Minggu, April 5, 2026
BerandaEkonomi dan BisnisKisah Perjuangan Keluarga I Gusti Ayu Devionita Bangun "Kaldera Printing" dari Nol

Kisah Perjuangan Keluarga I Gusti Ayu Devionita Bangun “Kaldera Printing” dari Nol

Denpasar, PancarPOS | Perjalanan bisnis sering kali dimulai dari sebuah peluang kecil yang dipandang remeh orang lain. Tetapi bagi seorang ayah, yang kemudian mewariskan semangat itu kepada anaknya, peluang kecil bisa menjadi pintu besar menuju keberhasilan. Begitulah kisah keluarga I Gusti Ayu Devionita atau biasa disapa Ayu, yang membangun bisnis reklame sejak puluhan tahun lalu hingga kini dikenal dengan nama Kaldera Printing yang beralamat di Jl. Badak Agung XII, Sumerta Kelod, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali dengan lokasi google map:  https://maps.app.goo.gl/2oQYHZ4SGb84wdcSA?g_st=aw

Ketika ditanya bagaimana awal mula orang tuanya mendirikan usaha reklame yang kini bisa berdiri kokoh, Ayu tersenyum sambil mengingat kembali cerita panjang itu. Ia menjawab, “Berawal dari pengalaman ayah saya di bisnis ini tahun 1995 bekerja di swalayan terbesar di Bali. Saat itu melihat ada peluang,” katanya mengenang ketika ditanya PancarPOS, pada Kamis (2/10/2025).

Ayah Ayu, I Gusti Ngurah Pertama Putra, yang kala itu hanya seorang pekerja biasa, ternyata punya naluri bisnis yang kuat. Bekerja di swalayan besar membuatnya berinteraksi dengan dunia promosi dan iklan. Ia melihat bagaimana setiap produk membutuhkan cara untuk dikenalkan kepada konsumen. Dari situlah benih gagasan muncul. Jika swalayan bisa besar karena promosi, kenapa tidak mencoba membangun usaha sendiri di bidang reklame?

1th#ik-006.16/02/2025

Pengalaman sederhana itu menjadi titik tolak yang luar biasa. Dari sana, lahirlah keyakinan bahwa bisnis reklame memiliki masa depan panjang, apalagi di Bali yang saat itu mulai berkembang sebagai pusat pariwisata dunia. Tahun-tahun awal tentu tidak mudah. Ayah Ayu bukanlah orang yang memiliki modal besar. Semua dimulai dengan peralatan seadanya. Bahan-bahan reklame pun kala itu masih terbatas, tidak secanggih sekarang. Belum ada mesin digital printing, semua masih manual, bahkan mengandalkan cat dan kuas tangan.

Namun, justru dari keterbatasan itulah semangat dibangun. “Awalnya ayah kami melayani pesanan kecil, sekadar membuat tulisan dan papan sederhana. Tapi dari situlah kami belajar bahwa kepercayaan klien adalah modal utama,” kata Ayu. Setiap malam, ayahnya begadang menyelesaikan pesanan. Tangannya belepotan cat, matanya sering lelah karena harus teliti menggoreskan huruf. Tetapi ada rasa bangga setiap kali papan reklame terpasang di pinggir jalan dan orang-orang melihat hasil karyanya.

Pekerjaan itu bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari perjalanan membangun identitas. Bahwa keluarga kecil ini bisa memberikan kontribusi nyata dalam wajah kota, lewat papan-papan reklame yang berdiri di jalanan. Ayu menyadari, perjuangan ayahnya tidak hanya tentang mencari uang, tetapi juga menanamkan filosofi. “Orangtua saya selalu menekankan kerja keras, kejujuran, dan konsistensi. Itu yang membuat usaha ini bisa bertahan sampai sekarang,” ungkap mahasiswi semester 3 Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana itu.

1th#ik-039.1/10/2025

Nilai-nilai itu yang kemudian menjadi bekal bagi Ayu dan generasinya. Anak sulung dari pasangan I Gusti Ngurah Pertama Putra dan Ni Wayan Gandri ini mengaku, sejak kecil sering melihat ayahnya bekerja tanpa kenal lelah. Dari situlah muncul rasa kagum sekaligus dorongan untuk meneruskan perjuangan. Kini, bersama dua adiknya, I Gusti Ngurah Ryan Ananda Sasmika dan I Gusti Ngurah Aditya Wedananda, Ayu ikut mengembangkan bisnis keluarga Kaldera Printing. Seiring waktu, bisnis reklame ini berkembang. Dari pesanan kecil, kini bisa menggarap proyek lebih besar. Namun, perjalanan panjang ini penuh lika-liku. Ada masa di mana usaha nyaris berhenti karena krisis ekonomi, ada juga tantangan ketika teknologi berubah cepat. Tetapi dengan prinsip tidak mudah menyerah, keluarga ini bisa melewatinya.

Kisah perjuangan keluarga Ayu bisa dibilang sebagai contoh nyata bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Dari bekerja di swalayan pada tahun 1995, kini mereka bisa memiliki usaha reklame sendiri yang dikenal luas. “Kalau diingat, semuanya berawal dari hal sederhana. Dari melihat peluang ketika masih bekerja di swalayan, hingga akhirnya memberanikan diri untuk terjun langsung. Dan itu ternyata bisa jadi jalan hidup keluarga kami,” kata Ayu.

I Gusti Ayu Devionita bersama keluarga tercinta, didukung ayahnya I Gusti Ngurah Pertama Putra serta ibu Ni Wayan Gandri beserta keluarga besar Kaldera Printing. (foto: ayu)

Setiap bisnis keluarga yang bertahan puluhan tahun pasti memiliki cerita yang lebih dari sekadar angka keuntungan. Demikian pula dengan usaha reklame Kaldera Printing yang dibangun oleh orang tua Ayu sejak tahun 1995. Perjuangan sang ayah, I Gusti Ngurah Pertama Putra, berawal dari swalayan besar di Bali, melihat peluang kecil, lalu memberanikan diri untuk membangun usaha sendiri. Dari situlah lahir sebuah warisan yang kini dijaga oleh anak-anaknya, termasuk Ayu sendiri.

“Orangtua selalu bilang, jangan takut bekerja keras. Selalu jujur kepada klien, jangan hanya cari untung, tapi utamakan kualitas. Itulah yang beliau ajarkan sejak dulu,” ujar Ayu saat mengenang pesan-pesan yang tertanam sejak kecil. Warisan terbesar yang diturunkan bukanlah harta benda, melainkan nilai-nilai hidup. Bisnis reklame ini memang berdiri di atas papan, cat, mesin, dan tinta. Namun yang membuatnya bisa bertahan lebih dari dua dekade adalah nilai konsistensi, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi perubahan.

Ketika generasi Ayu mulai ikut serta dalam mengelola bisnis, tantangan yang mereka hadapi jauh berbeda dengan masa ayahnya dulu. Jika pada awalnya semua dilakukan manual, kini dunia reklame berubah total dengan hadirnya teknologi digital. “Dulu ayah saya membuat huruf dengan tangan, sekarang kami pakai mesin digital printing yang bisa mencetak dalam ukuran besar hanya dalam hitungan menit. Persaingan juga jauh lebih ketat, karena banyak pemain baru bermodal besar,” jelas Ayu.

1bl#bn-026.12/5/2024

Namun justru di sinilah letak tantangan sekaligus peluang. Generasi baru ini tidak boleh hanya terpaku pada cara lama, tetapi juga tidak boleh meninggalkan nilai-nilai dasar yang sudah ditanamkan orang tua. “Kami belajar bagaimana menjaga identitas usaha ini. Tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren, tapi tetap menjaga kualitas dan hubungan baik dengan pelanggan,” tambahnya.

Seperti halnya usaha lain, bisnis reklame keluarga ini juga mengalami masa-masa sulit. Salah satunya ketika krisis ekonomi melanda. Proyek-proyek besar tiba-tiba hilang, klien menunda pembayaran, dan operasional hampir lumpuh. “Ayah saya tetap sabar. Beliau bilang, dalam bisnis ada pasang surut, sama seperti hidup. Yang penting jangan menyerah, terus berusaha, dan tetap jaga kepercayaan,” cerita Ayu.

Tantangan berikutnya datang di era pandemi. Hampir semua usaha terhenti, termasuk reklame. Jalanan sepi, tidak ada event, tidak ada pameran, bahkan toko-toko pun banyak yang tutup. “Tapi justru di masa itu kami belajar berinovasi. Kami mencoba membuat produk kecil-kecilan seperti banner untuk UMKM, desain digital, sampai branding online. Meskipun tidak sebesar proyek reklame biasa, tapi itu membuat usaha tetap berjalan,” kata Ayu.

1bl#ik-042.19/9/2024

Bagi Ayah Ayu, bisnis bukan hanya soal mencari uang. Ia selalu mengajarkan bahwa setiap pekerjaan adalah bentuk ibadah. Membuat papan reklame bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk tanggung jawab. “Beliau selalu bilang, jangan pernah menipu klien. Kalau janji selesai tiga hari, ya harus tiga hari. Kalau ada kendala, harus berani jujur. Itu membuat usaha ini dipercaya orang,” jelas Ayu.

Filosofi itu pula yang membuat usaha reklame keluarga ini dikenal tidak hanya di Bali, tapi juga mulai merambah proyek luar daerah. Klien merasa nyaman karena kejujuran dan ketepatan waktu menjadi prinsip utama. Kini, estafet bisnis perlahan berpindah ke tangan generasi baru. Ayu bersama dua adiknya, I Gusti Ngurah Ryan Ananda Sasmika dan I Gusti Ngurah Aditya Wedananda, ikut mengelola Kaldera Printing dengan semangat baru. Mereka mulai menggunakan media sosial untuk promosi, membuat katalog digital, bahkan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain untuk proyek-proyek besar. Namun, di balik modernisasi itu, mereka tetap menempelkan satu pesan penting: jangan pernah melupakan akar perjuangan ayah.

“Kalau ditanya apa yang membuat kami bertahan? Jawabannya karena ini bukan hanya bisnis, tapi keluarga. Kami merasa punya tanggung jawab untuk menjaga apa yang sudah dibangun ayah dari nol,” ungkap Ayu. Kisah keluarga Ayu adalah bukti nyata bahwa sebuah bisnis bisa lahir dari peluang kecil. Dari seorang ayah yang bekerja di swalayan, melihat celah di bidang promosi, lalu memberanikan diri membangun usaha. Kini, usaha itu menjadi sumber kehidupan bagi keluarga dan memberi lapangan kerja bagi orang lain. Kisah ini juga memberi inspirasi bagi generasi muda yang ingin berbisnis. Bahwa modal besar bukanlah syarat utama. Yang paling penting adalah keberanian, kejujuran, dan konsistensi.

Salah satu hasil printing pesanan pelanggan Kaldera Printing. (foto: ama)

“Pesan saya untuk anak muda, jangan takut memulai. Lihat peluang sekecil apapun, jangan gengsi, dan jangan cepat menyerah. Kalau orang tua saya bisa memulai hanya dari cat dan kuas, kenapa kita yang sudah punya teknologi sekarang harus ragu?” tutup Ayu dengan senyum. Dari kisah panjang ini, kita bisa melihat bahwa bisnis reklame keluarga Ayu bukan sekadar usaha mencari keuntungan, melainkan sebuah perjalanan hidup. Dari awal mula di swalayan, perjuangan membangun dari nol, menghadapi krisis, hingga kini menjadi warisan yang menginspirasi generasi baru.

Kisah Ayu ini menegaskan bahwa semangat sang ayah bukan hanya bertahan dalam bentuk papan reklame di jalanan, tetapi juga hidup dalam diri anak-anaknya yang melanjutkan perjuangan. Sebuah warisan berharga, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi siapa saja yang mencari inspirasi untuk membangun masa depan. ama/ksm

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments