Selasa, April 21, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPariwisata dan HiburanKejar Tayang! "Kartini Tidak Pernah Mati", dr. Bagus Pajang 52 Lukisan Realita...

Kejar Tayang! “Kartini Tidak Pernah Mati”, dr. Bagus Pajang 52 Lukisan Realita Perempuan di Living World Denpasar

Denpasar, PancarPOS | Suasana berbeda akan terasa di Living World Denpasar. Di tengah hiruk pikuk pengunjung yang lalu lalang, deretan lukisan justru menghadirkan ruang sunyi yang penuh makna. Pameran lukisan tunggal dr Bagus Darmayasa bertajuk Goresan emansipasi spirit Kartini resmi digelar mulai 22 hingga 30 April 2026, bertepatan dengan momentum Hari Kartini.

Dalam pameran ini, dr Bagus Darmayasa menampilkan sebanyak 52 karya lukisan dengan beragam teknik, mulai dari cat akrilik di atas kanvas, sketsa pensil, hingga teknik campuran. Seluruh karya tersebut berbicara tentang perempuan, dari masa lalu hingga masa kini, lengkap dengan segala dinamika dan tantangan yang mereka hadapi.

“Saya ingin orang yang datang ke sini tidak cuma lihat lukisan lalu lewat. Saya ingin mereka berhenti, melihat lebih lama, dan mulai berpikir. Karena ini bukan sekadar gambar, ini cerita,” ujar dr Bagus sapaan akrab Dirut RSU Puri Raharja itu.

Menurutnya, memilih tema perempuan dalam pameran ini bukan tanpa alasan. Ia melihat bahwa semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini belum selesai. Bahkan, dalam banyak hal, tantangan perempuan saat ini justru semakin kompleks.

dr Bagus Darmayasa saat menampilkan karya bertema perjuangan perempuan dalam rangka Hari Kartini 2026. (foto: ist)

“Kartini itu bukan hanya soal masa lalu. Semangatnya masih hidup sampai sekarang. Tapi realitanya, perempuan hari ini masih menghadapi banyak tekanan. Ada tuntutan dari keluarga, pekerjaan, lingkungan sosial, semuanya bertumpuk,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perempuan sering kali terlihat kuat di luar, tetapi menyimpan banyak hal di dalam. “Di lukisan-lukisan ini saya coba tampilkan itu. Ada yang terlihat tenang, tapi sebenarnya sedang menahan banyak hal. Ada yang terlihat berani, tapi di balik itu ada perjuangan yang tidak mudah,” jelasnya.

Dalam beberapa karya, dr Bagus menghadirkan sosok perempuan dengan balutan busana tradisional. Baginya, itu bukan sekadar estetika, tetapi simbol dari akar budaya yang kuat. “Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan tempo dulu itu luar biasa. Mereka mungkin tidak banyak bicara, tapi mereka kuat. Mereka bertahan di situasi yang tidak mudah,” ujarnya.

Sementara itu, pada karya lain, ia menggambarkan perempuan masa kini yang hidup di tengah dunia modern. “Perempuan sekarang punya lebih banyak ruang, itu benar. Tapi tantangannya juga beda. Tekanan sosial, standar kecantikan, tuntutan karier, itu semua nyata,” katanya. Selain sosok perempuan, beberapa lukisan juga menampilkan unsur alam dan fauna. Namun menurut dr Bagus, itu bukan sekadar pelengkap visual.

“Alam itu saya pakai sebagai simbol. Misalnya burung, itu tentang kebebasan. Tapi juga tentang rapuh. Karena kebebasan itu tidak selalu mudah didapat,” jelasnya. Ia mengaku bahwa setiap lukisan yang dibuat selalu melalui proses perenungan yang cukup panjang. “Saya tidak pernah melukis tanpa memikirkan maknanya. Semua ada ceritanya. Kadang itu datang dari pengalaman pribadi, kadang dari apa yang saya lihat di sekitar,” katanya.

Menariknya, dr Bagus sengaja memilih mall sebagai lokasi pameran, bukan galeri seni. “Saya ingin seni itu dekat dengan masyarakat. Tidak semua orang datang ke galeri. Tapi kalau di mall, semua orang bisa lihat. Ini lebih terbuka,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan ini penting untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap seni. “Banyak orang sebenarnya ingin tahu tentang seni, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Pameran seperti ini bisa jadi pintu masuk,” katanya.

Ia juga melihat bahwa respons pengunjung cukup positif. Banyak yang tidak hanya melihat, tetapi juga mencoba memahami. “Saya lihat ada yang berdiri lama di depan lukisan. Itu artinya mereka mencoba mengerti. Itu yang saya harapkan,” ujarnya. Bahkan, menurutnya, ada pengunjung yang terlihat tersentuh secara emosional. “Saya lihat ada yang sampai diam cukup lama. Mungkin mereka merasa relate dengan apa yang ada di lukisan itu,” katanya.

Bagi dr Bagus, keberhasilan pameran ini bukan diukur dari jumlah pengunjung atau penjualan karya, tetapi dari seberapa jauh pesan yang bisa sampai. “Kalau orang pulang dari sini dengan pikiran yang berbeda, itu sudah berhasil. Tidak harus langsung besar, yang penting ada perubahan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa seni punya peran penting dalam kehidupan sosial.

“Seni itu bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga untuk menyampaikan sesuatu. Kadang hal yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, bisa disampaikan lewat lukisan,” katanya. Dalam konteks perempuan, ia berharap pameran ini bisa menjadi refleksi bersama. “Saya ingin orang lebih menghargai perempuan. Melihat mereka bukan hanya dari peran, tapi juga dari perjuangan mereka,” ujarnya.

Ia juga berharap perempuan yang melihat pameran ini bisa merasa terwakili. “Mungkin ada yang merasa, ‘ini saya’. Itu penting. Karena berarti mereka tidak sendirian,” katanya. Lebih jauh, dr Bagus menilai bahwa ruang publik seperti mall bisa menjadi tempat yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan seperti ini. “Mall itu tempat orang berkumpul. Kalau di sini ada seni, ada pesan, itu bisa sampai ke banyak orang,” ujarnya.

Ia pun berharap ke depan akan semakin banyak ruang publik yang memberi tempat bagi seniman. “Seniman butuh ruang. Dan masyarakat juga butuh seni. Jadi ini sebenarnya saling melengkapi,” katanya. Selama pameran berlangsung, dr Bagus juga aktif berinteraksi dengan pengunjung yang datang. “Saya senang kalau ada yang bertanya. Itu berarti mereka tertarik. Dari situ bisa terjadi diskusi,” ujarnya.

Menurutnya, interaksi langsung seperti ini sangat penting. “Kadang orang punya interpretasi sendiri terhadap lukisan. Dan itu tidak salah. Justru itu yang membuat seni hidup,” katanya. Ia juga mengakui bahwa tidak semua orang langsung bisa memahami karya seni. “Itu wajar. Tidak semua harus langsung mengerti. Yang penting ada rasa ingin tahu,” ujarnya. Di akhir, dr Bagus kembali menegaskan bahwa pameran ini adalah bentuk kontribusinya sebagai seniman.

“Saya hanya ingin melakukan apa yang bisa saya lakukan. Lewat lukisan, saya ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa berguna,” katanya. Baginya, semangat Kartini bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk terus dihidupkan. “Selama masih ada ketidakadilan, selama itu juga semangat Kartini masih dibutuhkan,” ujarnya. Pameran ini pun menjadi bukti bahwa di tengah ruang modern seperti mall, suara-suara tentang perjuangan, kesetaraan, dan kemanusiaan tetap bisa hadir, bahkan dengan cara yang sederhana, melalui goresan warna dan kanvas. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img