Bali Pecah Rekor Nasional! Uji AI Jepang Pangkas Anggaran Jalan Hingga Rp37 Miliar per 10 Km

Denpasar, PancarPOS | Bali mencetak tonggak baru dalam pengelolaan infrastruktur nasional. Untuk pertama kalinya di Indonesia, teknologi kecerdasan buatan (AI) asal Jepang diuji secara resmi untuk inspeksi dan pemeliharaan jalan. Hasilnya mengejutkan: potensi efisiensi anggaran perbaikan jalan mencapai sekitar ¥340 juta atau setara ±Rp37 miliar hanya untuk 10 kilometer ruas jalan.
Uji coba ini dipaparkan dalam Workshop Hasil Uji Coba Audin AI yang digelar Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Provinsi Bali bersama NTT Field Techno, bagian dari grup NTT West Japan. Kegiatan tersebut turut dihadiri Fukushima Akiko, Tenaga Ahli Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk Kebijakan Jalan di Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
Tak hanya itu, uji coba ini juga mendapat dukungan subsidi Pemerintah Jepang melalui program “Global South” dari Ministry of Economy, Trade and Industry (METI). Dukungan tersebut menegaskan bahwa implementasi Audin AI di Bali merupakan bagian dari kolaborasi strategis Indonesia–Jepang dalam modernisasi infrastruktur dan transfer teknologi berkelanjutan.
Teknologi Audin AI bekerja dengan menganalisis citra jalan melalui kamera yang dipasang pada kendaraan. Sistem ini mampu mendeteksi retakan, tambalan, dan lubang jalan secara otomatis dan kuantitatif. Metode ini menggantikan inspeksi visual manual yang selama ini memerlukan waktu panjang, berpotensi subjektif, dan rawan perbedaan interpretasi antarpetugas di lapangan.
Hasil uji coba pada dua ruas jalan di Kabupaten Gianyar dengan total panjang sekitar 10 kilometer menunjukkan perubahan drastis dalam efisiensi kerja. Waktu analisis dapat ditekan hingga sekitar 95 persen dibanding metode konvensional. Selain itu, tingkat presisi identifikasi kerusakan meningkat signifikan, sehingga mengurangi risiko overestimasi luas kerusakan yang selama ini berpotensi membebani anggaran daerah.
Simulasi perhitungan biaya menunjukkan potensi efisiensi yang sangat besar. Dengan data kerusakan yang lebih akurat dan terukur, perencanaan perbaikan menjadi lebih tepat sasaran. Dalam konteks tekanan fiskal daerah dan meningkatnya kebutuhan pemeliharaan jalan, angka penghematan hingga Rp37 miliar per 10 kilometer menjadi sinyal kuat bahwa digitalisasi infrastruktur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Perwakilan NTT Field Techno, Fujiwara Tomotaka selaku Direktur Departemen Desain Jaringan, menegaskan bahwa tantangan infrastruktur menua dan keterbatasan anggaran juga dihadapi Jepang. Menurutnya, pengalaman Jepang dalam memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dapat diadaptasi di Indonesia. Melalui Audin AI, pemerintah daerah tidak hanya meningkatkan akurasi inspeksi, tetapi juga menekan biaya operasional dan mempercepat proses pengambilan keputusan berbasis data.
Ia juga menyebut bahwa platform data jalan berbasis AI ini membuka peluang integrasi ke arah konsep smart city, mendukung pengembangan kendaraan otonom, serta meningkatkan kualitas layanan publik secara menyeluruh. Artinya, manfaat teknologi ini tidak berhenti pada efisiensi anggaran, tetapi juga membangun fondasi sistem transportasi masa depan.
Sekretaris Umum DPP HPJI, Ir. Heddy Rohandi Agah, M.Eng, menyatakan bahwa transformasi berbasis data merupakan momentum penting bagi sistem pengelolaan jalan nasional. Dengan kondisi fiskal yang semakin ketat, akurasi perencanaan menjadi kunci utama. Teknologi seperti Audin AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketepatan penggunaan anggaran, sekaligus memperkuat akuntabilitas publik.
Sementara itu, Ketua DPD HPJI Bali, Dr. Ir. I Gde Wayan Samsi Gunarta, M.Appl.Sc, menegaskan bahwa Bali sebagai destinasi internasional harus menjaga kualitas infrastrukturnya secara konsisten. Ia menekankan bahwa setiap rupiah anggaran pemeliharaan jalan harus digunakan secara tepat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan pendekatan berbasis AI, objektivitas penilaian kerusakan meningkat dan perencanaan menjadi lebih rasional.
Dukungan JICA dan subsidi METI melalui program Global South memperlihatkan bahwa proyek ini bukan sekadar uji teknologi, melainkan bagian dari kolaborasi strategis Indonesia–Jepang dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan inspeksi yang lebih cepat dan objektif, anggaran yang lebih terkendali, serta perbaikan yang lebih tepat sasaran, Bali kini membuka jalan menuju model pengelolaan infrastruktur berbasis kecerdasan buatan.
Jika hasil evaluasi lanjutan menunjukkan konsistensi efisiensi dan akurasi, bukan tidak mungkin model ini direplikasi di berbagai provinsi lain di Indonesia. Bali telah memulai langkah awal menuju sistem jalan nasional yang lebih modern, transparan, dan berbasis data. Sebuah terobosan yang berpotensi mengubah cara negara mengelola infrastruktur publiknya di era digital. ama/ksm














