Denpasar, PancarPOS | Fenomena pemasangan bendera bajak laut One Piece yang marak di berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sekadar ekspresi budaya pop. Dalam perspektif manajemen strategik aplikatif, peristiwa ini justru mencerminkan adanya kesenjangan dalam kemampuan negara dan pelaku industri untuk mengelola arus budaya global menjadi kekuatan ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
Di tengah percepatan transformasi ekonomi digital, Indonesia dihadapkan pada realitas bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, semakin terhubung dengan identitas global. Bendera One Piece adalah simbol dari community-driven movement yang memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan pesan, identitas, bahkan resistensi terhadap struktur formal yang dianggap kaku.
Namun, alih-alih memanfaatkannya sebagai momentum untuk mendorong inovasi di sektor ekonomi kreatif, fenomena ini lebih banyak dihadapi dengan pendekatan normatif dan respons reaktif. Inilah tanda bahwa praktik manajemen strategik aplikatif kita masih belum adaptif terhadap disrupsi budaya dan ekonomi digital.
Manajemen strategik aplikatif menuntut respons cepat, fleksibel, namun tetap terukur dalam menghadapi dinamika eksternal yang kompleks. Tren bendera One Piece, yang lahir dari ekosistem digital, adalah contoh konkret bagaimana strategi komunikasi komunitas digital mampu menggerakkan perilaku massa, bahkan melebihi pengaruh media arus utama. Ini adalah kekuatan yang seharusnya dibaca sebagai peluang strategis, bukan ancaman.
Di sisi lain, Bali menjadi contoh unik. Tidak ditemukan fenomena pemasangan bendera One Piece secara masif di Pulau Dewata. Ini menandakan bahwa masyarakat Bali memiliki kesadaran kolektif yang kuat dalam menjaga nilai-nilai budaya lokal, tanpa menolak arus globalisasi. Dari perspektif manajemen strategik aplikatif, Bali menunjukkan model tata kelola kultural yang mampu meredam disrupsi tanpa harus mematikannya secara frontal.
Namun, ini saja tidak cukup. Pemerintah dan pelaku industri kreatif harus bergerak lebih progresif dengan membangun ekosistem ekonomi digital yang berbasis pada kolaborasi antar-stakeholder. Stakeholder engagement, inovasi model bisnis, dan pemanfaatan intellectual property lokal dalam bingkai globalisasi menjadi pilar penting dalam membangun ketahanan ekonomi di era budaya digital.
Jika tren semacam ini hanya dijawab dengan pelarangan, maka kita kehilangan momentum untuk memanfaatkan arus budaya sebagai penggerak ekonomi kreatif. Di sinilah pentingnya manajemen strategik aplikatif yang berpijak pada prinsip adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Tanpa itu, Indonesia hanya akan menjadi penonton dalam pentas ekonomi digital global.
Tantangannya kini adalah apakah pemerintah dan pelaku industri siap mengubah cara pandang dari sekadar merespons isu menjadi proaktif membangun strategi nasional ekonomi digital berbasis budaya. Momen viral seperti bendera One Piece seharusnya menjadi laboratorium strategis bagi Indonesia untuk membuktikan kematangan dalam mengelola disrupsi menjadi peluang ekonomi yang aplikatif. ***
Oleh: I Wayan Surnantaka
Mahasiswa Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Udayana






