Politik dan Sosial Budaya

Mahasiswa UHN IGBS Waspadai Ancaman NKRI

"Sudirta Paparkan 4 Konsensus Kebangsaan"


Denpasar, PancarPOS | Mahasiswa UHN I Gusti Bagus Sugriwa dan beberapa Siswa SMA dari Kabupaten Tabanan, melontarkan berbagai pertanyaan ke Anggota MPR RI I Wayan Sudirta, saat sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan, bertempat di Sekretariat PHDI Bali, yang dicanangkan terselenggara pada 14 April 2021. Sudirta mengangkat tema tentang IMPLEMENTASI NILAI KESATUAN WILAYAH, NILAI PERSATUAN BANGSA DAN NILAI KEMANDIRIAN DAPAT MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA. Hadir peserta secara ‘’daring’’ dan ‘’luring’’ sebanyak 80 orang.

2mg#ik-12/4/2021

Para peserta melontarkan pertanyaan, bagaimana caranya orang Bali menjaga kebudayaannya sementara generasi milenial yang interaksinya dengan dunia moderen terkesan kurang perhatian terhadap tradisi dan kebudayaan. Begitu juga masih adanya kesenjangan antara realitas di lapangan dengan cita-cita ideal kebangsaan, seperti misalnya masih banyak anak yang putus sekolah antara lain karena orangtuanya mendorong anaknya bekerja membantu ekonomi keluarga.

1mg#bn-12/4/2021

Atau ada juga orang miskin yang mestinya mendapat beasiswa, tetapi yang juga mengambil hak orang miskin itu adalah orang-orang kaya dan mampu. Mahasiswa juga bertanya, apa yang mestinya dilakukan terhadap pernyataan yang viral di media sosial, yakni Desak Dharmawati, yang menjelek-jelekkan agama Hindu dan budaya Bali. Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan Wahyuni, Virayani, Winda, Yoga Prema, Risma Yanti, Kadek Putu Ari, Komang Devi Adnyani, dan Wayan Yuliastuti.

1bl#ik-13/4/2021

Menanggapi pertanyaan dan komentar-komentar tersebut, Sudirta mengajak mahasiswa dan generasi muda belajar dari para pendahulu dan pendiri bangsa yang beragam ini. ’Mengapa dulu para pemuda di masa kolonial bisa bersatu dalam perjuangan, tidak lain karena kerjasama, selain keberanian, kemauan berkorban, sikap saling menghargai dan mau bekerjasama. Bayangkan kerajaan-kerajaan dan kesultanan sebelum kemerdekaan, mereka berkorban untuk berada dibawah naungan NKRI setelah republik ini diproklamasikan. Sebelumnya, ada Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 oleh pemuda berbagai daerah,’’ kata Sudirta.

1bl#ik-15/4/2021

Untuk kasus viralnya pernyataan Desak Dharmawati yang beredar melalui media sosial, Sudirta yang mendapat telepon dari seorang petinggi Lemhanas menegaskan, sebagai praktisi hukum selama puluhan tahun dan juga pengacara Kementerian Hukum dan HAM dalam menghadapi gugatan HTI di PTUN Jakarta, serta pengacara Ahok dalam kasus penistaan agama, Sudirta menegaskan, secara yuridis pernyataan Desak Dharmawati itu bisa dilaporkan ke aparat penegak hukum.

1bl#ik-11/4/2021

Katanya, agar laporan ke polisi itu punya dasar yang kuat, baik sekali bila didahului kajian dari aspek hukum positif, aspek teologis agama Hindu, aspek sosial budaya dan adat. ‘’Sudah ada Tim untuk menyelenggarakan FGD (focus group discussion) yang diprakarsai oleh PHDI Bali dan KORdEM Bali, yang mengundang narasumber yang berkompeten untuk mengkaji secara mendalam dan komprehensif, kata demi kata dalam pernyataan Ibu Desak Dharmawati, mana yang termasuk dugaan pidana, mana yang masuk kekeliruan pemahaman tentang adat dan budaya, mana yang termasuk dalam kategori kesalahan memahami teologi Hindu, mengingat yang bersangkutan dulunya beragama Hindu,’’ papar Sudirta.

1bl#ik-12/4/2021

Sudirta mengajak para mahasiswa ikut memikirkan keberlanjutan negara dan bangsa, dengan membangun melalui profesi yang disertai wawasan kebangsaan yang lebih luas. Ia mengajak mahasiswa aktif berorganisasi, dan juga tidak alergi terhadap politik dan partai politik. ’Keberlangsungan negara ini ada di tangan partai politik dan politisi, karena partai itu instrumen penting dan tiang demokrasi. Bahwa ada partai dan politisi yang buruk, betul. Kalau kita semua menghindar dari politik, apalagi orang-orang baik cuek terhadap politik dan partai politik, nanti yang tidak baik lah yang akan berkuasa di politik,’’ ujarnya.

1bl#ik#13/4/2021

Kalau itu yang terjadi, orang-orang baik dan pintar hanya bisa mengeluh tanpa berbuat apa-apa, hingga kurang tepat kalau menyalahkan pihak lain saja. ‘’Mari mulai berperan dan peduli pada 4 pilar kebangsaan ini, dengan membangun karakter seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, semangat, kerjasama, dan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama masing-masing,’’ imbuhnya. ora/ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close