Buleleng, PancarPOS | Gubernur Bali Wayan Koster menyiapkan terobosan baru dalam sistem transportasi darat Bali Utara–Selatan. Setelah pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani mencapai titik 11–12, Pemprov Bali akan mengoperasikan layanan bus listrik rute Singaraja–Denpasar pulang-pergi.
Rencana tersebut disampaikan langsung Gubernur Koster saat menghadiri acara upacara adat ngeruak dan groundbreaking pembangunan shortcut titik 9–10, Rabu (7/1/2025). Menurutnya, layanan bus listrik ini akan menjadi solusi mobilitas harian masyarakat Buleleng yang bekerja di wilayah Denpasar dan Badung.
“Kalau nanti sudah tembus sampai titik 11–12, meskipun titik 1–2 belum, kita siapkan transportasi bus bolak-balik Singaraja–Denpasar,” ujar Koster di hadapan undangan. Bus listrik tersebut direncanakan beroperasi dari pagi hingga malam hari. Dengan pola layanan reguler, pegawai asal Singaraja yang bekerja di Denpasar maupun Badung tidak lagi harus tinggal kos di wilayah selatan Bali.
“Yang kerja di Denpasar atau Badung tetap bisa tinggal di Singaraja. Jadi wara-wiri setiap hari. Konsep Metro Dewata kita perluas sampai ke Buleleng,” tegas Gubernur Koster seraya mengungkapkan, bus listrik yang akan dioperasikan berjumlah 10 unit dan merupakan bantuan dari pemerintah Korea. Armada tersebut ditargetkan tiba paling lambat pada September 2026 dan akan diprioritaskan melayani kawasan Buleleng.
“Nanti kita operasikan untuk Buleleng. Ini keren dan ramah lingkungan,” katanya. Lebih jauh, Gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula itu menilai pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Bali Utara. Akses yang semakin cepat dan aman membuat aktivitas ekonomi dan sosial warga semakin lancar.
“Orang Buleleng bahkan tidak menyebut shortcut, tapi jalan tol yang terputus-putus. Banyak yang lewat tidak mau ngebut karena pemandangannya indah. Berhenti dulu di jembatan karena view-nya luar biasa,” ungkap Koster.
Ia juga mencatat, sebagian bus pariwisata dari Jawa menuju Bali kini mulai memanfaatkan jalur shortcut tersebut. Dampaknya, tingkat kunjungan dan lama tinggal wisatawan di Buleleng ikut meningkat. “Ini membawa berkah. Wisatawan jadi menginap di Buleleng. Kalau nanti titik 11–12 selesai, akan makin ramai,” ujarnya.
Koster menambahkan, geliat ekonomi Buleleng akan semakin kuat dengan rampungnya pembangunan Turyapada Tower yang ditargetkan selesai Desember 2026. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi objek wisata baru sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi Bali Utara. “Saya pantau terus. Targetnya Desember 2026 sudah bisa diresmikan. Buleleng harus kebagian rezeki ekonomi yang besar dari pembangunan ini,” tandasnya. mas/ama/*






