” pungkasnya. ama/ksm/kel

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments