Ekonomi dan Bisnis

KUR BRI Majukan Usaha Pak Gex Aluminium Semakin Kencang


Buleleng, PancarPOS | Warga di Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan masyarakat yang sederhana. Hal ini dapat dipandang dari gaya hidup mereka. Mengunjungi desa terpencil yang letaknya tepat di ujung utara Pulau Bali ini, berjarak sekitar 81,1 kilometer dari Kota Denpasar yang bisa ditempuh perjalanan dengan kendaraan sepeda motor selama kurang lebih 2,5 jam. Suasana desa yang menyenangkan dan berlokasi di pangkal bukit yang tidak terlalu jauh dari pantai membuat mereka senantiasa dapat mengerjakan hal-hal yang unik, sekaligus mendatangkan keuntungan. Banyak di antara masyarakat yang memulai usaha secara mandiri, contohnya dengan membangun industri kecil dengan menciptakan barang kerajinan tangan. Bahkan, barang kerajinan berbahan baku aluminium, seperti bokor yang diproduksi masyarakat Desa Menyali telah sejak lama sangat terkenal di Bali, hingga sesekali mampu memasuki pasar ekspor. Ternyata kini di Desa Menyali terdapat lebih dari seratus keluarga yang menekuni aktivitas menatah lembar logam aluminium. Uniknya, biar pun mereka tergabung dalam satu kelompok usaha bersama, tetapi masing-masing keluarga mengerjakan hasil karyanya sendiri. Dari mencari bahan baku sampai pemasaran dilakukan oleh perajin secara mandiri, serta tidak dengan campur tangan pihak lain. Tampak para pengerajin bokor dengan aneka ragam wujud dan bahan baku. Bokor yang dikenal masyarakat di Bali, sebagai salah satu wadah untuk tempat fasilitas upakara (media) yang dimanfaatkan oleh semua umat Hindu di Bali yang kebanyakan terbuat dari aluminium. Kerajinan produk bokor alumunium di Desa Menyali, juga mampu menyediakan lapangan kerja baru bagi masyarakat yang mayoritas kehidupan sehari-harinya diisi bersama aktivitas pertanian dan perkebunan.

Para pengrajin di UD Pak Gex Aluminium, saat mengerjakan semua pesanan customer. (foto: ama)

Sejak dahulu Desa Menyali yang keberadaannya memang sudah terkenal sebagai penghasil kerajinan bokor aluminium. Dari jumlah penduduk keseluruhan 5.329 jiwa, sebanyak 20 persen warganya bergelut sebagai perajin bokor secara turun temurun dengan alat-alat bukan mesin atau masih manual. Salah satunya, Ketut Sukra Wenten, sebagai pengrajin bokor di Desa Menyali yang harus terjun untuk melanjutkan usaha keluarga nenek moyangnya ini. Alasan melanjutkan usaha kerajinan bokor ini, karena harus mewarisi usaha dari leluhurnya yang awalnya dirintis oleh salah satu dari sembilan Penua atau tokoh desa di Desa Menyali. Salah satunya, adalah Penuanya yang berangkat dari usaha perbaikan perabotan rumah tangga atau tukang patri. Dari sanalah, akhirnya muncul ide-ide kreatif dari Penuanya itu, untuk mencoba membuka usaha kerajinan tangan dengan membuat alat-alat upakara, seperti bokor, termasuk sangku, dan sebagainya. Usaha rumahan yang berdiri dari sejak tahun 1977 itu, awal mula pemasaran produk kerajinan tangan ini hanya menyentuh pasar tradisional yang ada di Bali. Sampai tahun 2004 pemasaran hanya barang kebutuhan untuk perlengkapan penunjang sarana upakara. Setelah memasuki generasinya saat ini, dengan dibekali pengalaman merantau di Kabupaten Gianyar sebagai salah satu daerah seninya Bali memunculkan berbagai ide dan inspirasi, sehingga berinisiatif mengembangan usaha bokor. Berangkat dari pengalamannya semasa merantau di Gianyar, ia memberanikan diri merintis karier usaha secara mandiri yang dimulai dari pertengahan tahun 2005 dengan nama usaha UD Pak Gex Alumium. Nama “Pak Gex Aluminium” disematkan, karena anak pertamanya dipanggil Gex, sehingga lebih dikenal dengan Pak Gex. Usaha kerajinan aluminium miliknya dulu hanya menghasilkan produk untuk sarana upacara agama Hindu, seperti bokor atau tempat canang, sangku atau tempat tirta, tempat bunga atau kuangen dan saab. Usaha yang digeluti sejak kecil tersebut, saat itu pemasarannya pun masih bersifat lokal saja.

Hingga usahanya kini berkembang dengan berbagai inovasi yang menuangkan ide kreatifnya dengan mengerjakan produk kerajinan tangan yang dimulai dari keben dari ektra mini, sampai ektra besar. Selain itu, juga ada produk khusus yang mengikuti permintaan pasar, baik pasar lokal hingga yang diminati di berbagai negara. Tingginya permintaan baik di dalam maupun luar negeri membuat usaha kerajinan tangan berbahan baku alumunium di Desa Menyali, bahkan sempat kewalahan memenuhi pesanan yang melimpah. Sayangnya saat itu, masih kurangnya tenaga profesional untuk menggarap permintaan dari mancanegara menjadi penyebab utama pihaknya tidak dapat memenuhi target dari semua pesanan. Barang-barang hasil kerajinan buatannya, dikhususkan bagi konsumsi pasar mancanegara dengan negara tujuan ekspor, yakni Afrika, Belanda, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol dan lainnya. Namun berkat pengalaman dan keuletannya dalam mengelola usaha, semuanya menjadi berubah sejak tahun 2005 semakin maju dan berkembang. Pak Gex mengatakan usaha yang digelutinya tidak terlepas dari adanya pelatihan dan pengalaman bekerja di Gianyar sebagai tukang ukir. Dia memiliki banyak kenalan yang bergelut di usaha art shop. Ayah dari 4 orang anak ini, mulai berani mengembangkan produk yang lebih beragam dari kombinasi bahan dasar aluminium dengan bahan kayu dan rotan. Produk-produk kerajinan yang dihasilkan Pak Gex, seperti aluminium yang mulanya hanya sarana upacara keagamaan, sejak saat itu menjadi lebih banyak ragamnya. Produksi kerajinan ini, juga tergantung dari tingkat kerumitan dan kesulitan penggarapannya. Jadinya hasil produksinya sangat bervariasi tergantung dari jenis maupun model serta tingkat kesulitan dari pembuatan produk tersebut. Produksinya rata-rata dari 10 sampai 50 pcs per pekerja per hari dengan mengerjakan sebanyak 3 orang pegawai tetap, ditambah dengan 6 orang tenaga kerja freelance yang diberi upah rata-rata dari Rp80 ribu sampai 125 ribu per hari. “Saya juga dibantu oleh keluarga dan anak-anak saya di luar jam sekolah masih aktif bekerja, agar nantinya bisa mewarisi usaha ini,” ujarnya, saat ditemui, pada Sabtu (27/4/2024).

Produk kerajinan tangan di UD Pak Gex Aluminium siap dikirim sesuai pesanan customer. (foto: ama)

Produknya itu ada 162 jenis atau item, di antaranya tempat alat tulis, tempat sampah, tempat tisu, tempat buah, aneka lampu hias dan taman, tempat cermin, souvenir, asesoris, hiasan untuk keperluan vila dan hotel, serta berbagai macam produk lainnya secara custom atau disesuaikan dengan pesanan yang sedang ngetren dari permintaan lokal Bali, sampai Jakarta, Pelembang dan daerah lainnya. “Seperti souvenir untuk acara pernikahan, juga banyak permintaan dengan berbagai bentuk dan ukuran,” bebernya. Dari sisi harga, Pak Gex menjelaskan menjual produk kerajinannya bervariasi tergantung tingkat kesulitan, besar kecil dan kualitasnya, karena ada kualitas juga ada harga yang harus dibayar. Namun ia tidak memungkiri, jika pemesan ingin menyesuaikan kualitas sehingga harganya bisa diturunkan. Adapun harga dari yang termurah mulai ornament untuk hotel Rp250 per pcs dan tertinggi, seperti kap lampu Rp225 ribu per pcs. “Kita komunikasi dengan pemesan, bahwa produknya bisa disesuaikan dengan harga, karena bahannya ada tingkat kualitasnya juga, mulai dari KW 1 sampai 4,” terangnya. Terkait bahan baku, seperti kawat dan aluminium, ia mengaku membeli dari toko di Kota Singaraja dengan harga aluminium Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per lembar tergantung ketebalannya. Sedangkan kawat, juga sesuai ukuran dari Rp850 ribu sampai Rp900 ribu per 50 kilogram. “Namun sekarang sudah ada penduduk asli di sini yang menjual bahan bakunya. Jadi kita merasa terbantu, sehingga lebih dekat membeli bahan bakunya,” ujarnya, seraya merasa sangat beruntung, karena variasi produk kerajinan saat ini sudah banyak dijual ke seluruh Bali dan ke luar Bali, bahkan sampai diekspor ke luar negeri, seperti ke Abu Dabi, Australia, Jerman, Belanda, Jepang serta negara lainnya.

Hingga saat ini, sistem pemasaran juga menerapkan tiga pola dari menjual di kios, atau lewat pengepul sampai penjualan secara online melalui media sosial atau lapak penjualan daring. Produk kerajinan yang dijual di kios dengan memilih tempat yang strategis, seperti pasar tradisional, pasar seni di Seminyak, Kuta dan Ubud, Gianyar. Sementara penjualan dari pengepul terutama dari luar daerah, seperti Lombok, Palembang, Lampung, dan Sulawesi yang kebanyakan orang Hindu Bali yang merantau atau transmigran di sana. Penjualan produk melalui pengepul ini, mulai dikenal dari acara pameran yang diadakan oleh Pemda Kabupaten/ Kota dan Pemprov Bali. “Astungkara (syukurnya, red) ada beberapa pengepul dari luar daerah yang mengambil produk kami,” ucapnya. Di samping itu, ia juga memanfaatkan jaringan artshop dan sering mengikuti pameran-pameran yang dinaungi oleh Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Buleleng, beserta Dekranasda Provinsi Bali dan Kabupaten Buleleng yang sangat membantu dalam memasarkan dan mempromosikan kerajinannnya. Lanjut Pak Gex, kepercayaan konsumen akan kualitas produk kerajinan ini, merupakan hal mendasar dalam berkembangnya usaha yang ditekuninya. Setiap pemesanan produk, utamanya yang diekspor akan lebih dulu harus mempresentasikan produknya dihadapan tamu itu sendiri, sehingga para pemesan yakin akan kualitasnya. “Pemasaran produk kita sangat fleksibel melalui media sosial, namun juga dominan melalui door to door ke customer,” tambahnya. Oleh karena itulah, produknya mulai terjual dan laris manis, sehingga telah mampu mengantongi omzet yang rata-rata menyentuh keuntungan Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulannya. Namun saat pandemi Covid-19 yang melanda dunia secara global beberapa tahun lalu, sempat pendapatannya menurun drastis hingga hanya Rp2,2 juta per bulannya, karena pengiriman barang ekspor tidak jalan, sehingga semua pemesanan dibatalkan akibat event-event promosi tidak jalan.

Para pengrajin di UD Pak Gex Aluminium, saat mengerjakan semua pesanan customer. (foto: ama)

Namun di balik semua musibah, pasti juga ada hikmahnya. Karena itu, Pak Gex bisa bersyukur tetap bisa menjalankan usahanya saat ini, hingga lebih maju dan berhasil, karena ada bantuan dari Pemerintah bagi usaha terdampak Covid-19 mendapat Bantuan Stimulus Usaha (BSU) sebesar Rp1,8 juta, dari Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Buleleng. Nah, bantuan lainnya yang tidak disangka dan diduga, adalah program kredit usaha rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., atau BRI. Apalagi kebetulan dari sebelum adanya KUR sudah sempat mengawali pengajuan kredit komersil pada tahun 2006 dengan limit Rp3 juta. Karena itulah, setelah terjadinya pandemi ia dengan mudah mendapatkan pinjaman KUR dari BRI. Bahkan, membutuhkan suntikan modal usaha yang lebih besar setelah mengalami perkembangan permintaan pasar, sehingga kembali mengajukan KUR dari BRI sampai limit Rp500 juta. Ternyata sudah terbukti dan dirasakan bantuan KUR dari BRI ini, sangat membantu memajukan usaha kerajinan bokor aluminium semakin kencang, di samping bunganya sangat ringan dengan jangka waktu tenor 60 kali pembayaran angsuran. Bantuan KUR dari BRI ini, juga bisa membantu merencanakan perkembangan bisnis kerajinan bokornya ke depan, karena juga mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari petugas atau Mantri BRI Kantor Cabang Singaraja. “Kami tidak bisa lagi menambah KUR, karena maksimal Rp500 juta per orang. Saya sudah terealisasi Rp475 juta dan istri saya Rp425 juta. Jadinya tidak mungkin bisa mengajukan pinjaman KUR kembali, sehingga tahun 2025 mendatang sangat berharap akan ada tambahan limit kredit, agar bisa mendapatkan kesempatan KUR lagi,” ujarnya. Rencana bisnisnya ke depan dari tahun 2024 ini, jika bisa dibantu pinjam KUR kembali akan mengembangkan usaha di tempat strategis atau cabang usaha di Denpasar dan sekitarnya. “Kami berharap mendapatkan kesempatan atau mendapatkan pinjaman KUR lagi, sehingga kita bisa memiliki tempat usaha di daerah di Denpasar. Karena kebetulan 80 persen pengiriman produk kami ke Denpasar dan sekitarnya, sehingga tidak perlu lagi bolak balik Denpasar-Singaraja sekitar 2 sampai 3 kali per bulannya. Astungkara kalau cita-cita dari niat ini tercapai kita akan memiliki cabang di Denpasar,” pungkasnya.

Sejalan dengan semakin berkembangnya usaha kerajinan ini, perlu strategi pengembangan yang jitu melihat persaingan pasar industri kerajinan semakin kompetitif. Di sisi lain, komoditas kerajinan di Desa Menyali sangat mendominasi pasar ekspor saat ini, khususnya aksesoris dan pernak-pernik furniture rumah tangga. Apabila usaha kerajinan ini mampu dioptimalkan, tentunya akan memberikan konstribusi terhadap pendapatan asli dearah (PAD) di Kabupaten Buleleng. Optimalisasi tersebut dapat dilakukan baik lewat pembentukan sentra-sentra industri kerajinan, penataan dan pembinaan para pengerajin yang ada di Kabupaen Buleleng, maupun menyediakan sarana dan prasarana promosi yang baik bagi keberlangsungan industri di Kabupaten Buleleng. Seperti dikatakan, Sekretaris Desa Menyali, Nyoman Warna, menegaskan Desa Menyali yang berjarak 14 kilometer di sebelah timur Kota Singaraja, Buleleng ini, dengan populasi penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, karena memiliki lahan basah dan subur yang cocok untuk areal persawahan. Namun terdapat sekitar 20 persen dari jumlah penduduk pekerja di desa ini, berkecimpung dalam dunia kerajinan, seperti kerajinan yang paling populer adalah kerajinan bokor. Ia menjelaskan produk yang dihasilkan oleh pengrajin bokor berbahan baku aluminium di Desa Menyali dulunya tidak beragam seperti saat ini, melainkan monoton hanya berupa sangku, bokor, dan saab. Namun sejak diajak untuk mengikuti sejumlah pelatihan yang diadakan oleh instansi terkait, variasi produk yang dapat dihasilkan menjadi lebih beragam. “Yang cukup membanggakan kami produk-produk kerajinan di Desa Menyali dapat merambah pasar yang lebih luas. ”Dengan produk yang variatif banyak hotel-hotel, vila dan kelompok memesan. Bahkan, kerajinan aluminium ini sampai di ekspor ke mancanegara,” jelasnya. Kerajinan bokor aluminium di Desa Menyali, dikatakan menjadi kebanggaan bagi Desa Menyali. Sebab, menurutnya melalui kerajinan aluminium di desanya ini, menjadi lebih dikenal oleh masyarakat luar daerah atau bahkan luar negeri. Selain itu, juga bisa menjadi mata pencaharian dengan keuntungan yang menggiurkan.

UD Pak Gex Aluminium, saat mengikuti pameran yang dinaungi oleh Dekranasda Provinsi Bali beberapa waktu lalu. (foto: ist)

Secara terpisah, Pemimpin Cabang BRI Singaraja, Panji Kurniawan mengatakan kinerja positif BRI tidak terlepas dari pertumbuhan penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Dalam penyaluran kredit UMKM, perseroan mengedepankan pemberdayaan yang secara langsung membantu dan mendorong peningkatan kapabilitas pelaku usaha, seperti halnya usaha pengrajin bokor aluminium di Desa Menyali. Untuk menjangkau kelompok UMKM ini, Pemerintah menggagas KUR dengan suku bunga yang lebih kecil. Program KUR yang telah berjalan hampir 17 tahun digagas saat era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dan diteruskan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo telah banyak mengangkat derajat UMKM, di antaranya usaha UD Pak Gex Aluminium ini. KUR menjadi wujud semangat Pemerintah dalam meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM melalui lembaga keuangan dengan pola penjaminan. Saat itu, penjamin kredit adalah Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) dan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). “Pemberian kredit dengan jaminan Pemerintah ini, diharapkan bisa mendorong pelaku UMKM lebih berkembang,” tandasnya. Hadirnya KUR BRI ini, juga telah membuat para pelaku UMKM dapat menjalankan usahanya dengan maksimal. Peluang memperoleh pinjaman juga semakin terbuka lebar, mengikis ketatnya persaingan pasar. Dikatakan, KUR diberikan kepada pelaku UMKM yang mempunyai usaha minimal berjalan enam bulan. Layak atau tidaknya pelaku UMKM memperoleh KUR adalah wewenang pihak perbankan setelah dilakukan survei ke lokasi usaha. Jika dari hasil survei dan analisa usaha tersebut memiliki prospek yang baik, maka pihak perbankan akan memberikan KUR. “Selain kelayakan usaha, persyaratan memperoleh KUR adalah melampirkan KTP, KK, foto, dan Surat Keterangan Usaha. Proses pencairan KUR 3 sampai 7 hari, dan bunganya kecil di bawah 1%, yakni 0,57% – 0,95% per bulan,” paparnya. ama/ksm

Baca Juga :


Back to top button