Pariwisata

Gases Garap Film “Kapandung”, Angkat Kisah I Gejer


Denpasar, PancarPOS | Gases Films menggarap film terbarunya berjudul “Kapandung” – A Stolen Life Film yang mengangkat kisah kehidupan I Gejer, seorang saksi yang berhasil selamat dari sebuah bencana alam dashyat yaitu meletusnya sebuah gunung di tahun 1960an. Bencana tersebut telah merenggut keluarga serta kehidupannya dan membawanya terdampar di suatu tempat. Beberapa tahun kemudian pasca bencana I Gejer menemukan dirinya hidup sebatang kara dan sakit sakitan melakoni hidup sebagai seorang Juru Pencar ditempat yang baru, sampai pada suatu hari ia menemukan sebuah topeng usang terdampar dipantai, topeng tersebut dibawanya pulang.

1bl#ik-11/4/2021

Sejak topeng tersebut disimpan dirumah, banyak kejadian aneh bermunculan hingga pada suatu hari I Gejer bermimpi soal Topeng tersebut. Belakangan diketahui topeng tersebut bukanlah benda sembarangan melainkan sebuah benda suci atau sesuhunan yang dimuliakan di satu desa nun jauh diseberang laut. Pada suatu hari I Gejer yang dalam keadaan sakit keras didatangi oleh utusan dari Desa Kedampal yang bertujuan untuk mencari Topeng Sehuhunan milik desa Kedampal yang hilang berdasarkan pawisik yang diterima oleh pemangku di desa Kedampal.

Pertemuan utusan dari desa Kedampal dengan I Gejer mengungkap banyak fakta yang menjelaskan tentang asal muasal kehidupan I Gejer. Belakangan diketahui utusan dari Desa Kedampal adalah sahabat lama I Gejer yang terpisah karena bencana. Dalam pertemuan itu juga terungkap bahwa I Gejer masih memiliki seorang cucu yang selamat dari bencana dan sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis. Utusan tersebut berjanji akan mempertemukan Sang Nelayan dengan cucunya nanti pada saat menjemput Topeng Sesuhunan.

1th-ksm#5/2/2021

Pada hari yang dinanti-nanti setelah sekian lama sendiri tanpa keluarga, sakit Sang Nelayan kian parah, namun dengan kemauan yang keras untuk bertemu cucunya, Sang Nelayan berusaha kuat. Sebelum menghembuskan napas terakhir akibat sakit yang dideritanya bertahun tahun sang Nelayan menyerahkan topeng sesuhunan tersebut dan memeluk sang cucu. Pertemuan antara kakek dan cucu yang sudah sekian lama terpisah merupakan suatu alur perjalanan takdir yang terbentang bak jalan gelap berliku dengan Topeng Sesuhunan sebagai pelita yang menuntun dan menerangi manusia menjalani karma kehidupannya.

Saat topeng sesuhunan tersebut kembali ke Desa Kedampal kehidupan masyarakatnya berangsur tentram, aman dan damai. Keyakinan dan keteguhan hati masyarakat desa Kedampal terhadap Ida Sesuhunan merupakan suatu simbol harmonisasi antara Alam, Manusia dan Sang Pencipta. tim/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close