Minggu, April 19, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaDaerahMenginjak Rangkaian Penting Yadnya Digelar Suka Duka Dwi Yadnya Nongan

Menginjak Rangkaian Penting Yadnya Digelar Suka Duka Dwi Yadnya Nongan

Karangasem, PancarPOS | Jumat 15 Juli 2022, rangkaian acara Suka Duka Dwi Yadnya Nongan menginjak tahapan upacara Ngunggahan Sunari, Melaspas Wangunan dan Negtegang Karya, acara ini dipuput Ida Pedandai Istri Kania, Gria Alang Kajeng Nongan. Sunari merupakan salah satu Uparengga Yadnya, dan maknanya dan fungsinya. Su artinya baik atau taksu dan nari artinya widyadara dan widyadari.

1th#ik-19/7/2022

Menyitir pendapat beberapa sumber sunari atau sunar berarti sinar. Atau ada pendapat lain menyebutkan sunari sama dengan sundari yang artinya buluh perindu atau wanita cantik. Dalam bahsa Sanskerta, sundarigama berasal dari ata sundari yang artinya terang dan gama artinya petunjuk atau jalan. Jadi sunari merupakan salah satu pelengkap yadnya agama Hindu. Umumnya digunakan dalam acara ngenteg linggih, ngusaba desa, ngusaba nini,npengerorasan, atau mamukur, ngrasakin dan mabiukukung di sawah.

Penggunaan sunari dalam upacara yadnya bertujuan agar para widyadara-widyadari atau para dewa turun dari kahyangan menyaksikan dan menganugrahi kesejahteraan serta keselamatan pada upacara yang sedang berlangsung, ujar Ida Bagus Panjiarasa narasumber dari worshop pembuatan sunari dan pindekan di Kalangan Ayodya Art Center, Bali Post Com Kamis 4 Juli 2019.

Negtegang Karya dalam disebutkan, secara harfiah kata Negtegang Karya memiliki pengertian : metakitaki, bersiap-siap, medabdaban, guna menyongsong suatu karya/pekerjaan (mulia atau penting). Upacara Negtegang secara rohani/spriritual, mengajak I Krama untuk juga metaki-taki, menyiapkan diri secara nislaka dan sekala dalam menyongsong dan menyukseskan Karya Hayu yang akan dilaksanakan.

1bl#ik-1/6/2022

Mulai Menahan diri untuk tidak memproduksi pikiran negative, menjauhkan segala ucapan cah-cauh, kata-kata kotor, bohong, pitnah atau oax dan ujaran negative lainnya. Menghindarkan diri untuk tidak marah dan sombong/angkuh (https://dahramavada.com). Dikutip dari pengantar Anggaran Dasar Suka Duka Kelompok Suka Duka Dwi Yadnya Desa Nongan yang tertera disusun Sabtu, 2 Januari 2010 bahwa: sejak lama pendahulu kami telah mewariskan nilai nilai yang baik, dimana hubungan warga 3 banjar yaitu Banjar Bucu, Banjar Bukian dan Banjar Nongan Kaler Melaspas Wangunan.

Melaspas dalam bahasa Bali memiliki arti Mlas artinya pisah dan Pas artinya cocok dan dalam lontar Dewa Tatwa, yang bunyinya sebagai berikut “Nihan tingkahing angwangun kahyangan, ring wus puput salwiring pakadanya wenang maplaspas alit, sesayut pangambyan, pras penyeneng, suci 2 soroh, ring banten genahnya, mwang ring sanggar ngawilang kwehning sanggar, iwak itik gonuling,naway sasigar, teka wenang Brahmana Pandita anglukat wangunan ika”.

Terjemahan bebas: “Demikianlah tata cara membangun tempat memuja Hyang Widhi Wasa, pada saat selesai dibangun, segala peralatan/bahan (bangunan) wajib dibuatkan uapacara melaspas kecil, dengan sesayut pengambyan, pras penyeneng, suci 2 soroh dibebanten tempatnya, juga disanggar (tempat memuja) menurut banyaknya tempat (linggih) memuga, daging itik yang diguling, jangan dipecah, dan seyogyanya Brahmana Panditalah yang patut membersihkan/mensucikan bangunan itu. (http://Paduarsana.com).

1bl#ik-21/7/2021

berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Hubungan yang sudah baik itu ingin kami tingkatkan lagi dalam bentuk kelompok yang kegiatannya khusus di bidang Yadnya yaitu Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Adalah kewajiban setiap orang untuk melaksanakan kewajiban kepada orang tuanya dalam bentuk ngaben dan ngeroras. Pelaksanaan yadnya kedua tersebut apabila secara mandiri akan menghabiskan biaya yang cukup besar apalagi di masa-masa yang akan datang, dimana persaingan di bidang
perekonomian semakin ketat.

Ketua panitia tahun 2022, I Wayan Sunarta, mengaku saya adalah pengurus generasi kedua dari kelompok ini, dan anggota telah sepakat mengadakan kembali acara yadnya sesuai dengan jadwal yangmdimulai dengan acara nanceb wangunan yadnya pada Kamis 30 Juni 2022 dan puncak karya Jumat 29.Juli 2022, mendatang. Adapun dibentuknya kelompok ini bertujuan untuk lebih mengefisienkan biaya dan waktu anggota kelompok dalam membayar utang kepada leluhur berupa persembahan pitra yadnya, disamping itu melalui kegiatan kelompok, tradisi gotong royong, rasa persatuan dan kesatuan dan banyak lagi hal hal positif lainnya dapat ditingkatkan, ucapnya Wayan Sunarta, yang seringndipanggil pak Kales dan mantan klian br. Bukian.

Sekretaris Panitia, I Nyoman Subrata, alias Pan Lanying, menunjukan list Pura Dadia/Paibon sejumlah 23 Dadia/Paibon yang yang ikut dalam kelompok Dwi Yadnya yang terdiri dari : Pura Dadia/Paibon Pande Alang Kajeng, Pasek Pesimpangan, Pasek Prateka, Pasek Manik Bingin, Pasek Gelgel (1 dan 2), Warga Klaci, Pasek Bendesa, Merajan AWBP Pejenengan Nongan, AWBP Sulang Nongan, Pasek Nongan, Arya Kubon Tubuh, Bendesa Manik Mas, Karang Buncing, Tangkas Kori Agung, Pande Balang Tamak,nPande Bungbungan Nongan, Dukuh Segening, Pasek Gaduh, dan Paibon Keramas Koordinator Baga Parahyangan , I Nengah Sudira, yang juga klian br. Bukian, didampingi koordinator Baga Palemahan,I Nengah Yudita dan Pawongan, Nengah Suta alias Lekes, menyampaikan jumlah sawa.yaitu sejumlah 47 orang, jumlah upacara Warak Kluron 23 peserta, Ngelangkir 8 peserta, dan Nglungah 2 peserta. Sedangkan Jumlah Peserta Potong Gigi/Metatah/ Natak Tiis berjumlah 67 orang
yang terdiri dari 31 laki-laki, dan 36 perempuan.

1th#bn-20/2/2022

I Gusti Ngurah Wiryanatha, salah satu penasehat panitia, yang juga mantan bendesa Nongan mengaku ikut berpartisipasi dalam upacara pitra dan manusia yadnya yang digelar kali ini, kami wajib membayar utang kepada ibu kandung yang ikut di acarakan ngaben dan ngeroras, dan juga anak kandung keduaduanya ikut metatah, serta menambahkan bahwa anggota dadianya juga ada yang diupacarai Warak Kluron, Ngelangkir dan Ngelungah. ‘Saya selalu dorong warga Dadia kami agr mengikuti acara kelompok Dwi Yadnya, karena disamping hemat waktu dan biaya, juga akan terbangun rasa soliditas antar warga desa, serta berpandangan ke depan lebih baik meningkatkan atensi dan perhatian pada orang tua semasih beliau hidup dan memaksimalkan pendidikan generasi,” katanya.

Tergambar pada pertemuan rapat pembahasan kewajiban masing peserta yang dilakukan di Br. Bucu pada 7 Mei 2022, pada 14 Mei 2022 di Br. Bukian, ada nuansa semangat, kebersamaan dan selalu ditekankan agar pelaksanaan yadnya tetap dapat berjalan lancar dan labda karya maka prinsip ketulusan, keikhlasan, dan keyakinan kepada leluhur dan kerja sinergitas kelompok agar dipakai pedoman, agar dipakai pegangan dan acuan dalam melaksanakan karya.

Putu Martha Sugiantara yang lebih banyak waktunya berkecimpung di Denpasar, didampingi Humas Panitia, Ngurah Indra Kecapa merasa bersyukur dan mewakili warga rantaun sangat merasa diringankan dengan adanya kelompok ini karena sebagai orang yang sehari-hari tidak berada di kampung, baik itu karena berprofesi PNS dan pekerja swasta lainnya diberikan keringanan oleh kelompok seperti misal piket pada hari libur dan panitia memberikan waktu yang pleksibel kepada peserta yang masih tidak bisa hadir ngayah setiap hari dan atau belum bisa meninggalkan kewajiban kantor, malah kelompok sangat terbuka dengan mengajak peserta transmigran asalkan ada pura dadia dan anggota kelompok yang melibatkannya dan atau mempertanggung jawabkan. mas/ama

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img