Denpasar, PancarPOS | Euforia malam pengerupukan di Denpasar tahun 2026 menyisakan satu momen yang paling menyita perhatian publik. Ogoh-ogoh “Gajahdaha” karya Banjar Tainsiat yang sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu ikon Nyepi Tahun Caka 1948, dipastikan gagal tampil di Catus Pata pada Rabu malam (18/3/2026), setelah mengalami kerusakan teknis di tengah perjalanan serta terbentur batas waktu pengarakan yang melewati pukul 00.00 WITA.
Sejak awal, “Gajahdaha” memang menjadi salah satu ogoh-ogoh yang paling dinanti. Dengan konsep gajah mistis sebagai simbol penjaga hutan dan keseimbangan alam, karya yang diarsiteki oleh I Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux ini tampil dengan skala besar, detail ekstrem, serta konstruksi kompleks yang menuntut ketelitian tinggi dalam proses pengerjaan maupun saat pengarakan.
Namun di lapangan, situasi tak terduga terjadi. Saat ogoh-ogoh mulai bergerak di jalur pengarakan, salah satu bagian struktur mengalami patah. Insiden ini langsung memicu kepanikan sekaligus respons cepat dari tim pemuda Banjar Tainsiat yang berusaha melakukan perbaikan di lokasi dengan segala keterbatasan.

Upaya perbaikan sempat dilakukan dan ogoh-ogoh kembali dicoba untuk digerakkan. Harapan sempat muncul bahwa “Gajahdaha” masih bisa melanjutkan perjalanan menuju Catus Pata. Namun kenyataan berkata lain. Struktur yang sebelumnya patah kembali mengalami kerusakan untuk kedua kalinya, membuat kondisi semakin tidak memungkinkan untuk dipaksakan.
Ketua I STT Yowana Saka Bhuana Banjar Tainsiat, I Putu Alfin Pratama Putra, melalui sosial media menegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar prediksi tim. Ia menjelaskan bahwa sejak awal hingga sebelum keluar ke jalur utama, kondisi ogoh-ogoh dalam keadaan aman tanpa indikasi masalah. “Kalau kita lihat dari awal, semuanya aman-aman saja. Tapi saat sudah di luar, tiba-tiba ada bagian yang patah. Itu benar-benar di luar prediksi kami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya sempat berupaya memperbaiki kerusakan tersebut di lokasi. Namun setelah diperbaiki dan dicoba kembali, kondisi struktur tidak cukup kuat untuk menahan beban, sehingga kembali mengalami patah. “Sempat kami benarkan di tempat. Tapi setelah dicoba lagi, ternyata patah lagi. Di situ kami putuskan tidak bisa dilanjutkan,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, keputusan untuk menghentikan pengarakan menjadi pilihan paling rasional. Selain mempertimbangkan kondisi teknis yang sudah tidak memungkinkan, faktor keselamatan juga menjadi prioritas utama. Pihak banjar tidak ingin mengambil risiko yang dapat membahayakan pengarak maupun masyarakat yang menyaksikan.
Di sisi lain, waktu juga menjadi kendala yang tidak bisa dihindari. Proses perbaikan yang memakan waktu cukup lama membuat posisi pengarakan telah melewati batas waktu yang ditentukan, yakni pukul 00.00 WITA. Dengan kondisi tersebut, tidak ada lagi ruang untuk melanjutkan perjalanan ke Catus Pata. “Waktu juga tidak memungkinkan karena sudah lewat jam 12 malam. Jadi kami putuskan cukup sampai di sini saja,” tegas Putu Alfin.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Bali yang telah menantikan penampilan “Gajahdaha” di pusat keramaian pengerupukan. Menurutnya, keputusan ini diambil dengan penuh pertimbangan demi menghindari kekecewaan yang lebih besar. “Kami mohon maaf kepada teman-teman Bali dan semuanya. Tahun ini kami belum bisa tampil maksimal di Catus Pata. Mudah-mudahan ke depan bisa kami perbaiki,” ucapnya.
Kegagalan ini tentu menjadi pukulan bagi seluruh krama Banjar Tainsiat, terutama para pemuda yang telah bekerja keras dalam proses pembuatan ogoh-ogoh. Waktu, tenaga, dan kreativitas telah dicurahkan secara maksimal demi menghadirkan karya terbaik. Namun pada akhirnya, faktor teknis di lapangan menjadi penentu yang tidak bisa dihindari.

Meski demikian, banyak pihak tetap memberikan apresiasi terhadap konsep dan pesan yang diusung oleh “Gajahdaha”. Isu lingkungan yang diangkat dinilai relevan dan berani, mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap kondisi alam yang semakin tertekan akibat pembangunan yang tidak terkendali.
Di media sosial, respons masyarakat pun beragam. Ada yang menyayangkan kegagalan tersebut, namun tidak sedikit yang memberikan dukungan moral kepada Banjar Tainsiat. Mereka menilai bahwa keberanian berkarya dan menyampaikan pesan jauh lebih penting daripada sekadar tampil sempurna.
Banjar Tainsiat sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu banjar yang konsisten menghadirkan ogoh-ogoh inovatif dan penuh terobosan. Kegagalan tahun ini justru menjadi bagian dari dinamika proses kreatif yang tidak selalu berjalan mulus.
Pengalaman ini dipastikan akan menjadi bahan evaluasi ke depan, terutama dalam hal kekuatan konstruksi dan kesiapan teknis saat pengarakan. Semangat untuk terus berkarya diyakini tidak akan padam, melainkan semakin kuat untuk menghadirkan sesuatu yang lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Malam pengerupukan tahun ini pun akan tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan “Gajahdaha”. Sebuah karya besar yang membawa pesan kuat, namun harus terhenti sebelum mencapai puncaknya. ama/ksm


