Daerah

Jadikan Tarian Sakral, Kagama Bali Rekomendasikan MDA dan PHDI Rumuskan Sasana Tari Rangda


Denpasar, PancarPOS | Pengda KAGAMA Provinsi Bali merekomendasikan agar Majelis Desa Adat (MDA) dan PHDI Provinsi Bali segera merumuskan dan mensosialisasikan Norma-norma dan Sasana terkait penyelenggaraan Tari Rangda sebagai Tarian Wali (Sakral). “Penyimpangan terhadap norma-norma dan Sasana, apalagi –dalam kasus tertentu—mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam prosesi Tari Rangda patut mendapat perhatian dan langkah-langkah antisipatif,” kata Ketua Pengda Kagama Bali, I Gusti Ngurah Agung Diatmika, SH, Senin (8/3/2021).

1bl#ik-5/3/2021

Rekomendasi itu disampaikan setelah Kagama Bali Live menggelar Webinar “Sasana Tari Rangda” pada Sabtu, 6 Maret 2021 dengan nara sumber Jro Mangku praktisi dan pengkaji Tarian Rangda antara lain Kadek Serongga, Jro Mangku Nyoman Ardika (Sengap) dan Dr. Komang Indra Wirawan, SSn. M.Ag yang akab disapa Komang Gases. Diskusi dipandu oleh Jro Mangku Eka Mahardika, SIP., MAP. Dalam diskusi berkembang, seni pertunjukan dalam budaya Bali dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori: Tari Wali (Tari Sakral), Tari Bebalihan (Semi-Sakral) dan Bebalih-balihan (Tari Sekuler atau profan).

Tari Wali tidak dapat digelar sembarang tempat dan waktu. Hal ini sama sekali berbeda dengan Bebalihan, dan Bebalih-balihan yang dapat dipentaskan sewaktu-waktu, tanpa persiapan yang bersifat khusus, dan terkait rangkaian upacara tertentu. Dalam tradisi Bali norma adat atau yang dikenal sebagai Dresta dan Loka-Dresta yang lebih bersifat setempat memiliki rambu-rambu tentang bagaimana suatu penyelenggaraan Tari Wali dapat berlangsung. Beberapa jenis tari dan seni pertunjukan dipayungi norma-norma yang mesti dihormati dan ditaati. “Dalam kontesk ini, peran Desa Adat menjadi sangat penting,” sebut Diatmika.

1bl-bn#7/1/2020

Tarian Wali pun secara ketat diselenggarakan dengan proses yang khas, disiplin kerohanian tertentu yang tidak selalu sama di satu dan di tempat yang lain, serta rara Penari (Pragina) yang membutuhkan kematangan jnana dan kedewasaan rohani. Kagama Bali rencananya akan menyampaikan secara langsung rekomendasi detail yang telah dirumuskan kepada pihak MDA dan PHDI . “Kami memandang, keduanya lembaga ini yang sangat tepat untuk merumuskan dari aspek kesakralan dan tradisi di masing-masing desa kita di Bali,” kata Diatmika.

Selain Kagama Bali, lembaga lain yang terlibat dalam penyelenggaran seminar adalah Perkumpulan Among Budaya Capung Mas, DPP Peradah Indonesia Provinsi Bali, Komunitas literasipedia.id dan AMSI Bali. Lembaga-lembaga ini nanti juga berkomitmen untuk membantu proses sosialisasi bila sudah ada rumusan mengenai “Sasana Tarian Rangda”. tim/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close