Ia menegaskan tokoh tua yang gaya politik, gaya komunikasi, visi kepemimpinannya lebih fokus infrastruktur oriented sudah tidak relevan lagi. Bali perlu tokoh muda yang lebih visioner dan progresif, mampu memperbaiki prilaku masyarakat Bali yang tidak lagi relevan dengan masa mendatang. Misalnya persoalan lingkungan, digitalisasi, persoalan UMKM yang tantangan pasarnya berhadapan dengan perilaku konsumen kaum milenial dan gen Z. “Jadi pemimpin dari kaum baby boomer, old mind sudah tidak cocok lagi dengan Bali di 2024 dan kedepannya. Kita perlu tokoh muda dengan new mind-nya,” tegas Suardana.

Bahkan Suardana berharap lahir pemimpin Bali dari tokoh muda dari kalangan tokoh independen. Bahkan dia mengajak anak-anak muda dan tokoh muda Bali sudah mulai melirik dan melihat siapa tokoh independen yang layak maju Bali Satu di Pilgub Bali 2024. “Kita anak-anak muda, kaum new mind harus sudah mulai berpikir mencari dan mengusulkan tokoh muda untuk memimpin Bali dan bisa melalui calon independen dan tentunya kita dukung penuh mereka,” pungkas Suardana. Disinggung mengenai peluang tokoh independen seperti AMD dan AWK merebut Bali Satu, para tokoh muda Bali punya penilaian sendiri. Dua tokoh itu dinilai punya citra yang cukup bagus di publik.
“Saya lihat mereka tokoh yang konsisten berupaya membentuk opini publik di media dan punya peluang untuk Bali Satu. Tapi memang untuk saat ini pergerakannya masih sangat dinamis,” ujar Sumerta yang juga merupakan tokoh pendidikan dan mantan Wakil Kepala Sekolah SMA Bali Mandara di saat sekolah itu baru berdiri di era kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster. Menurutnya dengan munculnya nama-nama tokoh itu untuk berebut Bali Satu dari tangan Koster maka pertarungan Pilgub Bali 2024 akan semakin seru dan masyarakat punya alternatif pemimpin yang diharapkan lebih baik dari pemimpin saat ini. “Itu akan menjadi hal yang sangat seru. Di internal PDIP pertarungan antara Koster dan Giri ini sama seperti kita melihat di nasional sekarang antara Ganjar dan Puan. Bahasanya PDIP mau baik-baik saja, mau menang mudah atau bermasalah. Kalau Pak Koster dicalonkan lagi saya tidak tahu kansnya seperti apa, bagaimana mesin partai akan sehebat apa bergeraknya,” urainya.
Bersambung….






