Ekonomi dan Bisnis

7 Tahun Jadi Merchant BRI, Ayu Windy Tenun Ikat di Bali Siap Mendunia


Buleleng, PancarPOS | Produk industri kreatif, khususnya di dunia fesyen atau fashion yang kian kompetitif, juga memiliki potensi pasar yang cerah dan menjadi unggulan untuk mendulang pundi-pundi penghasilan. Berkat kreativitas dan inovasi dari pelaku ekonomi kreatif saat ini, produk fesyen memiliki kualitas yang bersaing dengan standar internasional serta memiliki keragaman ide, desain, bahan material, hingga local wisdom (kekhasan) yang diusung oleh produk itu sendiri. Terbukti nyata dari kreativitas dan inovasi, serta keuletan para UMKM untuk menghadirkan karya fesyen yang ditandai dengan semakin banyaknya brand-brand yang muncul. Selain memacu penetrasi di pasar domestik, juga tidak sedikit dari pelaku usaha yang sudah mengakarkan bisnisnya mengincar peluang ekspor ke mancanegara. Salah satunya, Ayu Windy Tenun Ikat yang bergerak di bidang bisnis fesyen telah berdiri sejak tahun 2017 menghadirkan kreasikan songket, endek, masker, udeng, kamben, dan lainnya dengan kain tradisional Bali dibentuk menjadi berbagai jenis produk cantik dan indah yang di mulai dari pakaian formal, casual, hingga sporty. Bisnis fesyen berbahan kain tenun endek Bali itu, dikembangkan oleh Putu Ayu Windiani, SH., yang memilih banting setir dari karir awalnya sebagai pegawai kontrak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Klungkung. Meskipun tamatan Sarjana Hukum, namun ternyata jiwa entrepreneurnya jauh lebih besar. Hal tersebut, dibuktikan dengan berani mendirikan usaha sendiri yang diberi nama Ayu Windy Tenun Ikat. Bahkan bisnis butik dan pakaian adat Bali ini, bisa terus berkembangkan dengan berbagai inovasi. Usahanya itu, ternyata tidak terlepas dari upaya dan peran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., atau BRI yang selalu mengucurkan berbagai program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Karena inilah, Ayu Windi sapaan akrabnya itu, dari 7 tahun lalu telah memberanikan dirinya menjadi Merchant BRI, karena terus berkomitmen menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membantu UMKM.

Ayu Windy Tenun Ikat menjadi Merchant BRI, sebagai salah satu upaya yang di lakukan untuk meningkatkan pemasaran dan penjualan produk kain endek khas Bali. (foto: ama)

Ayu Windi menyadari, Bali dikenal sebagai pulau yang kaya akan adat dan budaya serta memiliki banyak warisan leluhur yang patut dilestarikan yang di mulai dari tradisi, makanan, tari-tarian hingga pakaian adat. Salah satu wujud kebudayaan fisik masyarakat Bali ini, yakni busana yang biasa dikenal dengan kain tenun. Kerajinan tenun ikat bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi. Bali sendiri memiliki kain tenun tradisional di setiap daerahnya, salah satu yang banyak dikenal adalah kain endek. Kain tenun ikat atau kain endek ini, pada mulanya merupakan kain untuk busana adat yang hanya dikenakan oleh umat Hindu, pada saat melakukan upacara keagamaan. Tetapi saat ini, penggunaan kain endek semakin meningkat sejak Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, MM., resmi memberlakukan penggunaan pakaian berbahan kain tenun endek Bali, setiap hari Selasa yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2021 tentang Penggunaan Kain Tenun Endek Bali/Kain Tenun Tradisional Bali. Apalagi kain endek memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Bali, karena penggunaannya tidak terbatas pada upacara keagamaan, maupun kegiatan sehari-hari. Bahkan, kain endek mulai diproduksi untuk kepentingan pariwisata, yakni sebagai cinderamata atau buah tangan bagi kalangan pengusaha hingga wisatawan. Wisatawan yang datang berkunjung selain menikmati keindahan alam tentu juga dapat membawa kenangan akan Bali melalui kain endek yang dibelinya. Alhasil penjualan kain endek terus meningkat dan semakin banyak UMKM yang memasarkan produk-produk dari kain endek yang membuat persaingan para UMKM kian ketat. Apalagi saat ini, sangat banyak UMKM yang memasarkan kain endek dan mengkreasikannya menjadi berbagai jenis produk, seperti baju, tas, sandal dan berbagai produk dengan bahan kain endek. Termasuk UMKM yang sedang gencar-gencarnya mengkreasikan kain endek menjadi berbagai produk, adalah Ayu Windy Tenun Ikat di Bali yang siap mendunia.

Untuk mengejar impian tersebut, ia harus memutar otak dari aspek finansial dengan menghitung kebutuhan usaha untuk dana modal kerja. Mengingat aspek finansial ini, akan menentukan sumber dana beserta resiko yang akan ditimbulkan untuk menyulap ide kreatifnya menjadi produk fasyen yang menarik dan digemari oleh berbagai kalangan, terutama generasi milenial. Karena itulah, menjadi Merchant BRI sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan penjualan. Apalagi mayoritas konsumen Ayu Windy Tenun Ikat berasal dari kalangan pemerintah, seperti rumah sakit, PDAM, dan Pemda Buleleng, maupun Pemkot Denpasar yang sudah terbiasa dengan transaksi digital untuk pembayaran non tunai. Bahkan, dengan menjadi Merchant BRI, sebagai penjual dapat menyediakan mesin EDC (Electronic Data Capture), sebagai perangkat yang digunakan untuk mencatat informasi transaksi secara elektronik, serta metode pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang memudahkan proses transaksi pembelian. Selain itu, di era digital saat ini, kemudahan dan kecepatan menjadi kunci utama meraih kesuksesan, termasuk dalam dunia bisnis. Oleh karena itu, Ayu Windi juga melakukan digitalisasi bisnisnya. Dalam hal metode pembayaran, pengadopsian QRIS sudah menjadi hal wajib. Kode QR pembayaran standar yang dikeluarkan Bank Indonesia ini, memungkinkan transaksi menjadi lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya. Manfaat penyediaan metode pembayaran QRIS tersebut, sangat dirasakan oleh Ayu Windi setelah membuka butik pertamanya, Ayu Windy Tenun Ikat yang beralamat di Jalan Bekisar No.1 A Yani Barat, Desa Baktiseraga, Kota Singaraja, Buleleng, Bali. Usai bergabung menjadi Merchant BRI, Ayu Windi yang dibantu oleh 5 pekerja bisa menyediakan metode pembayaran QRIS bagi pelanggannya. “Sebelumnya, saya sering kesulitan dengan uang kembalian, saat transaksi. Hal ini memakan waktu dan membuat saya kurang fokus melayani pelanggan lain,” cerita ibu muda berparas cantik dan mempesona itu.

Ayu Windy Tenun Ikat menjadi Merchant BRI, sebagai salah satu upaya yang di lakukan untuk meningkatkan pemasaran dan penjualan produk kain endek khas Bali. (foto: ama)

Sebenarnya, sistem pembayaran QRIS menjadi jawaban atas berbagai kendala yang dihadapi dalam pembayaran tradisional. Namun, semenjak menyediakan QRIS, semua permasalahan tersebut teratasi, karena para pelanggannya kini dapat melakukan transaksi dengan mudah dan praktis hanya dengan melakukan pemindaian kode QR. “QRIS membantu bisnis saya menjadi lebih efektif dan efisien. Transaksi lebih cepat, antrian berkurang, dan saya bisa fokus memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” papar Ayu Windi dengan penuh semangat, saat ditemui pada Selasa (2/4/2024) di toko butiknya seluas 8×10 meter tersebut. Dikatakan menjadi Merchant BRI, juga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas penjualan para pelaku bisnis yang masih berjualan secara offline, dengan melakukan transisi model bisnis secara online dengan hasil yang lebih menjanjikan dengan penjualan optimal melalui situs web. Apalagi saat di masa pandemi Covid-19 lalu, sangat membantu semangat para pebisnis untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan. Di sisi lain, masa pandemi menjadi tantangan, sekaligus pemicu bagi pelaku industri kreatif untuk berbenah dan tetap kreatif menghasilkan karya yang unggul untuk memenuhi standar internasional. Untungnya BRI sebagai salah satu perbankan berpelat merah berkomitmen mendukung dan meningkatkan transformasi digital merchant binaan BRI. “Dari setiap tahapan produk yang disiapkan oleh BRI cukup banyak. Dari sisi payment sendiri, BRI sudah terkoneksi dengan semua pelaku payment dan kini eranya open banking. Sekarang yang penting adalah edukasi terhadap UMKM. Jadi saya sangat terbantu, karena transaksi dari yang sebelumnya secara tradisional atau offline bisa beralih menjadi transaksi online, dan di sinilah peran BRI membantu kami sebagai merchant binaan memanfaatkan transaksi secara digital melalui program BRI,” ucapnya.

Ayu Windi mengisahkan kesuksesan diraih tidak secara instan, selain perjalanan usahanya juga tidak selalu mulus. Wanita jebolan universitas ternama di Bali ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari riset produk, desain, hingga strategi pemasaran. Namun, dengan tekad kuat dan semangat juang, Ayu Windi berhasil menjadikan brand-nya dikenal luas dengan berbagai inovasi sebagai kuncinya. Terlebih di era pandemi sebelunya, ia harus dituntut untuk berpikir out of the box. Wajar saja semangat berkarya dari Ayu Windi pantas diteladani oleh kaum pengusaha milenial saat ini. Dia, kini sudah menjadi salah satu pengusaha perempuan muda yang sudah punya brand populis bidang endek. Bahkan, Ayu Windi ingin menebarkan kecantikan endek Bali ke seluruh level generasi, tua dan muda. Keinginan terbesarnya saat ini, endek harus mampu membalut tubuh milenial setiap hari. Segudang ide cemerlangnya dalam industri fashion kain tenun khas Bali, yakni endek dan songket berhasil dibuat menjadi busana trendi yang banyak dicintai kaum milenial. Berbagai produk, mulai dari baju kekinian, jaket, gantungan kunci, hingga masker dengan motif endek telah menjadi buah bibir. Capaian tersebut tidak membuatnya berpuas diri, karena inovasi produk harus terus dilakukan. Berkaca dari tantangan usahanya dalam menghadapi dampak ekonomi akibat pandemi di Bali yang sangat menuntut harus berpikir keras, agar tetap bisa bertahan di berbagai keadaan. Terlebih adanya sosial media yang perkembangannnya begitu pesat dan bisa diakses oleh siapa saja, sehingga pihaknya mengajak kaula muda, khususnya di Bali agar tidak berpuas diri dengan keadaaan. Untuk itulah, harus selalu berinovasi dan memanfaatkan teknologi, khususnya media sosial (Medsos) sebagai alat pemasaran, karena akan selalu ada potensi dalam setiap tantangan. “Jadi, tetap semangat dan jangan takut mencoba. Berani mencoba dan manfaatkan kemudahan perkembangan teknologi informasi yang ada untuk mendongkrak daya tarik dari masyarakat untuk membeli produk kita,” pesannya.

Pendiri dan Pemilik Ayu Windy Tenun Ikat, Putu Ayu Windiani., SH., saat pameran produk kain endek di Singaraja belum lama ini. (foto: ist)

Ayu Windi, juga mengaku belajar tentang fesyen secara otodidak dari sejumlah koleganya. Kecintaan terhadap fesyen juga didasari, karena menyukai keindahan kain endek khas Bali. “Saya mulai belajar fesyen ini dengan otodidak dan belajar dari teman sejawat, sasarannya ya menggaet kaum milenial dan mengubah paradigma di masyarakat tentang endek ini, agar bisa dipakai sehari-hari,” terangnya. Keputusan untuk terjun ke dunia bisnis fesyen di usia yang relatif muda menunjukkan Ayu Windi yang kini baru berusia 34 tahun sudah memiliki visi dan tekad yang kuat. Ia tak hanya memiliki bakat dalam desain dan industri fesyen, tetapi juga kemampuan untuk mengelola bisnis sendiri. “Saya tetap komitmen menjaga kualitas dan inovasi dalam desain busana, serta memperlihatkan kebutuhan pelanggan. Dengan semangat dan ketekunan, saya yakin akan mencapai peluang yang lebih besar di dunia fesyen,” ungkapnya. Selain itu, juga banyak tantangan yang harus dihadapi para UMKM, khususnya Ayu Windy Tenun Ikat untuk tetap mampu bertahan di pasaran dengan terus meningkatkan penjualan. Pelaku UMKM harus gencar memperkenalkan produk yang dijual melalui promosi dengan berbagai media, termasuk Instagram, Tiktok, Facebook dan lainnya, agar konsumen semakin mengenal produk yang dijual. “Promosi ini, hal yang sangat penting bagi perusahaan dalam mengkomunikasikan produk kepada konsumen. Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk menonjolkan keistimewaan produk dan membujuk konsumen untuk membeli,” katanya. Selain melakukan promosi yang gencar untuk meyakinkan konsumen membeli suatu produk, pelaku usaha juga harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dari produk yang dijualnya. Selain itu, pelaku UMKM juga perlu menyesuaikan kualitas dari produk yang dijual, agar sesuai dengan harapan konsumen. Kualitas produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk ini, juga memiliki pengaruh penting terhadap keputusan pembelian. “Kualitas produk yang dianggap baik oleh konsumen akan menciptakan keputusan pembelian. Keputusan pembelian ini, akan dilakukan ketika konsumen sudah memilih produk yang sesuai untuk memenuhi kebutuhannya,” tegasnya.

Maka dari itu, Ayu Windy Tenun Ikat selalu gencar melakukan promosi, selain melalui media sosial ataupun dengan mengikuti pameran produk lokal demi mempertahankan eksistensi di kalangan konsumen. Promosi yang gencar serta peningkatan kualitas produk selalu dilakukan oleh Ayu Windi, hingga usahanya dapat bertahan sampai saat ini. Walaupun usahanya sudah semakin maju, tidak membuat Ayu Windi berhenti untuk mempromosikan produk dan berhenti mengkreasikan produk melalui kualitas yang ditawarkan. Oleh karena itulah, Ayu Windy Tenun Ikat selalu berusaha untuk menambah varian produk mengikuti perkembangan jaman, seperti saat masa pandemi meluncurkan produk masker endek satu set dengan bandana endek yang sangat laris di pasaran. Bahkan, semenjak diberlakukannya surat edaran terkait penggunaan kain endek di hari tertentu, juga membuat Ayu Windy Tenun Ikat semakin berkembang dan mulai merambah untuk bekerja sama dengan berbagai instansi, maupun kantor pemerintahan di Kabupaten Buleleng hingga Kota Denpasar. Dibalik kesuksesan dan perkembangan Ayu Windy Tenun Ikat yang semakin pesat, juga tidak dapat dipungkiri di lapangan pasti ada hambatan yang dihadapi, seperti penjualan yang tidak stabil hingga penurunan penjualan. Penurunan penjualan ini, disebabkan karena pesanan dari instansi pemerintahan yang tidak rutin setiap bulannya, dan pameran sebagai wadah untuk promosi juga tidak selalu diselenggarakan setiap bulan, sehingga menyebabkan penjualan di bulan tertentu mengalami penurunan. Selain itu, banyak UMKM yang memasarkan produk dari kain endek yang sama, juga membuat fokus pelanggan terpecah akibat banyaknya pilihan. Namun, berdasarkan omset penjualan Ayu Windy Tenun Ikat sudah tergolong baik, karena beberapa kali mencapai target, hingga melebihi target penjualan. Bahkan dengan ide kreatifnya, ia sudah berhasil meraup omset sampai tembus lebih dari Rp100 juta setiap bulannya, sehingga turut membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitarnya.

Pendiri dan Pemilik Ayu Windy Tenun Ikat, Putu Ayu Windiani., SH., saat menunjukan kain endek bermotif singa. (foto: ama)

Ayu Windi sebagai Pendiri dan Pemilik Ayu Windy Tenun Ikat membeberkan selama ini, pelanggannya terus berdatangan untuk membeli produk yang paling diminati, berupa pakaian endek jadi, terutama pakaian seragam sekolah maupun kantor. Bahkan, ketika butiknya sudah tutup, namun para konsumennya tetap mau datang untuk melakukan pengukuran baju, atau pun memilih pakaian jadi. Selain itu, ia juga sangat bersyukur dengan adanya Pergub Bali tentang busana adat Bali yang dikeluarkan pada masa pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, menyebabkan usahanya sangat tertolong. Bahkan, dari sanalah secara perlahan bisnisnya mulai dikenal, karena inovasi produk dari Ayu Windy Tenun Ikat, dari kain, sampai baju, saput, udeng, sarung bantal hingga tas bisa mengikuti berbagai pameran. Belum lama ini, berkat berbagai inovasinya, juga menjadi pemenang Lomba Desain Endek Koperasi dengan motif premium berbentuk gambar singa, sekaligus sebagai mentor di Kampus Undhiksa, Singaraja, Buleleng, berupa sepatu dan sandal berbahan kain Endek yang saat ini sudah bisa dipesan sesuai dengan permintaan konsumen. “Karena itu, saya juga ucapkan terimakasih banyak kepada Bank BRI Cabang Singaraja yang telah membantu memperlancar usaha saya,” pungkasnya. Sementara itu, berdasarkan pengakuan salah satu pelanggan, Made Sudarmi mengungkapkan menggenal Ayu Windy Tenun Ikat melalui rekomendasi dari teman terdekat, selain membaca langsung melalui berita media online dan Medsos, yaitu Instagram. Hal ini menggambarkan banyak konsumen yang mengetahui keberadaan Ayu Windy Tenun Ikat, karena promosi yang dilakukan, sehingga membuat konsumen tertarik untuk melakukan pembelian di butik Ayu Windy Tenun Ikat. Selaku konsumen, juga melihat kualitas produk dari Ayu Windy Tenun Ikat yang sangat baik dan jahitannya rapi, sehingga konsumen semakin yakin untuk melakukan pembelian. “Saya suka dengan produk endek di Ayu Windy, karena kualitasnya sangat bagus dan hasilnya sesuai dengan harapan saya,” beber pegawai ASN tersebut.

Secara terpisah, Pemimpin Cabang BRI Singaraja, Panji Kurniawan mengungkapkan dunia usaha akan selalu memberikan kemudahan dalam berbagai hal yang menjadi tuntutan masyarakat, tidak terkecuali bagi industri perbankan yang harus terus berinovasi dalam mengembangkan layanannya. Hal tersebut, dilakukan BRI dalam bentuk layanan berbasis digital dengan beragam fitur yang semakin memanjakan nasabahnya, khususnya sebagai Merchant QRIS BRI lewat laman jadimerchant.bri.co.id atau bisa juga kunjungi unit kerja BRI terdekat. “Dengan menjadi Merchant BRI, pelaku UMKM bisa mendapatkan beragam manfaat. Pertama, transaksi lebih efektif dan efisien. Kedua, dapat memantau seluruh transaksi secara detail melalui BRI Merchant. Dengan begitu, pengelolaan keuangan bisa semakin mudah. Dan ketiga, bisa mengikuti berbagai program menarik dari BRI, seperti promo dan cashback, untuk membantu meningkatkan penjualan dan keuntungan usaha,” papar Panji sapaan akrabnya itu, seraya menyebutkan setelah bergabung menjadi Merchant QRIS BRI, maka semua pelaku usaha, seperti halnya Ayu Windy Tenun Ikat bisa memilih dua sistem pembayaran QRIS sesuai kebutuhan usaha. Pertama, Merchant Presented Mode (MPM), yakni jenis QRIS yang disediakan merchant. Pelanggan dapat memindai QRIS tersebut menggunakan ponsel untuk menyelesaikan transaksi. Jenis QRIS ini, cocok untuk berbagai jenis usaha, seperti toko, warung, restoran, dan tempat wisata. Kedua, Customer Presented Mode (CPM) untuk menyelesaikan transaksi, pelanggan hanya perlu menunjukkan kode QRIS aplikasi pembayaran untuk dipindai oleh merchant. Jenis QRIS ini cocok untuk usaha yang memiliki mobilitas tinggi, pedagang kaki lima, dan kurir. “Syarat pendaftaran menjadi Merchant QRIS, BRI juga cukup mudah. Apalagi setiap transaksi di Merchant QRIS BRI tidak dipungut biaya. Jadi, pelanggan bisa berbelanja tanpa khawatir pengeluaran tambahan,” tegasnya.

Kantor BRI Cabang Singaraja siap melayani nasabah, termasuk mengajukan KUR BRI. (foto: ist)

Selain limit transaksi per hari pun cukup besar, yaitu Rp10 juta, transaksi QRIS pun diproses secara real-time dengan menerima pemberitahuan melalui SMS ke nomor ponsel terdaftar. Cut-off transaksi QRIS setiap hari pukul 23.30 WITA sehingga transaksi bisa dilakukan hingga malam hari. “Tunggu apa lagi? Segera bergabung menjadi Merchant QRIS BRI untuk menyediakan sistem pembayaran yang mudah, aman, dan bebas biaya,” terangnya. ama/ksm

Baca Juga :


Back to top button