Ekonomi dan Bisnis

Jadi Daya Tarik Wisata, Pemprov Bali Inovasi Kembangkan Pangan Lokal Non Beras


Denpasar, PancarPOS | Untuk menggairahkan kembali perekonomian di sektor rumah tangga di era pandemi, Pemprov Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali melakukan inovasi pengembangan industri pangan lokal non beras yang fungsi untuk menciptakan keaneragaman pangan lokal. Tujuannya menurut Kabid Penganekaragaman Konsumsi dan Keamananan Pangan, Ir. I Nyoman Suarta, M.Si., pengembangan pangan lokal ini untuk menanggulangi keterpurukan ekonomi di tengah pandemi dengan meningkatkan usaha produksi pangan yang ada di pedesaan.

1bl#bn-10/5/2021

Suarta menjelaskan program panganan lokal non beras tersebut, merupakan suatu bentuk komitmen Pemprov Bali untuk menindaklanjuti Pergub No.99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali. Untuk itu, pada tahun 2020 sudah mengadakan pelatihan virtual, sehingga memasuki tahun 2021 animo masyrakat tentang pengelolaan pangan lokal bisa meningkat 100 persen. “Animo masyarakat sangat baik untuk pengembangan pangan lokal yang bisa dijadikan bisnis baru oleh para peserta,” ucapnya di Denpasar, Selasa (18/5/2021).

1bl#ik-11/5/2021

Lanjut Suarta mengakui, perekonomian Bali yang berbasis pariwisata adat dan budaya dipastikan produk pangan lokal pasti banyak disukai oleh wisatawan asing maupun domestik. Pihaknya optimis wisatawan yang berkunjung ke Bali pasti akan mencoba kuliner lokal yang pastinya akan menjadikan produk pangan lokal non beras menjadi ciri khas wisata kuliner di Bali. “Saya yakin panganan lokal non beras di Bali menjadi daya tarik wisatawan,” tuturnya, seraya mengatakan, untuk bisa berjalan dengan baik program panganan lokal non beras, juga telah memetakan sentra produksi di 9 Kabupaten/Kota di Bali, seperti Buleleng beriklim kering akan disasar pengolahan produksi ubi kayu.

1bl#ik-11/5/2021

“Buleleng akan kita gojlok membuat tepung Mokap yang berbahan dasar dari ubi kayu, bahkan produksinya sudah mencapai 100 kg perbulannya,” ucapnya, sekaligus menambahkan, untuk bisa memasarkan program panganan lokal non beras, pihaknya akan menggadeng Bumdes, sekaligus memberi bantuan gondola sebagai etalese produk panganan lokal. Sehingga, panganan lokal binaannya sebelum go publik bisa diketahui kekurangannya, agar ketika sudah diekspor dipastikan menjadi produk panganan yang berkualitas baik dari segi pengolahan maupun segi kemasan.

1bl#bn-10/5/2021

“Bisnis panganan lokal non beras sangat bagus sekali, apalagi di tengah era pandemi. Selain itu bisnis ini juga mempunyai daya tarik, bahkan produk binaan kami sudah ada yang diekspor sampe ke Australia, yaitu bubuk jahe. Selain itu binaan kita juga ada yang memproduksi brownis jagung yang omsetnya pun luar biasa hanya dengan berjualan lewat online,” ungkapnya. tra/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close