Denpasar, PancarPOS | Banjar Tainsiat, Denpasar kembali menegaskan eksistensinya sebagai salah satu pusat kreativitas ogoh-ogoh paling progresif di Bali. Menyambut malam pengerupukan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948 atau bertepatan dengan tahun 2026, pada Rabu (18/3/2026), STT Banjar Tainsiat menghadirkan karya bertajuk “Gajahdaha”, sebuah ogoh-ogoh monumental yang tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga mengandung pesan ideologis yang tajam tentang krisis lingkungan yang semakin nyata.
“Gajahdaha” bukan sekadar karya seni rupa tradisional dalam rangkaian ritual keagamaan. Ia adalah pernyataan sikap. Ia adalah suara kolektif generasi muda banjar yang gelisah melihat arah pembangunan yang kerap mengorbankan alam. Dalam wujud gajah mistis raksasa yang berdiri kokoh, tersirat narasi besar tentang perlawanan, tentang penjagaan, dan tentang keseimbangan yang mulai terganggu.
Secara konseptual, ogoh-ogoh ini mengusung tema penjaga hutan dan keseimbangan alam. Gajah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam banyak tafsir simbolik, gajah merupakan makhluk yang identik dengan kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan. Dalam konteks “Gajahdaha”, sosok ini dimaknai sebagai penjaga terakhir hutan yang tersisa, entitas yang berdiri di antara kehancuran dan harapan, antara eksploitasi dan keberlanjutan.

Namun, Banjar Tainsiat tidak menghadirkan gajah dalam bentuk yang biasa. Visual yang ditampilkan adalah interpretasi liar yang penuh keberanian artistik. Anatomi tubuh dibuat tidak sepenuhnya naturalistik. Ada sentuhan manusiawi, ada ekspresi emosional yang kuat, ada distorsi bentuk yang justru mempertegas kesan mistis dan mencekam. Belalai panjang yang menggantung, gading yang menonjol tajam, serta raut wajah yang seolah menyimpan kemarahan dan kesedihan sekaligus, menjadikan “Gajahdaha” tampil sebagai figur yang hidup, berbicara, dan menggugah.
Kekuatan visual ini diperkuat dengan detail pengerjaan yang sangat presisi. Setiap lekukan tubuh, tekstur kulit, hingga ornamen yang melekat pada bagian tertentu dikerjakan dengan penuh ketelitian. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Semua dirancang untuk membangun kesan totalitas, bahwa karya ini bukan sekadar dibuat, tetapi dirasakan.
Di balik kemegahan tersebut, tersimpan pesan yang sangat relevan dengan kondisi Bali hari ini. Alih fungsi lahan yang masif, penebangan pohon, serta pembangunan yang sering kali mengabaikan keseimbangan ekologis menjadi latar belakang utama lahirnya “Gajahdaha”. Ogoh-ogoh ini adalah sindiran terbuka. Ia tidak berteriak, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat siapa pun berpikir.

Pesan yang dibawa tidak menggurui, tetapi menggugah. Bahwa manusia, dalam ambisinya mengejar kemajuan, sering kali lupa bahwa alam bukan sekadar objek yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Alam memiliki batas. Alam memiliki keseimbangan. Dan ketika keseimbangan itu terganggu, dampaknya tidak akan bisa dihindari.
Di sinilah “Gajahdaha” mengambil posisi penting. Ia hadir sebagai pengingat. Sebagai simbol bahwa masih ada yang peduli. Bahwa di tengah arus pembangunan yang begitu cepat, masih ada suara yang mencoba menjaga agar semuanya tetap berada dalam koridor harmoni.
Karya ini diarsiteki oleh I Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux, sosok kreator yang dikenal memiliki pendekatan artistik yang kuat dan berani. Di tangannya, “Gajahdaha” tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga narasi yang utuh. Setiap elemen yang ada memiliki alasan. Setiap detail memiliki makna. Tidak ada yang kebetulan.
Kedux mampu meramu antara estetika dan filosofi dengan sangat baik. Ia memahami bahwa ogoh-ogoh bukan hanya tentang bentuk, tetapi juga tentang pesan. Tentang bagaimana sebuah karya bisa berbicara, bisa menyentuh, dan bisa meninggalkan kesan yang mendalam.

Proses penciptaan “Gajahdaha” sendiri bukanlah sesuatu yang instan. Ini adalah hasil dari kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, terutama para pemuda banjar. Mereka bekerja siang dan malam, mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi satu tujuan, menghadirkan karya terbaik untuk banjar dan masyarakat.
Semangat gotong royong terasa sangat kuat dalam proses ini. Tidak ada sekat. Semua terlibat. Semua memiliki peran. Dari tahap perencanaan, perancangan, hingga eksekusi, semuanya dilakukan dengan penuh dedikasi. Ini bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses yang membentuk kebersamaan.
Banjar Tainsiat memang dikenal sebagai salah satu banjar yang konsisten menghadirkan ogoh-ogoh berkualitas tinggi. Reputasi ini tidak datang begitu saja. Ia dibangun melalui kerja keras, inovasi, dan keberanian untuk tampil berbeda.
Salah satu ciri khas Banjar Tainsiat adalah kemampuannya memadukan unsur tradisional dengan teknologi. Dalam beberapa karya sebelumnya, mereka dikenal menghadirkan ogoh-ogoh dengan elemen mekanis yang membuatnya tampak lebih hidup dan dinamis. Hal ini menjadi nilai tambah yang membuat karya mereka selalu dinanti.
Dalam “Gajahdaha”, pendekatan ini kembali terlihat. Meskipun tidak semua detail terlihat secara kasat mata, struktur dan konstruksi yang digunakan menunjukkan bahwa karya ini dirancang dengan perhitungan yang matang. Tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga kokoh secara teknis.

Hal ini penting, mengingat ukuran ogoh-ogoh yang besar dan kompleksitas bentuk yang tinggi. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, setiap tahap pengerjaan dilakukan dengan sangat hati-hati.
Selain aspek artistik dan teknis, faktor keamanan juga menjadi perhatian utama. Banjar Tainsiat menyadari bahwa pengarakan ogoh-ogoh bukan hanya tentang menampilkan karya, tetapi juga tentang menjaga ketertiban dan keselamatan bersama. Koordinasi dengan pecalang dan pihak terkait terus dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.
Antusiasme masyarakat terhadap “Gajahdaha” sudah mulai terasa bahkan sebelum hari pengerupukan tiba. Banyak warga yang datang untuk melihat langsung proses pengerjaan. Mereka tidak hanya sekadar menonton, tetapi juga merasakan energi yang ada di balik karya ini.
Bagi masyarakat, ogoh-ogoh bukan hanya hiburan. Ia adalah bagian dari identitas. Bagian dari tradisi yang terus dijaga. Dan ketika sebuah banjar mampu menghadirkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna, maka kebanggaan itu menjadi milik bersama.
Malam pengerupukan di Catus Pata Denpasar nanti, dipastikan akan menjadi momen yang sangat dinanti. “Gajahdaha” akan diarak bersama ogoh-ogoh lainnya, menjadi bagian dari ritual besar yang memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam prosesi ini, ogoh-ogoh tidak hanya dilihat sebagai karya seni, tetapi juga sebagai simbol pembersihan, simbol pelepasan energi negatif sebelum memasuki hari Nyepi. ama/ksm


