Sejarah Mencatat, Belum Ada Wakil Gubernur yang Naik Tahta Menjadi Gubernur Bali
Selain itu, dukungan dari partai politik akan menjadi kunci utama. Tanpa restu dari kekuatan politik utama di Bali, langkahnya untuk mencalonkan diri sebagai gubernur bisa terhenti sebelum dimulai.
Jika I Nyoman Giri Prasta benar-benar ingin maju sebagai calon gubernur pada Pemilu 2030, ia harus menghadapi persaingan yang sangat berat. Salah satu nama yang digadang-gadang akan menjadi pesaing kuatnya adalah Made Mahayastra, Bupati Gianyar dua periode yang akan pensiun pada tahun 2030 dan diprediksi akan maju untuk merebut kursi Gubernur Bali yang ditinggalkan Wayan Koster.

Made Mahayastra, atau yang akrab disapa Agus Mahayastra, bukanlah sosok sembarangan dalam politik Bali. Ia dikenal sebagai tangan kanan sekaligus orang kepercayaan langsung Prananda Prabowo, putra Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Hubungan dekatnya dengan lingkaran elite partai membuat peluangnya mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan jauh lebih besar dibandingkan Giri Prasta.
Sejarah politik di Bali menunjukkan bahwa rekomendasi dari PDI Perjuangan memiliki pengaruh besar dalam menentukan siapa yang akan menjadi gubernur. Wayan Koster, misalnya, mendapat dukungan penuh dari Megawati dan berhasil memenangkan Pilgub Bali 2018 dengan dukungan solid dari partai berlambang banteng tersebut.
Jika Made Mahayastra benar-benar mendapatkan rekomendasi dari PDI Perjuangan, maka peluang Giri Prasta untuk maju menjadi gubernur bisa semakin kecil. Tanpa dukungan partai besar, Giri Prasta harus mencari jalur alternatif, entah dengan menggandeng partai lain atau membangun basis dukungan yang lebih luas di luar struktur partai.
Namun, politik selalu penuh kejutan. Masih ada waktu lima tahun bagi Giri Prasta untuk membuktikan kapasitasnya dan meyakinkan partai bahwa ia layak diberi kesempatan untuk naik ke kursi gubernur.